Renungan Pagi Advent: Senin, 30 Mei 2016 “Pandanglah
Pada
Yesus”
“MENYAMPAIKAN HARAPAN KEPADA PARA ANGGOTA GEREJA”
“Kata ayahnya kepadanya: ‘Anakku, engkau selalu
bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita
patut bersukcita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup
kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”’ (Lukas 15:3,32).
Betapa besar tragedinya menghabiskan seluruh kehidupan kita di
rumah bapa sedangkan sama sekali tidak mengerti hatinya. Lebih buruk lagi,
betapa suatu parodi besar menghabiskan seluruh hidup kita di gereja dan tidak
pernah memahami kasih dan karunia Bapa.
Dengan anak sulung ini, kita kembali ke perumpamaan mata uang
yang dicatat di dalam Lukas 15. Kepingan uang itu dari luar kelihatan bagus,
mengilat dan menarik. Tetapi kepingan itu hilang. Sebagai kepingan mata uang,
itu tidak memiliki pengertian spiritual sama sekali. Terkesan penampilan
lahiriahnya, kepingan itu bahkan tidak tahu keadaan hilangnya. Tetapi itu masih
di dalam rumah, gereja, rumah ibadat.
Di sini Yesus kembali kepada orang-orang Farisi di antara hadirin yang sedang mendengarkan apa yang dibeberkan dalam ayat 1 dan 2. Berbicara kepada semua yang sedang mendengarkan kepada-Nya, Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang kepada orang-orang awam (para pendosa) yang mengetahui bahwa mereka hilang, tetapi tidak tahu harus berbuat apa mengatasinya. Dia menggelar kisah anak yang hilang untuk memperhadapkan para pemungut cukai yang sedang mendengar, pemberontak di hati yang bermewah-mewah atas hasil tidak jujur mereka. Tetapi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan para anggota gereja yang “baik” mendapat dua dosis: Perumpamaan kepinginan uang yang tidak punya pengertian dan perumpamaan orang yang bekerja keras dan pergi ke gereja yang tampaknya memiliki semua secara teratur dan rapi, tetapi sesungguhnya hilang sama sekali, dia tidak menyadarinya.
Di akhir perumpamaan itu ada anak sulung, yang sedikit pun tak
mengerti mengapa Allah menyukai pesta. Dia selalu mengkritik orang lain dan iba
pada dirinya sendiri. Namun sesungguhnya bisa saja untuknya diadakan pesta.
Yang perlu dia lakukan hanyalah meminta. Tragedi “anak-anak sulung” gereja
dalam kehidupan adalah bahwa mereka tidak mengerti Bapa. Mereka hanya duduk di
gereja dan rileks-bahkan terhadap kasih karunia.
Kisahnya berakhir dengan sang ayah perlu masuk ke dalam
kegelapan dan berusaha sebisanya menjangkau hati anak sulungnya, mencari
seperti sang wanita itu mencari kepinginannnya.
Bagian paling membuat kita frustrasi dari perumpamaan ini adalah
bahwa kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Sebabnya ialah karena
kisah ini belum berakhir. Ini adalah mengenai saya dan Anda yang berada di luar
sana di malam hari yang gelap. Dan Allah sedang menanyakan kita apakah kita
akan melanjutkan mempunyai pikiran seorang budak sewaan atau akhirnya menjadi
anak-anak laki-laki dan perempuan yang sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar