Renungan
Pagi Advent: Rabu, 29 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“PELAJARAN
DARI KISAH IKAN”
”Apakah
pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak?
Dari rakyatnya atau dari orang asing?’ Jawab Petrus: ‘Dari orang asing!’ Maka
kata Yesus kepadanya: ‘Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita
menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan
pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan
menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambilah itu dan bayarkanlah
kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga”’ (Matius 17 :25-27).
Satu
contoh lain ketikdaksiapan para murid adalah episode pajak Bait Allah. Kejadian
itu merupakan suatu upaya para pemimpin Yahudi untuk menjebak Yesus dengan
menciptakan suatu situasi di mana jawaban apa pun terhadap pertanyaan mereka
akan menjadi masalah.
Pertanyaan
“Apakah gurumu membayar payak?” membuat Petrus terperanjat karena dia tidak
siap. Jawaban negatif akan memberi dalih untuk menuduh Yesus telah menolak
kebaktian di Bait Allah. Petrus, yang ingin menghindari meruncingnya persoalan
itu, dengan cepat menjawab bahwa Yesus akan membayar pajak yang dimaksudkan.
Tetapi
jawaban yang terburu-buru itu hanya menyebabkan Petrus (dan Yesus) dihadapkan
dilema tajam lainnya. Para iman dan yang semata-mata hanya mengabdi dan
berbakti kepada Allah dapat diberikan pengecualian membayar. Maka, Petrus
secara tidak langsung menegaskan ketidakbenaran Yesus sebagai nabi dan guru di
Israel. Dengan demikian rasul yang hanya beberapa waktu sebelumnya menyatakan
bahwa Yesus sebagai nabi dan dan guru di Israel. Dengan demikian rasul yang
hanya beberapa waktu sebelumnya menyatakan bahwa Yesus adalah Putra Allah dan
Mesias, sekarang terperosok oleh kata-katanya sendiri dan justru membenarkan
konsep mengenai Yesus yang dikemukakan oleh para pemimpin Yahudi.
Yesus
melakukan yang terbaik untuk menetralkan situasi itu, memberitahu Petrus bahwa
Dia dikecualikan, namun harus membayar dengan menangkap seekor ikan yang
memiliki sejumlah uang yang cocok di dalam mulutnya.
Pada
pandangan pertama mukjizat itu agak tidak sesuai dengan apa yang kita baca
dalam kitab Injil dan lebih sesuai dengan keajaiban-keajaiban eksotis dari
injil-injil yang diragukan kebenarannya. Tetapi kalau kita merenungkannya
sejenak, maka kita dapat melihat bahwa mukjizat ikan itu dengan sejumlah uang
yang justru dibutuhkan Yesus pada saat itu. Yang pertama nyata di sini adalah
bahwa kejadian tersebut secara tegas membuktikan kepada Petrus status Yesus
sesungguhnya. Kedua, hampir mustahil untuk percaya bahwa murid itu berdiam
tentang bagaimana mereka memperoleh uang tersebut. Ketiga, meskipun di luar
Yesus untuk menaati, namun secara teknis itu bukan uang-Nya untuk membayar
pajak. Dengan demikian keajaiban itu menghapus kerumitan persoalan.
Bagian
yang tidak diperhatikan di dalam kejadian ini adalah bahwa Yesus berbuat
demikian supaya tidak menyinggung perasaan. Pelajaran yang harus kita tangkap
adalah bahwa Dia siap saat mencegah pertentangan yang tidak berguna. Betapa
gereja akan menjadi tempat yang lebih baik andai semua murid mengikuti Dia dalam
kebiasaan mencegah pertentangan yang tidak perlu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar