Jumat, 12 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent : 13 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent : 13 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PELAJARAN LAIN  TENTANG  KEDATANGAN  KEDUA  KALI”

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan pada waktu itu pun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit” (Markus 13:26-27).

Kuasa-kuasa dan peringatan-peringatan Yesus di Matius 24:1-41 banyak dan berharga. Michael Green meringkas pelajaran-pelajaran dalam perikop itu dengan cara membantu kita untuk mengerti.

Pertama, dia catat, kembalinya Kristus adalah secara pribadi maupun pasti.

Kedua, sejarah akan bergejolak. Bukan tanpa makna atau serampangan. Juga bukan suatu putaran waktu tanpa akhir.  “Akan ada akhir yang nyata sebagaimana akan ada awal yang nyata. Dan pada akhirnya kita akan menemukan bukan siapa-siapa kecuali Yesus Kristus.”

Ketiga, kembalinya Kristus menunjukkan kepada kemenangan yang baik atas yang jahat, kemenangan tujuan Allah atas pemberontakkan manusia dan alam semesta.

Keempat, kembalinya berarti akan ada pemulihan. “Akan ada ciptaan baru, surga dunia yang baru, di mana hanya kebaikan saja yang tinggal” (lihat 2 Ptr. 3:11-13; Why. 21:1-5).

Kelima, kembalinya Yesus menunjuk kepada penghakiman dan pemisahan. Beberapa akan di bawa dan beberapa ditinggalkan (Mat. 24:40, 41). Itu merupakan saat ketika rahasia pikiran dari hati dan tabiat paling terpendam akan diketahui semua orang.

Keenam, kembalinya Kristus adalah peristiwa yang pasti. Menandakan akhir zaman, peristiwa itu akan mengantar masuk kepada kepenuhan kerajaan, waktu untuk pertobatan dan perubahan akan berlalu selamanya.

Ketujuh, kembalinya akan tiba-tiba dan tidak diharapkan seperti terpancarnya kilat dilangit (ayat 27). “Sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat.”

Terakhir, kembalinya Yesus akan terjadi pada saat yang hanya diketahui Allah Bapa (ayat 36). Para pengkhotbah tidak mengetahui waktunya, juga para murid. Bahkan Yesus dalam keadaan penjelmaan-Nya tidak mengetahui. Allah dalam kebijaksanaan-Nya menyadari saat terbaik untuk mengakhiri  sejarah bumi. Sementara itu, umat Kristen harus setia menghadapi penderitaan dan kesengsaraan (ayat 13) dan berjaga sementara mereka menunggu kembalinya Juruselamat mereka (ayat 42).

Kepada topik berjaga dan kesiapan inilah Yesus kembali dalam bagian kedua khotbah besar-Nya tentang kedatangan kedua-Nya. Dia membicarakan bagaimana para pengikut-Nya seharusnya menjalani hidup sambil menunggu kedatangan-Nya kembali yang pasti.

Dan dengan pergeseran penekanan itu kita harus “memasang telinga,” ketika Tuhan memberi kepada kita pengetahuan yang berharga yang kita sangat butuhkan sewaktu kita melakukan perjalanan menuju akhir zaman.


Kamis, 11 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 12 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 12 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PELAJARAN DARI POHON ARA”

“Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu,bahwa musim panas sudah dekat, sudah di ambang pintu…. Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian halnya pula kelak pada kedatangan Anak Manusia…. Mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua” (Matius 24:32-39).

Dalam Matius 24:32-36, Yesus memberikan kita dua kebenaran besar mengenai pengetahuan manusia tentang Kedatangan Kedua Kali. Yang  pertama adalah pelajaran dari pohon ara – sejenis pohon golongan kecil di Palestina di abad pertama yang gugur daun-daunnya di musim dingin. Sebagaimana munculnya daun-daun baru menunjukkan bahwa musim panas tiba, begitu pula umat Kristen yang peka dapat memberitahu kapan munculnya Kristus yang sudah dekat (ayat 33). Sebaliknya, mereka tidak pernah tahu waktunya yang tepat (ayat 36).

Yesus  selanjutnya memberi  ilustrasi  tentang Nuh. Sebagaimana orang-orang “makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,” begitu juga halnya dengan kedatangan Anak Manusia (ayat 38).

Sebagian besar keterangan ayat ini secara tidak langsung menunjukkan tanda Nuh sebagai kejahatan besar di dunia, tetapi itu mungkin bukan satu-satunya interprestasi. Pengertian kejahatan yang besar berhubungan dengan Kejadian 6:5, yang menyatakan bahwa di zaman Nuh, TUHAN melihat, “bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecendrungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Tetapi, perhatikan, bahwa Kejadian 6:5, yang menyatakan sudut pandang Allah.

Matius 24:37-39 juga dapat dibaca sebagai sudut pandang manusia. Melalui sudut pandang itu, teks tersebut sekedar mengatakan bahwa kehidupan di zaman akhir akan bergulir  seperti biasa di mata sebagian besar orang. Bagaimananpun, makan dan minum dan kawin adalah kegiatan-kegiatan moral. Hanya berlebihannya pada zaman Nuh dan akan terjadi secara berlebihan tidak sebelum Kedatangan Ke-dua yang  menjadikannya hal-hal tersebut kacau-balau. Tetapi kebanyakan orang, termasuk banyak dari mereka di dalam gereja, tanpa ragu akan memusatkan pada kenyataan bahwa kehidupan tampaknya berjalan seperti biasa-biasa saja sampai “kejutan besar.” Mereka tidak melihat apa-apa yang luar biasa.

Interprestasi itu berhubungan dengan ayat yang membandingkan Kedatangan Kedua Kali sebagai kedatangan seorang pencuri (misalnya 1 Tes. 5:2). Itu pun selaras dengan Matius 24:40-41, yang mengindikasikan tiba-tibanya perpisahan antara yang diselamatkan dan yang tidak diselamatkan.


Tuhan, berikan saya mata untuk melihat pohon-pohon ara dan kejadian-kejadian di bumi melalui sudut pandang-Mu.

Rabu, 10 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 11 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 11 Agustus 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“TANDA  YERUSALEM (BAGIAN 2)”

“Apabila kamu melihat Yerusalem di kepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis…. Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” (Lukas 21: 20-24).

Kemarin kita mulai menjelajahi peringatan-peringatan yang berupa ramalan dari Yesus yang memungkinkan para pengikut-Nya lolos dari kehancuran kota Yerusalem. Jalannya kejadian-kejadian itu sendiri memungkinkan umat Kristen mengindahkan peringatan-Nya.

Di bulan Agustus 66 M., Cestius (duta Romawi di Syria) menyerang Yerusalem, kemudian mundur karena beberapa alasan yang tidak diketahui, padahal kemenangan sudah ada dalam genggamannya. Kemudian di tahun 67 M. dan 68 M. Vespasian menaklukkan Galilea dan Yudea, tetapi menangguhkan kepungan atas Yerusalem karena kematian Kaisar Nero. Setelah musim semi dan musim panas tahun 70 M. barulah Yerusalem dikepung dan dihancurkan oleh putra Vespasian, Titus. Suatu ktika dalam jeda  antara kerusuhan di tahun 66 M. dan penghancuran di tahun 70 M., Eusebius (263-339 M.) memberitahu kita, “Anggota-anggota gereja Yerusalem, melalui ramalan yang diberikan melalui pewahyuan orang-orang yang dapat diterima di sana, diperintahkan untuk meninggalkan kota sebelum peperangan mulai [sesungguhnya] dan menetap disebuah kota di Perae yang disebut Pella. Ke Pella mereka yang percaya kepada Kristus berpindah dari Yerusalem” (Ecclesiastical History 3.5.3).

Dengan demikian umat Kristen mengikuti peringatan Yerusalem dalam Matius 24, Lukas 21, dan nabi yang tidak bernama yang dicatat oleh Eusebius, melarikan diri dari kota itu dan terhindar dari nasib kota itu. Kedua, penghancuran dan penyelamatan umat Kristen dari musibah adalah tanda-tanda yang besar sekali artinya mengenai kedatangan ke-dua kali Yesus dan kesudahan dunia. Dalam konteks Matius 24 tanda-tanda tersebut berfungsi sebagai jamainan dari pembinasaan dunia yang penuh dosa dan terutama penyelamatan mereka yang percaya kepada Yesus.

Ellen White meringkaskannya dengan baik ketika dia menulis bahwa “nubuatan Juruselamat tentang pelaksanaan penghakiman terhadap Yerusalem akan digenapi lagi, diantaranya kehancuran yang menakutkan itu yang hanya tinggal sebagai satu bayangan. Dalam kemusnahan kota pilihan itu kita melihat kebinasaan  dunia yang menolak kasih karunia Allah da menginjak-injak hukum-Nya…. Akan tetapi pada hari itu, seperti pada waktu kebinasaan Yerusalem, umat Allah akan diselamatkan” (Alfa dan Omega, jld. 8. Hlm. 34).
 Puji Tuhan karena pemeliharaan-Nya.


Selasa, 09 Agustus 2016

“TANDA YERUSALEM (BAGIAN 1)”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 10  Agustus   2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“TANDA  YERUSALEM (BAGIAN 1)”

“Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel – para pembaca hendaklah  memperhatikannya – maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan…. Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi lagi. Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat” (Matius 24:15-22).

Kita harus memperhatikan bahwa Matius 24 mempunyai satu tanda lain berisi banyak sekali yang tepat – yaitu mengenai penghancuran Yerusalem dan Bait Allah, suatu tanda dari penghakiman dan penghancuran  seluruh dunia pada Kedatangan Ke- dua.

Yesus meramalkan bahwa penghancuran Bait Allah akan menyeluruh – “tidak satu bata pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ayat 2). Josefus, sejarahwan Yahudi, yang mengalami kejadian tersebut, menggambarkan penderitaan yang hampir tak terbayangkan selama saat-saat terakhir dari pengepungan selama enam bulan itu. Bukan saja dia menyatakan lebih dari satu juta orang  Yahudi tewas, tetapi bahwa bangsa Romawi membawa hamper 100.000 lagi sebagai tahanan. Kelaparan begitu buruk sehingga seorang ibu dilaporkan membunuh anaknya sendiri, memanggang dan memakannya (Wars 6.3.4). Jendral Romawi Titus akhirnya memerintahkan seluruh kota, termasuk komplek Bait Allah, dihancurkan, dengan demikian  menggenapkan ramalam Kristus dari ayat 2.

Tetapi para umat Kristen tidak menderita nasib yang sama seperti  bangsa Yahudi itu yang menolak Yesus sebagai Mesias. Umat Kristen mendapat anjuran Kristus yang sekarang kita temukan dalam Matius 24. Ayat-ayat 15-22 rupanya secara khusus ditujukan ke jatuhnya Yerusalem dan memberi pengarahan kapan umat percaya harus meloloskan diri.

Umat Kristen di Yerusalem bukan saja disiagakan terhadap krisis penghancuran Yerusalem  yang akan datang oleh tanda umum mengenai peperangan dan berita-berita perang , tetapi mereka secara khusus dianjurkan supaya “apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus , menurut  firman yang  disampaiakan oleh nabi Daniel [9:27]” maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan (ayat 16). Penyampaian Lukas sari perikop ini lebih menjelaskan artinya: “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota haruslah mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis” (Lukas 21:20-22).

Besok kita akan pelajari bagaimana menerima FIrman Yesus yang menyelamatkan umat percaya di Yerusalem.


Senin, 08 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa 09 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa 09 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“LEBIH BANYAK  LAGI TENTANG  TANDA-TANDA”

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya…. Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia…. Pada waktu itu akan tampak  tanda Anak Manusia di langit  dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Matius 24:14- 30).

Kalau kita membaca perikop di atas dengan seksama, maka kita akan menemukan bahwa setidaknya ada tiga tanda dalam Matius 24 yang jauh lebih tepat berhubungan  dengan Kedatangan Kedua Kali ketimbang gempa bumi dan peperangan berulang kali terjadi yang kita temukan dalam ayat 5-8. Yang pertama muncul di ayat 14, yaitu pekabaran Injil ke seluruh dunia. Hal itu tentu saja kedengaran tantangan yang mustahil bagi beberapa orang Galilea yang pertama-tama mendengarnya. Tetapi gereja Kristen dengan gencar menyebar ke seluruh bagian Kekaisaran Romawi dan melampauinya. Dan semenjak lahirnya misi modern dua abad yang lalu, Kekristenan telah menjadi paling berorientasi menjangkau keluar dibanding keyakinan lain. Ajaran Kristen telah menembus pojok-pojok paling jauh di bumi ini. Tetapi tugas penginjilan belum selesai. R.H. Mounce rupanya benar ketika menyatakan bahwa “hanya apabila gereja sudah menyelesaikan misi penginjilan di seluruh dunia, maka parousia (Kedatangan Kedua Kali) tidak akan ditunda lagi.”

Tanda nyata kedua dari kesudahan disampaikan dalam ayat 24, yang menggambarkan kedatangan Kristus sebagai halilintar yang kelihatan di seluruh muka bumi. Tetapi, tanda itu, bukanlah menyatakan kiamat sudah dekat. Sebaliknya, tanda itu menunjukkan prosesnya sedang berlangsung.

Kita menemukan satu-satunya peristiwa yang sesungguhnya disebut dalam Matius 24: 30-31 yaitu “Tanda dari Anak Manusia” akan muncul di langit. Sekali lagi, itu bukan sesuatu yang menunjuk kepada dekatnya kedatangan Yesus, karena itu akan terjadi ketika Dia datang di awan-awan  “dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” diiringi “malaikat-malaikat-Nya” dan “sangkakala yang dahsyat bunyinya,” kebangkitan orang mati, dan diangkatnya umat percaya yang hidup (1 Tes. 4:16, 17; 1 Kor. 15:51-54).

Dengan pola Matius 24 itu, rupanya tanda-tanda sebenarnya bukanlah tanda-tanda tentang dekatnya, tetapi tanda-tanda sesungguhnya datangnya Kristus. Tanda-tanda dengan tepat mendorong umat  percaya untuk tetap berjaga dan memerhatikan sampai tiba hari tersebut.

Harapan sepanjang masa adalah kembalinya Yesus di awan-awan surga . peristiwa itulah yang memungkinkan umat Kristen di sepanjang masa dan di mana pun untuk mengalami keselamatan sepenuhnya. Tidak  mengherankan Paulus menyeruhkannya sebagai “pengharapan kita yang penuh bahagia” (Tit. 2:13).


Minggu, 07 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 08 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 08 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Fungsi  Tanda-Tanda”

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” (Matius 24:4-8).

Kita semua mau mendapat tanda yang  tak dapat disangkal lagi bahwa Tuhan akan berada di sini dalam waktu tiga bulan, atau bahkan tiga hari. Indikasi demikian akan merangsang kita untuk beranjak dari tempat duduk dan mulai sungguh-sungguh membuat persiapan untuk peristiwa itu.

Dengan jelas dan tepat bahwa tanda yang demikian tidak pernah Yesus berikan. Dan merupakan alasan yang baik.

Di dalam kitab-kitab Injil, kita menemukan kepemimpinan Yahudi berulang kali meminta Yesus memberikan berbagai tanda. Tetapi setelah Dia lama dalam pelayanan-Nya, barulah para murid-Nya melakukan yang sama. Mereka tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan campur baurnya berita membingungkan tentang penghancuran Yerusalem dan Kedatangan Kedua Kali. Akibatnya, Yesus memberi mereka sebuah daftar panjang tanda-tanda yang dimulai dalam Matius 24:5. Daftar itu termasuk munculnya kristus-kristus palsu, peperangan dan berita peperangan, bangsa melawan bangsa, kelaparan dan gempa bumi.

Yang patut disayangkan, tanda-tanda itu tidak memberi kita informasi khusus tentang akhir zaman. Selalu. Selalu ada mesias-mesias palsu, gempa bumi, kelaparan, dan peperangan. Apa yang harus disimpulkan dalam kejadian-kejadian itu, terutama berdasarkan pernyataan yang sering terabaikan dalam ayat 6 dan 8? Ayat 6 memberitahu kita bahwa tanda-tanda demikian seharusnya tidak menggelisakan kita. Semua itu adalah bagian alam, “tetapi itu belum kesudahannya.” Dengan kata lain, semua kejadian itu adalah indikasi bahwa kesudahan itu mendekat, namun kejadian-kejadian itu bukanlah tanda-tanda nyata kesudahan. Ayat 8 menguatkan pemikiran itu dengan ajaran bahwa “semuanya itu barulah permulaan menjelang penderitaan baru.”

Rupanya hal itu mirip dengan tanda pelangi yang Allah berikan kepada Nuh sebagai tanda yang harus dikenang. Tiap kali umat Allah melihat pelangi, mereka teringat perjanjian-Nya. Begitu juga peperangan, kelaparan dan gempa bumi. Masing-masing itu adalah peringatan bahwa bumi ini sakit dan bukti bahwa Allah yang setia dan menepati janji sebelum selesai dengan rencana penyelamatan-Nya. Masing-masing tanda itu adalah sebuah janji bahwa Kistus akan datang lagi untuk menyelesaikan penyelamatan “ umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21). Setiap bintang jatuh, setiap penghianatan kepercayaan, tiap tsunami dan gempa bumi, memberitahu kita bahwa walau pekerjaan Yesus belum selesai. Dia akan datang lagi untk menyelamatkan umat-Nya.


Sabtu, 06 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: 07 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: 07 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PELAJARAN LAIN TENTANG KEDATANGAN KEDUA KALI”

“Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3)

Kita mencatat kemarin bahwa para murid bingung tentang hubungan kehancuran Bait Allah dan Kedatangan Kedua Kali. Andaikan saya Yesus, maka saya akan menjelaskan kepada mereka pokok pembicaraan itu dan memberitahu mereka bahwa kedua peristiwa itu masih akan datang tetapi 2.000 tahun akan berlalu antara kedua kejadian itu.

Tetapi Yesus tidak mengikuti logika saya. Jawaban-Nya memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya dengan satu cara yang umat Kristen sulit luruskan. Kita bertanya-tanya jalan pemikiran Yesus dan strategi-Nya, padahal Dia dapat menjelaskan segala-galanya. Satu hal yang dapat kita katakan dengan pasti adalah Dia dengan sengaja menggabungkan kedua kejadian itu dalam penjelasan-Nya.

Tetapi mengapa? Pasal tersebut tidak memberi alasannya kepada kita. Yang paling penting di antara alasan itu adalah bahwa Yesus bukan sekedar mencoba memberitahu kita kapan kesudahan itu akan tiba, tetapi juga menyiagakan para pendengar-Nya bahwa mereka harus hidup dalam pengharapan yang berkesinambungan sementara mereka menanti-nantikan kesudahan itu. Tujuan itu menjadi jelas ketika Matius  24 mendekati akhir dan masuk ke dalam anjuran untuk bersedia dan berjaga (ayat 36, 42, 44, 50). Perumpamaan-perumpamaan besar di pasal 25 yang membentuk kesimpulan khotbah, dimulai dalam pasal 24 dan berlanjut menyampaikannya pelajaran agar menunggu dengan setia dan penuh tanggung jawab bekerja sementara para pengikut Kristus menunggu akhir zaman.

Alasan kedua untuk strategi mengajar Yesus adalah bahwa dengan berbuat begitu para pembaca dipaksa untuk secara berkelanjutan memikirkan kembali ajaran-ajaran-Nya tentang Kedatangan Kedua Kali ketika mereka mempelajari yang Dia maksudkan. Pendekatan semacam itu mirip dalam beberapa penggunaan perumpamaan-Nya. Dalam Matius 13:10-15, Yesus  mengisyaratkan bahwa Dia mengajar dalam perumpamaan-perumpamaan daripada dalam bahasa yang terus terang karena cara mengajar demikian akan memaksa mereka yang sungguh-sungguh berminat untuk menggumuli arti sesungguhnya tentang apa Dia katakan, dengan demikian menjadikan makna itu bagian mereka sendiri.


Sebagai hasilnya, ambiguitas beberapa pernyataan-Nya telah membuat para pembaca bergumul dengan makna khusus dan arti yang dibicarakan. Akibatnya adalah suatu kesadaran dan minat yang terus bergulir dalam hal Kedatangan Kedua Kali. Teknik ini telah membantu orang-orang mengenal maksud utama khotbah-Nya – untuk berjaga dan bersiap, karena mereka benar-benar tidak mengetahui waktu kedatangan sang Guru. 

Jumat, 05 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Sabat 06 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Sabat 06  Agustus   2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Memperkenalkan  Kedatangan  Yang  Kedua   Kali

“Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu lihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu. Sesungguhnya tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain: semuanya akan diruntuhkan.’ Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia, Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”’ (Matius 24: 1-3).

Matius 24:1  menceritakan Yesus meninggalkan Bait Allah untuk yang terakhir. Murid-murid-Nya mendengarkan Dia mengucapkan “ditinggalkan dan tempat yang tandus” (Mat. 23:38). Tampaknya Bait Suci itu baik-baik saja bagi mereka.

Dan tampaknya bangunan yang sangat baik, Josefus, pada abad pertama, menulis bahwa permukaan luar Bait Allah itu “dilapisi keseluruhannya dengan pelat-pelat emas yang berat sekali, dan, diwaktu matahari mulai terbit, memantulkan kecermelangan, dan membuat mereka yang memaksakan diri untuk memandang kepada keindahan itu memalingkan mata mereka kearah lain, sebagaimana mereka lakukan pada terpaan sinar matahari.” Di kejauhan Dia melanjutkan, Bait Allah tampak “seperti sebuah gunung tertutup salju; karena, bagian-bagiannya tidak dilapisi emas, berwarna sangat putih” (Wars 5:5,6).

 Bait Allah bukan saja anggun, tetapi juga kokoh kuat. Josefus, disuatu tempat, menjelaskan bahwa beberapa batu-batunya berukuran 26 kubit (satu kubit adalah 18-20 inci= 50cm), tinggi 8 kubit, dan kira-kira lebar 12 kubit (Antiquities 15.11.3). di tempat lain Dia memberitahu kita bahwa batu-batu lain berukuran panjang sampai 45 kubit (57-75 kaki= 30cm) (Wars 5.5.6). dengan fakta-fakta seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa para murid terpukul sekali ketika Yesus memberitahu mereka bahwa Bait Allah yang kokoh kuat itu, salah satu keajaiban arsitektur dunia purba, akan hancur secara total, tanpa ada satu batu pun yang bertindih di atas batu lain.

Bagi para pengikut-Nya, kejadian seperti ini menandai kiamat dunia. Bait Allah adalah fokus keberadaan mereka di dunia. Dan mereka tidak dapat membayangkan satu dunia tanpa Bait Allah yang agung di Yerusalem. Para murid, ingin agar mendapat keterangan jelas, kemudian mengajukan tiga pertanyaan kepada Yesus: (1) Kapan Bait Allah itu akan dihancurkan? (2) Bagaimanakah tanda kedatangan kembali-Nya? (3) Bagaimanakah tanda akhir zaman?

Yesus tidak mencoba memperbaiki pengertian salah mereka tentang urutan kejadian-kejadian itu. Sesungguhnya, jawab-Nya memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya hingga sedemikian rupa sehingga boleh dikatakan mustahil untuk meluruskan keduanya.

Dengan Matius 24 dan pengajaran tentang kedatangan Yesus kedua kali, kita tiba pada tanda genting dari kisah Injil. Kita perlu membuka mata dan telinga kita sembari kita mengadakan perjalanan melalui Matius 24 dan 25.


Kamis, 04 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 05 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 05 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Kasih Yang Kuat “ Dari Yesus

“Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak, bagaimana menurutmu akan kamu hindari hukuman ke tumpukan sampah?... Yerusalem, Yerusalem! Engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu. Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya – dan kamu tidak pernah mau. Yang tersisa bagimu sekarang adalah rumahmu. Aku berkata kepadamu bahwa kamu tidak akan melihat-Ku lagi, hingga gari kamu berseru, ‘Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”’ (Matius 23:33-39, versi Phillips).

Beberapa anggota gereja sangat keras ketika menghukum orang lain. Kepedulian mereka adalah tentang kemurnian, perilaku benar,musik  yang tepat, dan diet yang disucikan. Mereka pikir tidak masalah mengucapkan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Dan akibatnya adalah orang-orang muda tidak mau hadir  lagi, anggota-anggota baru kecewa dan siapa saja merasakan kerohanian demikian maka mulai berdoa bagi “orang-orang benar” itu dan untuk kelangsungan agama yang benar dalam jemaat.

Di sini kita perlu menyadari perbedaan antara keras dan kuat bagi kerajaan Allah dan memperlihatkan kasih yang kuat dalam roh Kristus.

Salah satu aspek tidak menguntungkan hanya berfokus pada firman yang tertulis adalah bahwa kita tidak dapat melihat ekspresi wajah dan mendengar nada suara. Saya rasa sukar membedakan antara roh kasih atau  keculasan dan kekerasan. Kata-katanya bisa saja sama, tetapi makna yang sampai kepada kita berbeda sekali. Kita belajar dari Matius 23 bahwa Yesus termasuk di antara mereka yang tidak takut untuk menghadi suatu kesalahan. Namun kita juga sekilas melihat roh di mana Dia berbuat demikian.

Apabila  kita tergiur untuk memainkan peran sebagai “pasukan penggempur rohani,” maka kita perlu mempertimbangkan ayat-ayat yang menyoroti Yesus membeberkan teguran-teguran Matius 23. “Yerusalem, Yerusalem,… Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya” (ayat 37). Dalam kasih dan kepedulian, Yesus menyampaikan seruan terakhir-Nya kepada para pemimpin Yahudi untuk meninggalkan kerohanian palsu mereka dan berpaling kepada “perkara-perkara hukum yang lebih berbobot” – “Keadilan dan belas kasihan” (ayat 23). Dan dengan hati yang hancur, Dia menyadari bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan berubah (ayat 37).

Dengan penolakan itu tibalah pertanda dua kejadian. Satu adalah kehancuran Bait Allah dan Yerusalem bersamanya (ayat 38). Dan yang kedua adalah kembalinya Dia sendiri dalam awan-awan surgawi (ayat 39).


Tuhan kami sudah disadarkan oleh kata-kata yang kuat dari Yesus terhadap gagasan-gagasan palsu mengenai agama. Tetapi kami sudah diberikan harapan oleh roh kasih di dalam mana Dia berbicara. Bantullah kami memiliki agama yang sejati dan roh yang sesuai.


Rabu, 03 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 04 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 04  Agustus   2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“CARA SALAH UNTUK  “MEMPERALAT GEREJA”

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Tuarat dan oarng-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri…. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang  Farisi, hai kamu orang orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang  satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Matius 23:15-24).

Bagian kedua Matius 23, mulai ayat 13 sampai 32, Yesus paparkan dengan gaya pembicaraan langsung kepada pendengar. Dia menyebutkan satu demi satu penghukuman dalam bentuk delapan “celaka.” Selain itu, bagian ini menyebut para ahli Taurat dan orang-orang Farisi “munafik” tujuh kali, dan “buta” lima kali. Sampai di tahap ini pertentangan Yesus dengan para pemimpin Yahudi sudah parah. Walaupun Dia mengucapkan perkataan-Nya dengan kasih, namun mustahil menghindari ketajaman perkataan-Nya itu.

Di sini, sebagaimana kita jelaskan sebelumnya, sebelum kita terlalu mengkritik orang Yahudi zaman dulu, kita harus sadari bahwa kesalahan mereka cenderung bersifat umum karena mereka suka “memperalat gereja,” entah mereka itu kalangan awam atau pendeta. Kedelapan celaka itu mengajarkan kita bahwa ada perbedaan besar antara peran gereja dan menjalani agama Yesus.

Celaka pertama menyinggung kegagalan masuk ke dalam kerajaan, pada saat yang sama merintangi orang lain  masuk (ayat 13). Yesus, tentu saja, dalam pemikiran-Nya masih menyimpan tindak-tanduk dan kata-kata orang Farisi yang mencegah para pengikut mereka mengembangkan hubungan iman dengan-Nya. Tetapi gereja modern masih mempunyai kegiatan dan tindak-tanduk demikian. Pembatasan itu dapat mengakibatkan orang lain menjadi kecil hati karena permainan peran munafik, dengan  melencengkan ajaran Kitab Suci, atau menjalani kehidupan  tanpa kasih. Harus disayangkan sikap seperti itu, tidak membutuhkan sesuatu keahlian atau dedikasi untuk menjadi  sandungan bagi orang lain.

Celaka yang kedua berpusat pada tipe yang mengorbankan diri sendiri yang berusaha sekeras-kerasnya mempertobatkan orang-orang kepada cara-cara mereka yang legalistik. Hasilnya ialah mereka yang bertobat menjadi lebih menderita dibanding sebelum mereka bertemu dengan pandangan agama melenceng yang diajarkan para misionaris.

Celaka terakhir (ayat 29-32) secara telak mengenai “memperindah tugu” agama yang banyak diorganisasi. Tugu terbesar bagi agama yang benar bukanlah suatu perayaan peristiwa-peristiwa religious utama dan tokoh-tokoh masa lalu, tetapi roh para nabi yang hidup dalam kehidupan kita sendiri sekarang.


Kita memang bisa sadar apabila menyaksikan orang-orang baik, bersungguh-sungguh, religious namun dapat menyimpang dan berbuat salah. Kedelapan celaka itu adalah suatu panggilan, suatu peringatan untuk memeriksa diri dan menerapkannya kembali bagi kita masing-masing.


Selasa, 02 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“Panggilan Terakhir Untuk Bangun”

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang”’ (Matius 23:1-5).

Puncak pertikaian Yesus dan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi diceritakan dalam Matius 23, sampai titik ini, Yesus telah melakukan yang Dia dapat lakukan untuk membangunkan  mereka, tetapi sia-sia. Sekarang saat untuk kata-kata lembut dan taktik berputar dan tidak langsung selesai. Di dalam kasih-Nya, Yesus sekarang membuat serangan langsung. Waktunya sudah hampir habis dan mereka belum mendengarkan-Nya.

Matius 23 terdiri dari tiga bagian yang merupakan suatu tema yang menyatu,. Ayat  1 sampai 12, membicarakan orang-orang lain, yang menghadirkan lima karakteristik untuk mana Yesus menegur para ahli Taurat dan kaum Farisi. Tetapi sebelum membawanya, Yesus menyoroti pentingnya kedudukan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka “menduduki kursi Musa” (ayat 2). Yaitu, mereka  mempunyai hak istimewa utama dan tannggungjawab untuk mengajarkan Firman Allah kepada Umat-Nya. Berdasarkan peran kudus dan berbobot itulah kita harus  menyoroti kekurangan-kekurangan mereka. Kesalahan-kesalahan mereka semakin nyata karena posisi mereka.

Sebelum melihat sifat-sifat negative yang digambarkan dalam pasal ini, kita perlu akui bahwa tidak semua orang Farisi itu seburuk sebagaimana digambarkan di sini. Orang-orang Farisi sendiri – sebagaimana Yesus – agak tidak setuju dengan sepak terjang sesamanya yang tidak bertanggung jawab.

Satu hal lain yang harus kita camkan adalah bahwa para pemimpin Kristen dan oarng-orang awam seringkali berusaha menyamakan sifat-sifat kaum Farisi. Walau kaum Farisi membentuk bagian yang bersejarah dalam Yudaisme, namun roh mereka tertanam dan berakar dalam sifat manusia. Dengan demikian maka kita umat Kristen perlu membaca kecaman dalam Matius 23 dengan membayangkan diri kita sendiri.

Tiap kali kita gagal melakukan apa yang kita ajarkan (ayat 3), tidak bersedia melakukannya dalam kehidupan kita sendiri apa yang kita tentukan bagi oarng lain (ayat 4), suka nilai pamer prestasi-prestasi keagamaan kita  (ayat 5), suka gelar-gelar penghormatan dan ditujukkan (ayat-ayat 6-10), dan tidak menyadari dalam pelayanan kita adalah panggilan untuk melakukan pelayanan dengan berkorban dan bukan untuk mendapatkan  status terhormat (ayat 11, 12), maka kita berprilaku sebagai orang-orang Farisi terburuk dan bukan sebagai pengikut Yesus.


Bantulah saya, Tuhan agar dapat mengatasi kekurangan-kekurangan saya sendiri dan mengikuti kehidupan dan Firman-Mu. 


Senin, 01 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Pelajaran  Lain  Tentang  Keallahan”

“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu” (Mazmur 110:1).

Kemarin kita telah memeriksa mengapa Yesus menggunakan Mazmur 110.  Dia menunjukkan kepada kaum Farisi bahwa Mesias / Kristus yang akan datang bukan saja manusia tetapi juga Allah.  Dengan demikian “anak Daud, “ walaupun penggambaran yang benar dari Mesias, juga gambaran yang tidak sempurna. Mesias tidak saja Anak Daud, tetapi juga Tuhan Allahnya.

Yesus menyelesaikan paling tidak tiga hal dalam perdebatan-Nya dengan kaum Farisi.  Pertama, Dia di depan umum menunjukkan ketidakmampuan mereka mengartikan Kitab Suci.  Kedua, Dia membuat pernyataan besar bagi diri-Nya sendiri. Kesalahan kaum Farisi bukanlah bahwa mereka beranggapan terlalu tinggi  tentang Mesias, tetapi tidak cukup tinggi.  Dia memang Ilahi-begitu Ilahi sehingga Daud yang perkasa memuja Dia sebagai Tuhan  (Yahweh).  Dan dalam membuat pernyataan menggetarkan itu terhadap Mesias, Yesus memaksudkannya untuk diri-Nya sendiri, sebagaimana Dia sudah melakukannya sebelumnya di minggu itu dengan memasuki Yerusalem menunggang keledai dan mengambil kuasa atas Bait Allah.

Implikasi ketiga muncul dari penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus yang menyatakan jika Mesias bukan sekadar anak Daud, maka Daud sebagai pola bagi Mesias tidaklah utuh.  Jabatannya sebagai raja dari berbagai ahli perang tidak lagi pengertian yang mencukupi.  Jadi, kita mendapat kenyataan bahwa Yesus menerima gelar-gelar Mesias dan anak Daud, tetapi menolak batas-batas rumusan orang Yahudi.  Yesus tidak pernah datang sebagai raja – ahli perang, tetapi sebagai Domba Allah yang akan menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).  Dan Dia bukan sekadar berusaha untuk membebaskan bangsa Yahudi dari bangsa Romawi, tetapi untuk menyelematkan umat-Nya di mana saja dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21).

Penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus dalam Matius 22 juga mengungkapkan beberapa hal mengenai maksud-Nya mengenai misi-Nya; (1) bahwa Dia akan menang dan duduk di kanan Allah, dan (2) bahwa Dia akhirnya akan menang atas musuh-musuh-Nya yang akan menjadi tumpuan kaki.

Keyakinan demikian penting bagi umat percaya sementara kita melihat serangan gencar dunia terhadap iman kita.  Tidak mengherankan bahwa Mazmur 110 menjadi perikop Perjanjian Lama yang paling sering dikutip di dalam Perjanjian Baru, disinggung atau dikutip 33 kali.  Kitab Ibrani berulangkali menggunakan ayat tersebut untuk membuat umat Kristen mengerti sepenuhnya bahwa mereka dapat hidup dengan keyakinan mutlak karena mereka melayani Yesus yang sudah dibangkitkan yang duduk  “di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3).

Kita dapat bersyukur bahwa Yesus bukan sekadar anak Daud, tetapi Tuhannya yang menang.


Kamis, 28 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat, 29 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat, 29 Juli 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“Pertentangan: Jalan Dua Jalur (bagian 2)”

“Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: ‘Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya,  sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.’ Yesus menjawab mereka: ‘Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!”’ (Matius 22:23-29).

Peertanyaan kedua dalam serangan balik orang Yahudi terhadap Yesus berasal dari kaum Saduki- musuh bebuyutan kaum Farisi. Mereka bukan saja mencari muka dan berkiblat kepada penguasa Romawi , tetapi mereka sudah menolak seluruh Kitab Suci kecuali Taurat. Menurut Josefus, kaum Saduki beranggapan bahwa “jiwa mati bersama raga” (Antiquities, 18, 14). Jadi mereka  tidak mengakui kemungkinan hidup kekal dan kebangkitan dari kematian.

Penerimaan mereka akan Taurat menggarisbawahi pertanyaan kepada Yesus di Matius 22: 25- 28 mengenai wanita yang menurut tatakrama perkawinan Imamat (Ul. 25:5, 6), mempunyai tujuh suami, tetapi tidak mempunyai anak. Pertanyaan mereka bukan saja meremehkan gagasan kebangkitan, tetapi lebih mendalam, maksud mereka adalah mempermalukan Yesus di depan umum.

Tetapi, sekali lagi Yesus membalikkan argumentasi mereka yang mencela-Nya mengenai dua hal. Pertama, Dia sarankan bahwa pertanyaan mereka cacat karena berdasarkan pengertian yang salah. Yesus katakan, tanpa memahami Kitab Suci, mereka tidak bisa mengerti Allah dan kuasa-Nya. Sebagai orang modern, mereka beranggapan bahwa kehidupan masa depan sama dengan kehidupan  di dunia kita kenal, dengan sedikit perubahan dan perbaikan di sana- sini. Tidak demikian, kata Yesus. Kerajaan baru Allah mengikuti garis-garis yang berbeda. Dia tidak memberitahu kaum Saduki bagaimana keadaan surga karena pikiran mereka tidak sanggup menangkap makna kata-kata-Nya jika Dia jelaskan. Tetapi nyatakan bahwa  di surga tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan sekarang.

Dalam bagian kedua dari jawaban-jawaban-Nya, Yesus mengutip Keluaran 3:6, sekalian menunjukkan bahwa kaum Saduki tidak tahu sama sekali bagian Kitab Suci yang telah mereka terima itu. Allah, Yesus menjelaskan, bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup dan ini mengacu ke depan kepada kebangkitan para leluhur (Mat. 22:32).

Kita umat Kristen modern ditantang. Sebagian besar kita mungkin memandang surga sebagai realita duniawi. Apakah bagian paling rawan dari pengertian seperti itu? Apakah masalahnya? Dengan cara apakah ajaran Alkitab mengenai topik ini melampaui batas-batas pemikiran lazim akan hal itu?


Senin, 25 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Perumpamaan  Pertentangan (bagian 2)”

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan… menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada para penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hamba itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu… Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka,… Tetapi… penggarap-penggarap… membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” (Matius 21:33-40).

Perumpamaan kedua bernada pertentangan dalam urutan langkah raksasa jauh ke depan. Kalau perumpamaan kedua anak laki-laki itu menggambarkan perlawanan pasif para pemimpin Yahudi, yang satu perumpamaan aktif begitu aktifnya sehingga menunjuk pada penolakan para nabi dan pembunuhan anak laki-lakinya. Hampir mustahil bagi pemimpin Yahudi untuk tidak mengerti sindiran kepada Israel yang sangat dikasihi Allah dalam penggambaran kebun anggur itu. Yesaya 5:1-7 menggambarkan kebun anggur seperti cara yang Yesus lakukan. Tetapi di Yesaya, kesalahannya terletak pada pokok anggurnya, sedangkan di sini kesalahannya terletak pada para penggarap. Di dalam kedua kasus, akibat kegagalan itu adalah penghakiman Ilahi.

Kita mendapat beberapa pelajaran dari perumpamaan para penggarap. Yang pertama, Allah panjang sabar. Dia tidak mudah hanya sekali mengutus, tapi terus-menerus mengutus. Dia tidak mudah menyerah lalu meninggalkan umat-Nya. Pelajaran kedua juga sama nyata, perbuatan salah yang disengaja para penggarap. Jika tema utama kisah Injil adalah kasih Allah, maka tema yang mengimbangi adalah penolakan umat manusia terhadap kasih itu. Peristiwa menyedihkan dari kedua perumpamaan dan sejarah itu adalah bahwa begitu sering umat Allah dengan angkuh menolak tawaran Allah.

Pelajaran ketiga adalah tindakan umat dan terakhir oleh mengutus Putra-Nya. Namun para penggarap juga membunuh-Nya. Perumpamaan itu menggambarkan bahwa perbuatan itu akhirnya akan membawa penghakiman atas diri mereka.

Pelajaran keempat adalah bahwa penghakiman Allah kemungkinan lama akan tiba, namun penghakiman itu pasti akan dilaksanakan dan tidak dapat diubah lagi. Penghakiman untuk para penggarap tertentu di dalam Matius 21 akan tiba dengan penghancuran Yerusalem.

Pelajaran kelima adalah pindahnya kerajaan Allah dari bangsa Israel kepada orang-orang baru. Yesus berkata dalam pernyataan paling jelas tentang topik ini, “Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43). Orang-orang baru itu adalah gereja Kristen yang mewarisi kesinambungan janji dan tanggung-jawab kaum Yahudi.


Semoga Allah membantu umat-Nya yang baru untuk tidak memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang salah yang disengaja.