Renungan Pagi Advent: Kamis, 5 Mei 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
“MENGAPA KEADAAN GEREJA KACAU?”
“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain
lagi kepada mereka, kata-Nya: ‘Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang
menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur,
datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka
datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah
benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab
tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu
kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia
berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu
mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.
Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang
itu dan ikatlah berbekas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu
ke dalam lumbungku” (Matius 13:24-30).
Pernah Anda perhatikan bahwa keadaan gereja
kacau, semerawut? Bahwa gereja itu hanya memiliki beberapa anggota saja? Bahwa
beberapa dari mereka adalah orang-orang munafik?
Perumpamaan tentang lalang membantu kita
mengerti dari sudut pandang Allah. Perumpamaan itu membawa keterangan Yesus
sedikit lebih jauh dari pada perumpamaan mengenai empat jenis tanah. Walau
jenis-jenis tanah itu menekankan sifat sesat reaksi manusia, tapi perumpamaan
lalang itu menunjuk kepada kegiatan supraalami si Iblis, kepada pertikaian
kosmis antara Kristus dan Setan. Dengan demikian, ucapan Yesus bukan tentang
ketidakbertanggungjawaban manusia, namun tentang pekerjaan si Iblis (ayat
28,39).
Perumpamaan lalang juga tentang gerakan
aktivitas Iblis dan penolakan terhadap Kristus dan prinsip-prinsip-Nya ke dalam
gereja. Yesus memberikan perumpamaan itu untuk membantu umat Kristen sepanjang
masa agar mengerti bahwa gereja tidaklah sempurna. Gereja adalah campuran
lalang (yang tampaknya Kristen) dan gandum (umat Kristen sejati), suatu kondisi
yang akan berlanjut eksistensinya sampai masa penuaian Kedatangan Kedua Kali.
Hal itu tidak menunjukkan bahwa beberapa lalang harus dibuang melalui pemecatan
(lihat Mat. 18:15-20), tetapi sebaliknya bahwa pandangan manusia tidak akan
cukup untuk mengerjakan proses membersihan lalang.
Dan hal itu membawa kita kepada pelajaran
akhir dalam perumpamaan lalang. Allah tidak menjadikan kita hakim bagi
saudara-saudari kita di gereja, kecuali dalam kasus-kasus dosa yang nyata dan
terbuka. Jemaat-jemaat sepanjang sejarah, banyak yang dirobek-robek dan
dihancurkan oleh mereka yang mengambil alih hak istimewa Allah dalam memvonis
dan menghakimi orang lan. Jangan khawatir, kata Yesus, Allah akan memperbaiki
semuanya itu di akhir nanti. Sementara itu, kita perlu menerima gereja sebagaimana
Kristus memberitahu keadaannya-kurang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar