Senin, 16 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 17 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa, 17 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”                    
                                   
“Keputusan-Keputusan  Yang  Menakutkan”

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:34-37).

Itulah pernyataan penting dari Dia yang disebut “Raja Damai” (Yes. 9:6). Di sini kita mendapati Yesus dalam keadaan paling realistis. Para pengikut-Nya mungkin tidak perlu takut, tetapi banyak untuk ditakuti, termasuk keluarga kita sendiri apabila beberapa memutuskan untuk berjalan bersama-Nya sesuai dengan prinsip-prinsip-Nya, sementara yang lain memilih untuk menentang-Nya dan prinsip-prinsip-Nya, masing-masing dengan pendapat yang kuat mengenai topik itu.

Pernyataan Yesus bahwa “Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,” kemungkinan besar mempengaruhi para pendengar-Nya dalam dua tahap bersamaan. Pada tahap pertama, Yesus menggunakan bahasa familiar bagi para pendengar Yahudi. Nabi Mikha menulis: “Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, manantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mi. 7:6).

Para rabi menggunakana ayat itu dan menerapkannya pada zaman Mesias (m.Sotah 9:15). Lagi-lagi mereka mengajarkan bahwa salah satu peristiwa yang akan terjadi pada kedatangan Mesias adalah perpecahan dalam keluarga-keluarga. Dengan  demikian kita membaca: “Apabila Mesias datang” anak perempuan akan menentang ibu mereka, dan para menantu perempuan menentang ibu mertua mereka” (Sanherdrin 97.a).

Dengan pertimbangan latar belakang itu, Yesus kemungkinan menyampaikan tuntutan Mesias dengan maksud dan cara yang tidak akan dilihat ssepintas lalu di zaman modern ini. tetapi, bagi seorang Yahudi abad pertama mungkin mudah mengaitkannya.

Lebih banyak dalam pengajaran Yesus adalah agar Dia secara mutlak menjadi yang pertama di dalam kehidupan setiap pengikut yang benar. Dia menjadi lebih penting dari pada hubungan-hubungan manusia bahkan yang paling dekat, lebih penting dari pada apa pun.

Yesus tidak membentangkan masalah teoretis yang abstrak. Sepanjang zaman orang-orang telah membuat keputusan-keputusan yang menyakitkan untuk mengikuti Dia walau dihadapkan dengan protes pasangan, atau anak-anak, atau komunitas yang lebih besar. Pilihan-pilihan  seperti itu adalah yang paling menyakitkan yang harus kita buat. Namun keputusan-keputusan itu sama pentingnya bagi kehidupan kekal walau menyakitkan.


Tuhan, berikan saya kasih karunia agar dapat menyusun prioritas saya dengan benar. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar