Renungan
Pagi Advent: Senin, 9 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“PERUMPAMAAN YANG
MEMBAWA SAYA KEMBALI KE GEREJA”
“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama
pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan
mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka
buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat –malaikat akan datang
memisahkan orang jahat dari orang benar”’ (Matius 13: 47-49).
Dalam batin saya, saya seorang perfeksionis.
Bukan saja ingin menjalani kehidupan yang sempurna (tanpa dosa), tetapi saya
ingin menggembalakan gereja yang sempurna. Ditobatkan dari agnostikisme pada
usia 19 tahun, saya idealis dan cita-cita yang sangat tinggi. Itu baik-baik
saja, tetapi apa yang saya canangkan itu tidak bersambung dengan realitas Alkitabiah.
Setelah beberapa tahun dalam pengembalaan,
saya hanya bisa simpulkan bahwa gereja-gereja yang saya layani benar-benar
kacau. Gereja-gereja itu tidak sempurna! Dan saya mulai meragukan diri saya
sendiri. Solusi saya: Berhenti bekerja. Bukan saja berhenti bekerja tetapi
mempelajari falsafah untuk menemukan makna hidup sesungguhnya. Yang akan saya
lakukan adalah secara progresif menjauh dari gereja dan yang saya rasakan
sebagai Kekristenan.
Hanya ada satu masalah – upaya meloloskan diri
tidak berhasil. Pada akhir tahun studi saya, saya mencapai kesimpulan
bahwa falsafah sama sekali tidak punya jawaban mutlak tentang arti kehidupan.
Dan karena saya sudah menjelajah agama-agama Timur untuk menapatkan penghargaan
dan ternyata menemukan bahwa agama-agama di sana masih banyak kekurangannya,
lalu saya menjadi agak binggung.
Jawaban satu-satunya yang dapat saya bayangkan
adalah kembali ke cara hidup saya yang dulu yaitu mengejar kesenangan dan
kepelisiran yang sudah saya tinggalkan pada usia 19 tahun. Setidaknya kehidupan
demikian berarti jangka pendek: “Makan, minum dan bersenang-senanglah, karena
besok kita mati.” “Jika rasanya enak, lakukan!” Tetapi dari pengalaman, saya
sudah tahu kekosongan solusi itu. Saya sungguh menginginkan makna.
Untuk mengutarakannya secara lembut, saya
sangat frustasi. Pada perjalanan saya, terjadi tiga hal kurang lebih bersamaan.
Salah satunya membawa saya kembali ke Matius 13: 47-49 dan perumpamaan pukat.
Memtor saya yang Yahudi secular secara kebetulan membantu saya melihat bahwa
tiap gerakan keagamaan terdiri atas umat percaya yang benar dan mereka yang
hanya nebeng saja, termasuk “umat Kristen” berbudaya.
Mendadak “pukat” menyergap pikiran saya.
Mengapa saya tidak melihatnya lebih dahulu, bukankah Yesus sudah membereskan sebagian
masalah saya 2.000 tahun sebelumnya? Gereja selalu merupakan, dan sampai akhir
akan tetap merupakan suatu campuran orang-orang yang benar-benar percaya dan
telah menyerahkan semua demi kerajaan dan mereka yang hanya menyamar.
Saya pikir itulah jenis jemaat-jemaat yang
saya kenal. Dengan pemikiran itu, maka saya kembali pulang ke gereja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar