Selasa, 28 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 29 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 29 Juni 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“PELAJARAN DARI KISAH IKAN”

”Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?’ Jawab Petrus: ‘Dari orang asing!’ Maka kata Yesus kepadanya: ‘Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambilah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga”’ (Matius 17 :25-27).

Satu contoh lain ketikdaksiapan para murid adalah episode pajak Bait Allah. Kejadian itu merupakan suatu upaya para pemimpin Yahudi untuk menjebak Yesus dengan menciptakan suatu situasi di mana jawaban apa pun terhadap pertanyaan mereka akan menjadi masalah.

Pertanyaan “Apakah gurumu membayar payak?” membuat Petrus terperanjat karena dia tidak siap. Jawaban negatif akan memberi dalih untuk menuduh Yesus telah menolak kebaktian di Bait Allah. Petrus, yang ingin menghindari meruncingnya persoalan itu, dengan cepat menjawab bahwa Yesus akan membayar pajak yang dimaksudkan.

Tetapi jawaban yang terburu-buru itu hanya menyebabkan Petrus (dan Yesus) dihadapkan dilema tajam lainnya. Para iman dan yang semata-mata hanya mengabdi dan berbakti kepada Allah dapat diberikan pengecualian membayar. Maka, Petrus secara tidak langsung menegaskan ketidakbenaran Yesus sebagai nabi dan guru di Israel. Dengan demikian rasul yang hanya beberapa waktu sebelumnya menyatakan bahwa Yesus sebagai nabi dan dan guru di Israel. Dengan demikian rasul yang hanya beberapa waktu sebelumnya menyatakan bahwa Yesus adalah Putra Allah dan Mesias, sekarang terperosok oleh kata-katanya sendiri dan justru membenarkan konsep mengenai Yesus yang dikemukakan oleh para pemimpin Yahudi.

Yesus melakukan yang terbaik untuk menetralkan situasi itu, memberitahu Petrus bahwa Dia dikecualikan, namun harus membayar dengan menangkap seekor ikan yang memiliki sejumlah uang yang cocok di dalam mulutnya.

Pada pandangan pertama mukjizat itu agak tidak sesuai dengan apa yang kita baca dalam kitab Injil dan lebih sesuai dengan keajaiban-keajaiban eksotis dari injil-injil yang diragukan kebenarannya. Tetapi kalau kita merenungkannya sejenak, maka kita dapat melihat bahwa mukjizat ikan itu dengan sejumlah uang yang justru dibutuhkan Yesus pada saat itu. Yang pertama nyata di sini adalah bahwa kejadian tersebut secara tegas membuktikan kepada Petrus status Yesus sesungguhnya. Kedua, hampir mustahil untuk percaya bahwa murid itu berdiam tentang bagaimana mereka memperoleh uang tersebut. Ketiga, meskipun di luar Yesus untuk menaati, namun secara teknis itu bukan uang-Nya untuk membayar pajak. Dengan demikian keajaiban itu menghapus kerumitan persoalan.

Bagian yang tidak diperhatikan di dalam kejadian ini adalah bahwa Yesus berbuat demikian supaya tidak menyinggung perasaan. Pelajaran yang harus kita tangkap adalah bahwa Dia siap saat mencegah pertentangan yang tidak berguna. Betapa gereja akan menjadi tempat yang lebih baik andai semua murid mengikuti Dia dalam kebiasaan mencegah pertentangan yang tidak perlu.


Renungan Pagi Advent: Rabu, 29 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 29 Juni 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“PELAJARAN DARI KISAH IKAN”

”Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?’ Jawab Petrus: ‘Dari orang asing!’ Maka kata Yesus kepadanya: ‘Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambilah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga”’ (Matius 17 :25-27).

Satu contoh lain ketikdaksiapan para murid adalah episode pajak Bait Allah. Kejadian itu merupakan suatu upaya para pemimpin Yahudi untuk menjebak Yesus dengan menciptakan suatu situasi di mana jawaban apa pun terhadap pertanyaan mereka akan menjadi masalah.

Pertanyaan “Apakah gurumu membayar payak?” membuat Petrus terperanjat karena dia tidak siap. Jawaban negatif akan memberi dalih untuk menuduh Yesus telah menolak kebaktian di Bait Allah. Petrus, yang ingin menghindari meruncingnya persoalan itu, dengan cepat menjawab bahwa Yesus akan membayar pajak yang dimaksudkan.

Tetapi jawaban yang terburu-buru itu hanya menyebabkan Petrus (dan Yesus) dihadapkan dilema tajam lainnya. Para iman dan yang semata-mata hanya mengabdi dan berbakti kepada Allah dapat diberikan pengecualian membayar. Maka, Petrus secara tidak langsung menegaskan ketidakbenaran Yesus sebagai nabi dan guru di Israel. Dengan demikian rasul yang hanya beberapa waktu sebelumnya menyatakan bahwa Yesus sebagai nabi dan dan guru di Israel. Dengan demikian rasul yang hanya beberapa waktu sebelumnya menyatakan bahwa Yesus adalah Putra Allah dan Mesias, sekarang terperosok oleh kata-katanya sendiri dan justru membenarkan konsep mengenai Yesus yang dikemukakan oleh para pemimpin Yahudi.

Yesus melakukan yang terbaik untuk menetralkan situasi itu, memberitahu Petrus bahwa Dia dikecualikan, namun harus membayar dengan menangkap seekor ikan yang memiliki sejumlah uang yang cocok di dalam mulutnya.

Pada pandangan pertama mukjizat itu agak tidak sesuai dengan apa yang kita baca dalam kitab Injil dan lebih sesuai dengan keajaiban-keajaiban eksotis dari injil-injil yang diragukan kebenarannya. Tetapi kalau kita merenungkannya sejenak, maka kita dapat melihat bahwa mukjizat ikan itu dengan sejumlah uang yang justru dibutuhkan Yesus pada saat itu. Yang pertama nyata di sini adalah bahwa kejadian tersebut secara tegas membuktikan kepada Petrus status Yesus sesungguhnya. Kedua, hampir mustahil untuk percaya bahwa murid itu berdiam tentang bagaimana mereka memperoleh uang tersebut. Ketiga, meskipun di luar Yesus untuk menaati, namun secara teknis itu bukan uang-Nya untuk membayar pajak. Dengan demikian keajaiban itu menghapus kerumitan persoalan.

Bagian yang tidak diperhatikan di dalam kejadian ini adalah bahwa Yesus berbuat demikian supaya tidak menyinggung perasaan. Pelajaran yang harus kita tangkap adalah bahwa Dia siap saat mencegah pertentangan yang tidak berguna. Betapa gereja akan menjadi tempat yang lebih baik andai semua murid mengikuti Dia dalam kebiasaan mencegah pertentangan yang tidak perlu.


Jumat, 24 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Minggu 26 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Minggu 26 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“ARTI PEMURIDAN (BAGIAN 3)”

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:25,26).

Kita sudah menghabiskan waktu cukup banyak untuk mempelajari Matius 16:13-26. Selama 10 hari kita merenungkan ayat-ayat ini. Dan beralasan sekali. Menyediakan satu titik untuk perputaran peristiwa dalam kisah Injil. Sampai titik tersebut kita memusatkan perhatian mengenai siapa Yesus itu. Setelah itu penekanannya bergeser kepada apa saja yang dimaksudkan tentang Keallahan.

Dan pusat dari arti itu adalah dua salib-milik Kristus dan milik kita. Ajaran mengenai kedua salib itu mencakup inti dari arti Kristen, mengenai Kemesiasan dan pemuridan.

Untuk lebih mengerti ajaran Yesus yang berhubungan dengan salib saya, saya harus mengingat bahwa dosa, dalam pengertian saling mendasar, adalah meletakkan diri dan kehendak saya, dan bukan Allah dan kehendak-Nya-di pusat kehidupan saya. Dosa adalah pemberontakkan terhadap Dia dalam arti bahwa saya memilih menjadi penguasa kehidupan saya sendiri dengan berkata “Tidak” kepada Allah dan “Ya” kepada diri sendiri.

Prinsip kehidupan yang berpusat pada diri sendiri ini adalah merupakan hal yang alami bagi semua manusia yang seharusnya mati. Maka Dietrich Bonhoffer berbicara dalam hati mengenai apa artinya menjadi umat Kristen ketika dia menulis bahwa “ketika Kristus memanggil seseorang, dia memohonnya datang dan mati.”

Yesus menunjuk kepada masalah inti manusia ketika Dia menyatakan bahwa “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Dasar dari in adalah: Siapa yang akan saya tempatkan di atas kehidupan saya? Diri saya sendiri atau Allah? Saya tidak dapat mengabdi kepada keduanya pada saat bersama. Apabila saya berhadapan dengan tuntutan Kristus, saya harus menyalibkan Dia atau membiarkan dia menyalibkan diri saya. Tidak ada jalan tengah.

Dalam konteks tersebut maka kehilangan nyawa atau memerolehnya, dan memeroleh seluruh dunia atau kehilangan seluruh dunia, mempunyai arti tersendiri. Apakah yang saya perlu tanyakan kepada diri saya sendiri tentang berapa harga saya? Di bidang apakah dan di tahap apakah saya bersedia menjual jiwa-raga saya dan menukarnya dengan harta dunia? Apakah karena popularitas, uang, prestise, “cinta,” “kemenangan,” atau sesuatu yang lain? Pada akhirnya ialah bahwa semua itu tidak membuat sesuatu perbedaan, karena saya masih tersangkut pada pilihan yang tidak mau beranjak pergi. Keputusannya selalu adalah antara memilih sesuatu atau Yesus.


Renungan Pagi Advent: Sabat, 25 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Sabat, 25 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“ARTI PEMURIDAN (BAGIAN 2)”

“Jika ada orang ingin mengikuti-Ku, dia harus menyangkali semua hak dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku” (Markus 8:34, versi Philips).

Kata kedua yang sulit dalam penggambaran Yesus mengenai pemuridan adalah “salib.” Berita buruk bagi Petrus dan para murid lainnya (termasuk kita) adalah bahwa salib Yesus bukan satu-satunya, dia meneruskan dengan mengatakan bahwa  tiap pengikutnya pria maupun wanita akan mempunyai salibnya sendiri.

Supaya dapat sepenuhnya mengerti pernyataan bahwa tiap orang harus memikul salib, kita perlu menempatkan diri kita di tempat para murid mula-mula itu. Gambaran tentang salib atau disalib tidak menggetarkan daya khayal abad kedua puluh satu kita. Bagi kita, “penyaliban”adalah sebuah kata yang telah kehilangan arti. Tetapi bukan begitu keadaannya dengan para murid. Mereka tahu bahwa memikul salib adalah melangkah sekali jalan menuju suatu tempat yaitu kematian.

Dengan pengertian tersebut maka kata “menyangkal” dan kata “salib” saling menyilang. Salib, seperti konsep penyangkalan atas diri sendiri, telah diremehkan oleh komunitas Kristen. Bagi beberapa orang, memikul salib adalah memakainya sebagai hiasan di leher. Bagi orang lain itu berarti bertahan dan bersabar dengan ketidaknyamanan atau hambatan dalam kehidupan, seperti suami yang menggerutu terus-menerus atau istri yang ceroboh, atau bahkan menyandang cacat fisik.

Di dalam pikiran Yesus tidak terdapat karikatur pemikul salib seperti itu. Dia berbicara tentang salib sebagai suatu alat kematian bukan fisik bagi sebagian besar pendengar-Nya, tetapi mengenai penyaliban diri, menyangkal inti dari kehidupan kita dan kesetiaan utama kita kepada diri sendiri. Ellen White mengemukakan bahwa “peperangan melawan diri sendiri adalah tempuran paling besar yang pernah digelar” (Steps to Chirst,hlm. 43). Dan James Denney menekankan bahwa “walau dosa kemungkinan secara alami lahir tetapi matinya tidak alami; dalam tiap kasus doa harus divonis secraa moral dan dibunuh.” Menjatuhkan vonis itu adalah perbuatan kemauan di bawah dorongan hati oleh Roh Kudus. Yesus dan Paulus berulang kali mengacu kepada hal tersebut sebagai suatu penyaliban.


Paulus sangat jelas mengenai topik tersebut dalam Roma 6, di mana dia menggambarkan menjadi seorang Kristen adalah suatu penyaliban “manusia lama” (ayat 6) dan suatu kebangkitan kepada cara hibup baru dengan pusat yang baru-Yesus dan kehendak-Nya. Kematian itu yang mutlak di dalam perintah-Nya untuk menyangkal diri sendiri dan memikul salib diri sendiri. Paulus menekankan bahwa pembaptisan selam adalah lambang yang sempurna dari kematian rohaniah dan kebangkitan ke sebuah hidup baru yang berpusat pada Allah (ayat 1-11).


Rabu, 22 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 23 Juni 2016



Renungan Pagi Advent: Kamis, 23 Juni 2016
“HINDARI MENJADI PETRUS”
“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak olah tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini diatakan-Nya dengan terus terang, Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya ia memarahi Petrus, katany-Nya: Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirikan manusia” (Markus 8:31-33).
Kesombongan Petrus ditegur dengan telak di hadapanya. Dia cukup bersungguh-sungguh, tetapi dia telah menyinggung bagian paling peka dalam diri Yesus. Kerasnya teguran-Nya kepada Petrus menunjukkan betapa penting kayu salib itu bagi pelayanan-Nya dan keutuhan untuk mendidik para pemimpin masa depan pada pemusatan gereja-Nya.
Pencobaan itu bukan saja datang, tetapi pencobaan itu keluar dari mulut seorang teman. Itulah kenyataan menyedihkan dari kehidupan bahwa Iblis dapat menggunakan para pengikut Yesus—bahkan para pendeta-Nya—untuk melakukan pekerjaannya sendiri.
Sebagai umat Kristen kita bukan saja berpotensi mengkhianati Yesus, teta-pi juga terhadap satu sama lain. Kita juga bisa membimbing sesama umat Kristen ke arah yang salah dan mengecilkan hati mereka untuk melaksanakan kehendak Allah dengan menasehati mereka agar menghindari semua bahaya terhadap diri mereka dan ketidaknyamanan kita. Supaya tanpa kita sadari kita tidak memainkan peran Iblis, kita perlu lebih waspada daripada Petrus.
Pengalaman Petrus mengajarkan kita pelajaran-pelajaran lain. Salah satunya adalah bahwa kita sebagai umat Kristen merupakan kumpulan yang beragam. Pada satu ketika saya bisa memiliki pengertian mendalam, lalu di kesempatan lain saya bisa menjadi alat Iblis. Dalam keadaan paling baik, kita adalah makhluk-makhluk yang mudah membuat kekeliruan karena kita sebagian dikendalikan pengetahuan dan sebagian karena kita tidak tahu apa-apa. Kita semua menginjakkan satu kaki di dalam kerajaan. Kita sudah diselamatkan dalam pengertian bahwa kita telah menerima Yesus, tetapi kenyataan yang jelas bahwa Dia masih harus banyak melakukan bagian dalam diri kita.
Satu pelajaran lain bahwa kita perlu berhati-hati untuk tidak membuang orang karena kedunguan dan kesalahan-kesalahan mereka. Yesus di hari-hari dan minggu-minggu mendatang akan memperagakan kesabaran yang hampir tiada batas dalam bekerja dengan para murid-Nya yang selalu menyimpang dan berbuat salah. Seorang penulis mengemukakan bahwa “bukan saja suatu kebodohan yang massif mencegah mereka dari mengerti,” tetapi mereka berhasil berperilaku seperti itu sampai setelah Kebangkitan. Tetapi, Yesus, tidak meninggalkan mereka sebagai suatu usaha yang sia-sia. Juruselamat kita telah mulai mengajar mereka mengenai arti menjadi Kristus. Sebagaimana Dia tidak jera dan tetap mendampingi mereka, begitu juga Dia tidak akan jera dan akan tetap mendampingi saya. Dan saya juga tidak boleh meninggalkan Anda, tetapi tetap mendampingi.

Selasa, 21 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 22 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 22 Juni 2016  

“KRISTUS YANG BERGUMUL”

“Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’ Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ‘Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”’ (Matius 16:22,23).

Kejatuhan yang bukan main-main! Dari yang menjadi inspirasi Allah dalam ayat 17 sampai menjadi Iblis dalam ayat 23.
Petrus boleh saja secara benar mengidentifikasi Yesus sebagai Allah, tetapi dia sedikit pun tidak tahu menahu apa yang tercakup di dalamnya. Dengan begitu, program pendidikan yang berat yang dimulai Yesus dalam ayat 21 bersambung sampai dengan kematian-Nya di Kalvari.

Tetapi mengapa mendapat teguran sekeras itu? Karena Petrus sudah merampas kuasa dan peran Iblis yang sebelumnya mencobai-Nya di padang gurun. Mereka berdua telah menyarankan bahwa Yesus dapat memenuhi misi-Nya tanpa kematian-Nya di atas kayu salib. Dan kepada mereka berdua Yesus berseru, “Enyalah Iblis!” (Mrk. 8:33).

Kita kehilangan maknanya jika kita membayangkan bahwa Yesus ,mengira Petrus itu Iblis. Sebaliknya, Dia melihat Iblis berbicara melalui murid utama-Nya. Petrus sedang memainkan peran si penggoda. Dan pencobaan itu adalah pencobaan utama di dalam kehidupan Yesus. Sesunggunya, Dia tanpa diragukan menyadari bahwa memikirkan kematian-Nya yang akan dating merupakan sesuatu yang tak disukai daripada yang dirasakan Petrus.

Yesus telah melihat berbagai “penyaliban” dalam perjalanan-Nya, dan sebagai manusia yang normal, dia sama sekali tidak menginginkan keluar dari dunia ini melalui kematian yang menyakitkan di kayu salib. Dia tentu akan berpendapat bahwa lebih mudah menjadi Mesias yang bergerak di ajang politik bangsa Yahudi dan yang diharapkan para murid.

Tetapi lebih penting lagi, Dia sama sekali tidak ingin penghakiman dunia dengan menjadikan dosa bagi seluruh umat manusia di dalam pengorbanan di Kalvari (Yoh. 12:31-33; 2 Kor. 5:21). Memikirkan perpisahan dari Allah saja sementara memikul dosa-dosa dunia di atas kayu salib sudah sangat membuat-Nya mengerikan.

Godaan untuk melakukan kehendak-Nya dengan menghidari salib adalah pencobaan terbesar dalam kehidupan Yesus. Dia telah me-ngalahkannya setelah member makan 5.000 orang ketika mencoba menjadikan Dia raja, Dia akan menghadapinya lagi di Getsemani, di mana Dia akan berulang kali berdoa, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat. 26:42).

Sama halnya. Kita terlalu sering menggambarkan Yesus seakan-akan Dia adalah di atas masalah sehari-hari yang kita hadapi. Tidak demikian! Dia juga bergumul melalui kehidupan ini selangkah. Dan Dia harus melakukannya agar dapat bertelut dan luput. Begitu juga saya.


Minggu, 19 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 20 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 20 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Arti Kemesiasan”

“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,  lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Matius 16:21).

Sekarang sudah jelas bahwa Israel sebagai suatu bangsa tidak akan menerima Yesus sebagai Mesias. Maka itulah menjadi tugas besar untuk dicapai Yesus: mempersiapkan para murid-Nya untuk kematian-Nya. Matius 16:21 adalah pengumuman khusus yang pertama mengenai fakta tersebut. Kita harus menyadari setiap detailnya. Dia

1.      1 “harus pergi ke Yerusalem,”
2.       2 “menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam,”
3.          “dibunuh,”
4.       3.“dan pada hari ketiga dibangkitkan.”

Bukan berarti bahwa Dia sebelumnya tidak pernah menyinggung kepada beberapa orang mengenai kejadian-kejadian tersebut. Tetapi sekarang sudah waktunya untuk berbicara dengan terus terang. Dengan demikianlah pentingnya arti frasa “Yesus mulai” pada ayat hari ini. Dia harus mengajarkan perkara-perkara tersebut secara terbuka dan terus terang

Dan mengapa kita perlu menanyakan, apakah Yesus memilih saat tepat ini untuk membentangkan ajaran-ajaran yang pentng seperti itu?  Karena pengakuan Petrus bahwa Dia adalah Allah, menunjukkan bahwa telah mendapatkan pencerahan dan wawasannya mulai meluas. Mereka sekarang mengetahui siapa Yesus sebenarnya. Tetapi  adalah satu hal bagi mereka untuk mengaku bahwa siapa Yesus adalah Mesias, merupakan hal yang sama sekali lain bagi mereka untuk mengerti sifat Kemesiasan-Nya. Visi kemuliaan dan kemenangan ada di dalam pikiran para murid, tetapi Yesus mengetahui bahwa Dia akan berakhir dengan kematian dan penolakan. Sementara Dia melihat kuasa-kuasa keagamaan bersekutu untuk menjatuhkan-Nya Dia menyadari bahwa sesuatu yang penting untuk disampaikan kepada para pengikut-Nya mengenai kenyataan yang sebenarnya dari misi-Nya.

Mengapa kebutuhan ini begitu mendesak? Tanpa pengetahuan dari kematian-Nya yang akan terjadi, hal tersebut akan menghancurkan iman mereka. Dan bahkan dengan pengetahuan iman itu mereka dengan mudah dapat tersapu bersih. Tetapi Dia sudah memberitahukan kepada mereka sebelum hal seperti itu terjadi, supaya apabila benar-benar terjadi mereka boleh percaya (Yoh. 13:19).
  
Sebelumnnya, Yesus tidak memberi informasi hal tersebut. Andaikan Dia melakukannya, karena pandangan umum orang Yahudi mengenai Mesias adalah seperti raja, para murid akan menolak Dia secara langsung. Mereka tidak akan percaya, karena sejauh berkaitan dengan Yesus, mereka bahkan tidak mengetahui apa artinya Kemesiasan. Tetapi sekarang, karena mereka mengetahui siapa Dia, Dia dapat menerangkan kepada mereka apa misi-Nya.