Minggu, 07 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 08 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 08 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Fungsi  Tanda-Tanda”

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” (Matius 24:4-8).

Kita semua mau mendapat tanda yang  tak dapat disangkal lagi bahwa Tuhan akan berada di sini dalam waktu tiga bulan, atau bahkan tiga hari. Indikasi demikian akan merangsang kita untuk beranjak dari tempat duduk dan mulai sungguh-sungguh membuat persiapan untuk peristiwa itu.

Dengan jelas dan tepat bahwa tanda yang demikian tidak pernah Yesus berikan. Dan merupakan alasan yang baik.

Di dalam kitab-kitab Injil, kita menemukan kepemimpinan Yahudi berulang kali meminta Yesus memberikan berbagai tanda. Tetapi setelah Dia lama dalam pelayanan-Nya, barulah para murid-Nya melakukan yang sama. Mereka tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan campur baurnya berita membingungkan tentang penghancuran Yerusalem dan Kedatangan Kedua Kali. Akibatnya, Yesus memberi mereka sebuah daftar panjang tanda-tanda yang dimulai dalam Matius 24:5. Daftar itu termasuk munculnya kristus-kristus palsu, peperangan dan berita peperangan, bangsa melawan bangsa, kelaparan dan gempa bumi.

Yang patut disayangkan, tanda-tanda itu tidak memberi kita informasi khusus tentang akhir zaman. Selalu. Selalu ada mesias-mesias palsu, gempa bumi, kelaparan, dan peperangan. Apa yang harus disimpulkan dalam kejadian-kejadian itu, terutama berdasarkan pernyataan yang sering terabaikan dalam ayat 6 dan 8? Ayat 6 memberitahu kita bahwa tanda-tanda demikian seharusnya tidak menggelisakan kita. Semua itu adalah bagian alam, “tetapi itu belum kesudahannya.” Dengan kata lain, semua kejadian itu adalah indikasi bahwa kesudahan itu mendekat, namun kejadian-kejadian itu bukanlah tanda-tanda nyata kesudahan. Ayat 8 menguatkan pemikiran itu dengan ajaran bahwa “semuanya itu barulah permulaan menjelang penderitaan baru.”

Rupanya hal itu mirip dengan tanda pelangi yang Allah berikan kepada Nuh sebagai tanda yang harus dikenang. Tiap kali umat Allah melihat pelangi, mereka teringat perjanjian-Nya. Begitu juga peperangan, kelaparan dan gempa bumi. Masing-masing itu adalah peringatan bahwa bumi ini sakit dan bukti bahwa Allah yang setia dan menepati janji sebelum selesai dengan rencana penyelamatan-Nya. Masing-masing tanda itu adalah sebuah janji bahwa Kistus akan datang lagi untuk menyelesaikan penyelamatan “ umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21). Setiap bintang jatuh, setiap penghianatan kepercayaan, tiap tsunami dan gempa bumi, memberitahu kita bahwa walau pekerjaan Yesus belum selesai. Dia akan datang lagi untk menyelamatkan umat-Nya.


Sabtu, 06 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: 07 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: 07 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PELAJARAN LAIN TENTANG KEDATANGAN KEDUA KALI”

“Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3)

Kita mencatat kemarin bahwa para murid bingung tentang hubungan kehancuran Bait Allah dan Kedatangan Kedua Kali. Andaikan saya Yesus, maka saya akan menjelaskan kepada mereka pokok pembicaraan itu dan memberitahu mereka bahwa kedua peristiwa itu masih akan datang tetapi 2.000 tahun akan berlalu antara kedua kejadian itu.

Tetapi Yesus tidak mengikuti logika saya. Jawaban-Nya memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya dengan satu cara yang umat Kristen sulit luruskan. Kita bertanya-tanya jalan pemikiran Yesus dan strategi-Nya, padahal Dia dapat menjelaskan segala-galanya. Satu hal yang dapat kita katakan dengan pasti adalah Dia dengan sengaja menggabungkan kedua kejadian itu dalam penjelasan-Nya.

Tetapi mengapa? Pasal tersebut tidak memberi alasannya kepada kita. Yang paling penting di antara alasan itu adalah bahwa Yesus bukan sekedar mencoba memberitahu kita kapan kesudahan itu akan tiba, tetapi juga menyiagakan para pendengar-Nya bahwa mereka harus hidup dalam pengharapan yang berkesinambungan sementara mereka menanti-nantikan kesudahan itu. Tujuan itu menjadi jelas ketika Matius  24 mendekati akhir dan masuk ke dalam anjuran untuk bersedia dan berjaga (ayat 36, 42, 44, 50). Perumpamaan-perumpamaan besar di pasal 25 yang membentuk kesimpulan khotbah, dimulai dalam pasal 24 dan berlanjut menyampaikannya pelajaran agar menunggu dengan setia dan penuh tanggung jawab bekerja sementara para pengikut Kristus menunggu akhir zaman.

Alasan kedua untuk strategi mengajar Yesus adalah bahwa dengan berbuat begitu para pembaca dipaksa untuk secara berkelanjutan memikirkan kembali ajaran-ajaran-Nya tentang Kedatangan Kedua Kali ketika mereka mempelajari yang Dia maksudkan. Pendekatan semacam itu mirip dalam beberapa penggunaan perumpamaan-Nya. Dalam Matius 13:10-15, Yesus  mengisyaratkan bahwa Dia mengajar dalam perumpamaan-perumpamaan daripada dalam bahasa yang terus terang karena cara mengajar demikian akan memaksa mereka yang sungguh-sungguh berminat untuk menggumuli arti sesungguhnya tentang apa Dia katakan, dengan demikian menjadikan makna itu bagian mereka sendiri.


Sebagai hasilnya, ambiguitas beberapa pernyataan-Nya telah membuat para pembaca bergumul dengan makna khusus dan arti yang dibicarakan. Akibatnya adalah suatu kesadaran dan minat yang terus bergulir dalam hal Kedatangan Kedua Kali. Teknik ini telah membantu orang-orang mengenal maksud utama khotbah-Nya – untuk berjaga dan bersiap, karena mereka benar-benar tidak mengetahui waktu kedatangan sang Guru. 

Jumat, 05 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Sabat 06 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Sabat 06  Agustus   2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Memperkenalkan  Kedatangan  Yang  Kedua   Kali

“Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu lihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu. Sesungguhnya tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain: semuanya akan diruntuhkan.’ Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia, Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”’ (Matius 24: 1-3).

Matius 24:1  menceritakan Yesus meninggalkan Bait Allah untuk yang terakhir. Murid-murid-Nya mendengarkan Dia mengucapkan “ditinggalkan dan tempat yang tandus” (Mat. 23:38). Tampaknya Bait Suci itu baik-baik saja bagi mereka.

Dan tampaknya bangunan yang sangat baik, Josefus, pada abad pertama, menulis bahwa permukaan luar Bait Allah itu “dilapisi keseluruhannya dengan pelat-pelat emas yang berat sekali, dan, diwaktu matahari mulai terbit, memantulkan kecermelangan, dan membuat mereka yang memaksakan diri untuk memandang kepada keindahan itu memalingkan mata mereka kearah lain, sebagaimana mereka lakukan pada terpaan sinar matahari.” Di kejauhan Dia melanjutkan, Bait Allah tampak “seperti sebuah gunung tertutup salju; karena, bagian-bagiannya tidak dilapisi emas, berwarna sangat putih” (Wars 5:5,6).

 Bait Allah bukan saja anggun, tetapi juga kokoh kuat. Josefus, disuatu tempat, menjelaskan bahwa beberapa batu-batunya berukuran 26 kubit (satu kubit adalah 18-20 inci= 50cm), tinggi 8 kubit, dan kira-kira lebar 12 kubit (Antiquities 15.11.3). di tempat lain Dia memberitahu kita bahwa batu-batu lain berukuran panjang sampai 45 kubit (57-75 kaki= 30cm) (Wars 5.5.6). dengan fakta-fakta seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa para murid terpukul sekali ketika Yesus memberitahu mereka bahwa Bait Allah yang kokoh kuat itu, salah satu keajaiban arsitektur dunia purba, akan hancur secara total, tanpa ada satu batu pun yang bertindih di atas batu lain.

Bagi para pengikut-Nya, kejadian seperti ini menandai kiamat dunia. Bait Allah adalah fokus keberadaan mereka di dunia. Dan mereka tidak dapat membayangkan satu dunia tanpa Bait Allah yang agung di Yerusalem. Para murid, ingin agar mendapat keterangan jelas, kemudian mengajukan tiga pertanyaan kepada Yesus: (1) Kapan Bait Allah itu akan dihancurkan? (2) Bagaimanakah tanda kedatangan kembali-Nya? (3) Bagaimanakah tanda akhir zaman?

Yesus tidak mencoba memperbaiki pengertian salah mereka tentang urutan kejadian-kejadian itu. Sesungguhnya, jawab-Nya memadukan kedua kejadian dan tanda-tandanya hingga sedemikian rupa sehingga boleh dikatakan mustahil untuk meluruskan keduanya.

Dengan Matius 24 dan pengajaran tentang kedatangan Yesus kedua kali, kita tiba pada tanda genting dari kisah Injil. Kita perlu membuka mata dan telinga kita sembari kita mengadakan perjalanan melalui Matius 24 dan 25.


Kamis, 04 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 05 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 05 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Kasih Yang Kuat “ Dari Yesus

“Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak, bagaimana menurutmu akan kamu hindari hukuman ke tumpukan sampah?... Yerusalem, Yerusalem! Engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu. Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya – dan kamu tidak pernah mau. Yang tersisa bagimu sekarang adalah rumahmu. Aku berkata kepadamu bahwa kamu tidak akan melihat-Ku lagi, hingga gari kamu berseru, ‘Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”’ (Matius 23:33-39, versi Phillips).

Beberapa anggota gereja sangat keras ketika menghukum orang lain. Kepedulian mereka adalah tentang kemurnian, perilaku benar,musik  yang tepat, dan diet yang disucikan. Mereka pikir tidak masalah mengucapkan apa saja yang ada dalam pikiran mereka. Dan akibatnya adalah orang-orang muda tidak mau hadir  lagi, anggota-anggota baru kecewa dan siapa saja merasakan kerohanian demikian maka mulai berdoa bagi “orang-orang benar” itu dan untuk kelangsungan agama yang benar dalam jemaat.

Di sini kita perlu menyadari perbedaan antara keras dan kuat bagi kerajaan Allah dan memperlihatkan kasih yang kuat dalam roh Kristus.

Salah satu aspek tidak menguntungkan hanya berfokus pada firman yang tertulis adalah bahwa kita tidak dapat melihat ekspresi wajah dan mendengar nada suara. Saya rasa sukar membedakan antara roh kasih atau  keculasan dan kekerasan. Kata-katanya bisa saja sama, tetapi makna yang sampai kepada kita berbeda sekali. Kita belajar dari Matius 23 bahwa Yesus termasuk di antara mereka yang tidak takut untuk menghadi suatu kesalahan. Namun kita juga sekilas melihat roh di mana Dia berbuat demikian.

Apabila  kita tergiur untuk memainkan peran sebagai “pasukan penggempur rohani,” maka kita perlu mempertimbangkan ayat-ayat yang menyoroti Yesus membeberkan teguran-teguran Matius 23. “Yerusalem, Yerusalem,… Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya” (ayat 37). Dalam kasih dan kepedulian, Yesus menyampaikan seruan terakhir-Nya kepada para pemimpin Yahudi untuk meninggalkan kerohanian palsu mereka dan berpaling kepada “perkara-perkara hukum yang lebih berbobot” – “Keadilan dan belas kasihan” (ayat 23). Dan dengan hati yang hancur, Dia menyadari bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan berubah (ayat 37).

Dengan penolakan itu tibalah pertanda dua kejadian. Satu adalah kehancuran Bait Allah dan Yerusalem bersamanya (ayat 38). Dan yang kedua adalah kembalinya Dia sendiri dalam awan-awan surgawi (ayat 39).


Tuhan kami sudah disadarkan oleh kata-kata yang kuat dari Yesus terhadap gagasan-gagasan palsu mengenai agama. Tetapi kami sudah diberikan harapan oleh roh kasih di dalam mana Dia berbicara. Bantullah kami memiliki agama yang sejati dan roh yang sesuai.


Rabu, 03 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 04 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 04  Agustus   2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“CARA SALAH UNTUK  “MEMPERALAT GEREJA”

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Tuarat dan oarng-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri…. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang  Farisi, hai kamu orang orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang  satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Matius 23:15-24).

Bagian kedua Matius 23, mulai ayat 13 sampai 32, Yesus paparkan dengan gaya pembicaraan langsung kepada pendengar. Dia menyebutkan satu demi satu penghukuman dalam bentuk delapan “celaka.” Selain itu, bagian ini menyebut para ahli Taurat dan orang-orang Farisi “munafik” tujuh kali, dan “buta” lima kali. Sampai di tahap ini pertentangan Yesus dengan para pemimpin Yahudi sudah parah. Walaupun Dia mengucapkan perkataan-Nya dengan kasih, namun mustahil menghindari ketajaman perkataan-Nya itu.

Di sini, sebagaimana kita jelaskan sebelumnya, sebelum kita terlalu mengkritik orang Yahudi zaman dulu, kita harus sadari bahwa kesalahan mereka cenderung bersifat umum karena mereka suka “memperalat gereja,” entah mereka itu kalangan awam atau pendeta. Kedelapan celaka itu mengajarkan kita bahwa ada perbedaan besar antara peran gereja dan menjalani agama Yesus.

Celaka pertama menyinggung kegagalan masuk ke dalam kerajaan, pada saat yang sama merintangi orang lain  masuk (ayat 13). Yesus, tentu saja, dalam pemikiran-Nya masih menyimpan tindak-tanduk dan kata-kata orang Farisi yang mencegah para pengikut mereka mengembangkan hubungan iman dengan-Nya. Tetapi gereja modern masih mempunyai kegiatan dan tindak-tanduk demikian. Pembatasan itu dapat mengakibatkan orang lain menjadi kecil hati karena permainan peran munafik, dengan  melencengkan ajaran Kitab Suci, atau menjalani kehidupan  tanpa kasih. Harus disayangkan sikap seperti itu, tidak membutuhkan sesuatu keahlian atau dedikasi untuk menjadi  sandungan bagi orang lain.

Celaka yang kedua berpusat pada tipe yang mengorbankan diri sendiri yang berusaha sekeras-kerasnya mempertobatkan orang-orang kepada cara-cara mereka yang legalistik. Hasilnya ialah mereka yang bertobat menjadi lebih menderita dibanding sebelum mereka bertemu dengan pandangan agama melenceng yang diajarkan para misionaris.

Celaka terakhir (ayat 29-32) secara telak mengenai “memperindah tugu” agama yang banyak diorganisasi. Tugu terbesar bagi agama yang benar bukanlah suatu perayaan peristiwa-peristiwa religious utama dan tokoh-tokoh masa lalu, tetapi roh para nabi yang hidup dalam kehidupan kita sendiri sekarang.


Kita memang bisa sadar apabila menyaksikan orang-orang baik, bersungguh-sungguh, religious namun dapat menyimpang dan berbuat salah. Kedelapan celaka itu adalah suatu panggilan, suatu peringatan untuk memeriksa diri dan menerapkannya kembali bagi kita masing-masing.


Selasa, 02 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 03 Agustus 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“Panggilan Terakhir Untuk Bangun”

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang”’ (Matius 23:1-5).

Puncak pertikaian Yesus dan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi diceritakan dalam Matius 23, sampai titik ini, Yesus telah melakukan yang Dia dapat lakukan untuk membangunkan  mereka, tetapi sia-sia. Sekarang saat untuk kata-kata lembut dan taktik berputar dan tidak langsung selesai. Di dalam kasih-Nya, Yesus sekarang membuat serangan langsung. Waktunya sudah hampir habis dan mereka belum mendengarkan-Nya.

Matius 23 terdiri dari tiga bagian yang merupakan suatu tema yang menyatu,. Ayat  1 sampai 12, membicarakan orang-orang lain, yang menghadirkan lima karakteristik untuk mana Yesus menegur para ahli Taurat dan kaum Farisi. Tetapi sebelum membawanya, Yesus menyoroti pentingnya kedudukan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka “menduduki kursi Musa” (ayat 2). Yaitu, mereka  mempunyai hak istimewa utama dan tannggungjawab untuk mengajarkan Firman Allah kepada Umat-Nya. Berdasarkan peran kudus dan berbobot itulah kita harus  menyoroti kekurangan-kekurangan mereka. Kesalahan-kesalahan mereka semakin nyata karena posisi mereka.

Sebelum melihat sifat-sifat negative yang digambarkan dalam pasal ini, kita perlu akui bahwa tidak semua orang Farisi itu seburuk sebagaimana digambarkan di sini. Orang-orang Farisi sendiri – sebagaimana Yesus – agak tidak setuju dengan sepak terjang sesamanya yang tidak bertanggung jawab.

Satu hal lain yang harus kita camkan adalah bahwa para pemimpin Kristen dan oarng-orang awam seringkali berusaha menyamakan sifat-sifat kaum Farisi. Walau kaum Farisi membentuk bagian yang bersejarah dalam Yudaisme, namun roh mereka tertanam dan berakar dalam sifat manusia. Dengan demikian maka kita umat Kristen perlu membaca kecaman dalam Matius 23 dengan membayangkan diri kita sendiri.

Tiap kali kita gagal melakukan apa yang kita ajarkan (ayat 3), tidak bersedia melakukannya dalam kehidupan kita sendiri apa yang kita tentukan bagi oarng lain (ayat 4), suka nilai pamer prestasi-prestasi keagamaan kita  (ayat 5), suka gelar-gelar penghormatan dan ditujukkan (ayat-ayat 6-10), dan tidak menyadari dalam pelayanan kita adalah panggilan untuk melakukan pelayanan dengan berkorban dan bukan untuk mendapatkan  status terhormat (ayat 11, 12), maka kita berprilaku sebagai orang-orang Farisi terburuk dan bukan sebagai pengikut Yesus.


Bantulah saya, Tuhan agar dapat mengatasi kekurangan-kekurangan saya sendiri dan mengikuti kehidupan dan Firman-Mu. 


Senin, 01 Agustus 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa 02 Agustus 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Pelajaran  Lain  Tentang  Keallahan”

“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu” (Mazmur 110:1).

Kemarin kita telah memeriksa mengapa Yesus menggunakan Mazmur 110.  Dia menunjukkan kepada kaum Farisi bahwa Mesias / Kristus yang akan datang bukan saja manusia tetapi juga Allah.  Dengan demikian “anak Daud, “ walaupun penggambaran yang benar dari Mesias, juga gambaran yang tidak sempurna. Mesias tidak saja Anak Daud, tetapi juga Tuhan Allahnya.

Yesus menyelesaikan paling tidak tiga hal dalam perdebatan-Nya dengan kaum Farisi.  Pertama, Dia di depan umum menunjukkan ketidakmampuan mereka mengartikan Kitab Suci.  Kedua, Dia membuat pernyataan besar bagi diri-Nya sendiri. Kesalahan kaum Farisi bukanlah bahwa mereka beranggapan terlalu tinggi  tentang Mesias, tetapi tidak cukup tinggi.  Dia memang Ilahi-begitu Ilahi sehingga Daud yang perkasa memuja Dia sebagai Tuhan  (Yahweh).  Dan dalam membuat pernyataan menggetarkan itu terhadap Mesias, Yesus memaksudkannya untuk diri-Nya sendiri, sebagaimana Dia sudah melakukannya sebelumnya di minggu itu dengan memasuki Yerusalem menunggang keledai dan mengambil kuasa atas Bait Allah.

Implikasi ketiga muncul dari penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus yang menyatakan jika Mesias bukan sekadar anak Daud, maka Daud sebagai pola bagi Mesias tidaklah utuh.  Jabatannya sebagai raja dari berbagai ahli perang tidak lagi pengertian yang mencukupi.  Jadi, kita mendapat kenyataan bahwa Yesus menerima gelar-gelar Mesias dan anak Daud, tetapi menolak batas-batas rumusan orang Yahudi.  Yesus tidak pernah datang sebagai raja – ahli perang, tetapi sebagai Domba Allah yang akan menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).  Dan Dia bukan sekadar berusaha untuk membebaskan bangsa Yahudi dari bangsa Romawi, tetapi untuk menyelematkan umat-Nya di mana saja dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21).

Penggunaan Mazmur 110 oleh Yesus dalam Matius 22 juga mengungkapkan beberapa hal mengenai maksud-Nya mengenai misi-Nya; (1) bahwa Dia akan menang dan duduk di kanan Allah, dan (2) bahwa Dia akhirnya akan menang atas musuh-musuh-Nya yang akan menjadi tumpuan kaki.

Keyakinan demikian penting bagi umat percaya sementara kita melihat serangan gencar dunia terhadap iman kita.  Tidak mengherankan bahwa Mazmur 110 menjadi perikop Perjanjian Lama yang paling sering dikutip di dalam Perjanjian Baru, disinggung atau dikutip 33 kali.  Kitab Ibrani berulangkali menggunakan ayat tersebut untuk membuat umat Kristen mengerti sepenuhnya bahwa mereka dapat hidup dengan keyakinan mutlak karena mereka melayani Yesus yang sudah dibangkitkan yang duduk  “di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:3).

Kita dapat bersyukur bahwa Yesus bukan sekadar anak Daud, tetapi Tuhannya yang menang.