Renungan Pagi Advent: Minggu, 08 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“KEKRISTENAN BUKAN TAWAR MENAWAR”
“Hal kerjaan sorga itu seumpama
harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi.
Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal kerajaan sorga itu seumpama
seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat
berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat.
13”44-46)
Kita semua menyukai harga
murah. Beberapa orang akan berdiri di
luar took selama berjam-jam menunggu toko dibuka, agar bisa mendapatkan
barang-barang dengan harga murah. Pendeknya, mereka ingin membayar sedikit
untuk sesuatu yang harganya mahal.
Dari sudut pandang si pemburu
harga murah, Kekristenan sunguh-sungguh suatu tawaran yang buruk.
Perumpamaan tentang harta yang
terpendam dan mutiara yang sangat berharga membawa kita kembali ke faktor
respons manusia dalam penolakan terhadap Yesus yang Dia kemukakan di dalam
perumpamaan tentang 4 jenis tanah. Maka tidak mengerankan sama sekali bahwa
kerajaan Yesus tidak popular mayoritas, termasuk para pemimpin agama. Dan sampai
sekarang masih tidak digandrungi.
Mengapa? Karena harga menerima
Yesus sebagai Kristus dan Tuhan tidak kurang dari semua yang kita miliki dan
semua keberadaan kita. Nantinya Dia akan memberitahu murid-murid-Nya bahwa
harga kerajaan itu adalah penyaliban diri mereka sendiri (Mat. 16:24,25).
Dengan demikian Dietrich
Bonhoeffer, yang kehidupannya berakhir ketika dia dieksekusi karena berusaha
mengakhiri kegilaan Hitler, menulis bahwa “Ketika Kristus memanggil seseorang,
Dia meminta orang itu datang dan mati.” Ini bukan harga yang murah. Umat Kristen
yang benar adalah mereka yang melihat nilai yang Kristus tawarkan dan dengan
rela bersedia menyerahkan semua yang mereka miliki dan menjadi bagian tawaran
itu. Itu bukan harga yang murah.
Tetapi ada pemburuh harga yang
murah yang petantang-petententeng sekitar gereja. Mereka menginginkan
mutiara-harta karun tetapi hanya dengan harga diskon. Sudut pandang itu
membantu kita mengerti gereja. Hanya beberapa
anggotanya menyerahkan segalanya. Yang lain hanya sekedar lalang yang tampak
seperti gandum ditaman Tuhan. Agar menjadi
gandum murni, seseorang harus bersedia meninggalkan semuanya demi kerajaan
sorga.
Jika kita sungguh-sungguh melihat
apa yang Kristus tawarkan, barangkali kita akan menyadari bahwa tawaran itu
sesungguhnya murah. Apakah yang saya tinggalkan? Satu kehidupan kecil pendek
yang akan berakhir dengan kematian dan diboncengi masalah sepanjang hidup. Untuk
apa? Kehidupan kekal dalam sebuah dunia yang tidak mengenal penyakit atau kepedihan
atau duka nestapa (Why. 21:1-4)
Sama sekali bukan tawaran harga
yang buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar