Renungan Pagi Advent: Selasa, 17 Mei 2016 “Pandanglah
Pada
Yesus”
“Keputusan-Keputusan
Yang Menakutkan”
“Jangan
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang
bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan
orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu
mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa
mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan
barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia
tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:34-37).
Itulah
pernyataan penting dari Dia yang disebut “Raja Damai” (Yes. 9:6). Di sini kita
mendapati Yesus dalam keadaan paling realistis. Para pengikut-Nya mungkin tidak
perlu takut, tetapi banyak untuk ditakuti, termasuk keluarga kita sendiri
apabila beberapa memutuskan untuk berjalan bersama-Nya sesuai dengan
prinsip-prinsip-Nya, sementara yang lain memilih untuk menentang-Nya dan
prinsip-prinsip-Nya, masing-masing dengan pendapat yang kuat mengenai topik
itu.
Pernyataan
Yesus bahwa “Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan
dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,” kemungkinan besar
mempengaruhi para pendengar-Nya dalam dua tahap bersamaan. Pada tahap pertama,
Yesus menggunakan bahasa familiar bagi para pendengar Yahudi. Nabi Mikha
menulis: “Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan
ibunya, manantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang
seisi rumahnya” (Mi. 7:6).
Para
rabi menggunakana ayat itu dan menerapkannya pada zaman Mesias (m.Sotah
9:15). Lagi-lagi mereka mengajarkan bahwa salah satu peristiwa yang
akan terjadi pada kedatangan Mesias adalah perpecahan dalam keluarga-keluarga.
Dengan demikian kita membaca: “Apabila Mesias datang” anak perempuan akan
menentang ibu mereka, dan para menantu perempuan menentang ibu mertua mereka” (Sanherdrin
97.a).
Dengan
pertimbangan latar belakang itu, Yesus kemungkinan menyampaikan tuntutan Mesias
dengan maksud dan cara yang tidak akan dilihat ssepintas lalu di zaman modern
ini. tetapi, bagi seorang Yahudi abad pertama mungkin mudah mengaitkannya.
Lebih
banyak dalam pengajaran Yesus adalah agar Dia secara mutlak menjadi yang
pertama di dalam kehidupan setiap pengikut yang benar. Dia menjadi lebih
penting dari pada hubungan-hubungan manusia bahkan yang paling dekat, lebih
penting dari pada apa pun.
Yesus
tidak membentangkan masalah teoretis yang abstrak. Sepanjang zaman orang-orang
telah membuat keputusan-keputusan yang menyakitkan untuk mengikuti Dia walau
dihadapkan dengan protes pasangan, atau anak-anak, atau komunitas yang lebih
besar. Pilihan-pilihan seperti itu adalah yang paling menyakitkan yang
harus kita buat. Namun keputusan-keputusan itu sama pentingnya bagi kehidupan
kekal walau menyakitkan.
Tuhan,
berikan saya kasih karunia agar dapat menyusun prioritas saya dengan benar.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar