Selasa, 31 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 1 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 1 Juni 2016  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                     
“BERHATI-HATILAH BERDOA BAGI DIRI SENDIRI”

 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;  yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini aku berpuasa   dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh  dari segala penghasilanku.Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri  dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.   Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. " (Lukas 18:10-14).

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain berdoa bagi diri sendiri mengenai diri sendiri! Tentu saja, segala sesuatu yang dikatakan mengenai dirinya sendiri itu, benar. Dia berpuasa. Dia dengan cermat memberi persepuluhan. Dia tidak seperti orang-orang lain. Dan tentu saja tidak seperti pemungut cukai yang rendah dan mengenaskan itu.

Dalam keseluruhannya, orang Farisi itu orang baik. Dan dia mengetahuinya. Di dalam doanya, dia ingin pastikan bahwa Allah juga mengakui hal itu. Jadi dia menyampaikan kesaksian tentang kebenarannya, kesetiaannya kepada gereja, dan sebagainya. Dia mengingatkan kita pada Rabi Simeon ben Jochai, yang pernah berkata, “Jika hanya ada dua orang yang benar di dunia, saya dan putra saya adalah kedua orang ini; dan jika hanya ada satu, maka sayalah itu!” Sesungguhnya, orang Farisi dalam perumpamaan itu tidak berdoa tetapi memberitahu betapa Allah baik dirinya.

William Barclay menulis, “Tetapi pertanyaannya bukanlah, ‘Apakah saya sebaik sesama saya?’ pertanyaan adalah, ‘Apakah saya sebaik Allah’” Apabila kita melihat diri kita di sisi Allah maka yang seseorang dapat lakukan hanyalah berseru “Ya Allah, kasihinilah aku orang berdosa ini!”

Itulah doa si pemungut cukai. Dan perhatikan bahwa dia berkata, “Aku orang berdosa ini,” dan bukan orang berdosa saja. Secara tajam dia menyadari kekurangan pribadinya dan pemberontakannya. Dari kedalaman hatinya yang hancur, dia terengah-engah mengaku dosanya kepada Allah.

Dan di sinilah mukjizat kasih karunia. Ini bukan kebanggaan karena kebaikan kita yang diperhitungkan Allah. Tetapi dengan jujur berani menghadapi kehidupan kita menurut Firman dan karakter-Nya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita” (1 Yoh. 1:9). “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8,9).

Perhatikan : “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar   dan memandang rendah semua orang lain.” (Luk. 18:9) 


Minggu, 29 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 30 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 30 Mei 2016  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                          
“MENYAMPAIKAN HARAPAN KEPADA PARA ANGGOTA GEREJA”

“Kata ayahnya kepadanya: ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama  dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukcita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”’ (Lukas 15:3,32).

Betapa besar tragedinya menghabiskan seluruh kehidupan kita di rumah bapa sedangkan sama sekali tidak mengerti hatinya. Lebih buruk lagi, betapa suatu parodi besar menghabiskan seluruh hidup kita di gereja dan tidak pernah memahami kasih dan karunia Bapa.

Dengan anak sulung ini, kita kembali ke perumpamaan mata uang yang dicatat di dalam Lukas 15. Kepingan uang itu dari luar kelihatan bagus, mengilat dan menarik. Tetapi kepingan itu hilang. Sebagai kepingan mata uang, itu tidak memiliki pengertian spiritual sama sekali. Terkesan penampilan lahiriahnya, kepingan itu bahkan tidak tahu keadaan hilangnya. Tetapi itu masih di dalam rumah, gereja, rumah ibadat.

Di sini Yesus kembali kepada orang-orang Farisi di antara hadirin yang sedang mendengarkan apa yang dibeberkan dalam ayat 1 dan 2. Berbicara kepada semua yang sedang mendengarkan kepada-Nya, Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang kepada orang-orang awam (para pendosa) yang mengetahui bahwa mereka hilang, tetapi tidak tahu harus berbuat apa mengatasinya. Dia menggelar kisah anak yang hilang untuk memperhadapkan para pemungut cukai yang sedang mendengar, pemberontak di hati yang bermewah-mewah atas hasil tidak jujur mereka. Tetapi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan para anggota gereja yang “baik” mendapat dua dosis: Perumpamaan kepinginan uang yang tidak punya pengertian dan perumpamaan orang yang bekerja keras dan pergi ke gereja yang tampaknya memiliki semua secara teratur dan rapi, tetapi sesungguhnya hilang sama sekali, dia tidak menyadarinya.

Di akhir perumpamaan itu ada anak sulung, yang sedikit pun tak mengerti mengapa Allah menyukai pesta. Dia selalu mengkritik orang lain dan iba pada dirinya sendiri. Namun sesungguhnya bisa saja untuknya diadakan pesta. Yang perlu dia lakukan hanyalah meminta. Tragedi “anak-anak sulung” gereja dalam kehidupan adalah bahwa mereka tidak mengerti Bapa. Mereka hanya duduk di gereja dan rileks-bahkan terhadap kasih karunia.

Kisahnya berakhir dengan sang ayah perlu masuk ke dalam kegelapan dan berusaha sebisanya menjangkau hati anak sulungnya, mencari seperti sang wanita itu mencari kepinginannnya.

Bagian paling membuat kita frustrasi dari perumpamaan ini adalah bahwa kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Sebabnya ialah karena kisah ini belum berakhir. Ini adalah mengenai saya dan Anda yang berada di luar sana di malam hari yang gelap. Dan Allah sedang menanyakan kita apakah kita akan melanjutkan mempunyai pikiran seorang budak sewaan atau akhirnya menjadi anak-anak laki-laki dan perempuan yang sejati.


Kamis, 26 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 27 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 27 Mei 2016  “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                            
“KESELAMATAN CARA MANUSIA”

“Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap engkau dan sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Lukas 15:18,19).

Setidaknya sebagian teologi anak yang hilang itu benar. Sungguh tak layak disebut anak, dia telah menjalani kehidupan dalam keadan memberontak, dimulai dengan tuntunannya agar bapanya memberikan dia bagian warisannya.
“Aku ingin bagianku sekarang, Pak tua. Aku tidak bisa menunggu dan menunggu terus sampai kamu mati. Aku kan harus menjalani kehidupanku. Dan aku ingin melakukannya waktu aku masih muda. Jadi berikan saja karena kamu tidak bisa membawanya ke liang kubur bersamamu.”

Anak baik? Jenis seperti ini sebagian besar kita tidak inginkan. Tidak punya sikap hormat dan hanya memikirkan diri sendiri. Kemudian dia mendapatkan yang dia inginkan. Dan dengan apa yang dia peroleh itu tibalah foya-foya dalam bentuk penyalahhunaan, seks kapan dan di mana saja, dan segala jenis kepelesiran dunia ini. Dan dia sungguh-sungguh tidak berhasrat pada bapanya selama dia punya duit untuk mendukung hobinya. Dia berbalik kepada bapanya hanya bilamana dia putus asa. Itu perbuatan tanpa kasih, hanya dorongan keputusasaan. Ya, dia benar-benar tidak layak jadi seorang anak. Tetapi akhirnya dia bersedia mengakuinya.

Dan dia benar tentang satu hal lain: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Dosa bukan sekedar terhadap sesama. Dosa juga terutama terhadap Allah, Bapa kita semua. Daud mengutarakannya kebenaran itu setelah pengalaman “negeri yang jauh”-nya, menyelingkuhi Batsyeba dan membunuh Uria untuk menutupi jejaknya. Dalam penyesalan dia berseru kepada Allah, Uria untuk menutupi jejaknya. Dalam penyeselamn dia berseru kepada Allah, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa” (Mzm. 51:4).

Teologi yang baik, selama ini. tetapi kemudian putra kedua itu menyimpang dari jalur. “Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”  adalah permohonanya. Untuk mengerti implikasi permohonan itu, kita harus mengingat bahwa ada tiga jenjang orang muda di dalam satu rumahtangga. Pada puncak himpunan sosial itu adalah itu adalah anak-anak. Mereka mempunyai hak dan tanggungjawab istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Di luar itu, mereka adalah ahli waris. Tetapi pemuda yang kembali pulang itu tau bahwa dia sudah kehilangan kedudukan itu.
Kemudian ada para hamba. Mereka memiliki sedikit kepastian. Keluarga memiliki para hamba dan dengan demikian mereka adalah bagian rumah tangga. Di dasar himpunan ini adalah para penolong yang dibayar. Hari ini ada, besok sudah pergi, bergantung pada kebutuhan pekerja. Kedudukan sangat tidak pasti. Jadi sang anak memohon agar bapanya memberikan yang patut dia terima. Rupanya dia inginkan bekerja agar mendapat kembali kasih sayang dia terima. Dengan mengambil pekerjaan paling rendah, dengan lewatnya tahun demi tahun dalam bekerja keras, maka dia dapat membuat dirinya “layak” menyandang status anak kembali. Tetapi dalam pendekatan “keselamatan melalui pekerjaan,” dia sama sekali salah mengerti Bapa.


Selasa, 24 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 25 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 25 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”                        
                                                                              
“BUMBU KEADILAN YANG HILANG”

“Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya” (Lukas 15:11-13).

Bukan tipe anak yang saya inginkan. Bahkan tidak bisa menunggu sampai ayahnya meninggal, tetapi menuntut bagiannya ketika ayahnya masih hidup.

Walau putra yang lebih tua sebagai anak sulung akan menerima porsi dua kali lipat, namun porsi yang muda rupanya juga cukup besar. Dan dia sangat tahu untuk apa dia akan gunakan semua itu. Pertama, ada anggur dan dansa-dansi. Akan ada kebebasan untuk melakukan apa yang ia inginkan, kapan saja dia mau. Dia tidak perlu bekerja lagi, karena kantognya yang tebal itu. Dan masih ada wanita-wanita. Jangan lupakan mereka. Banyak untuk setiap kebutuhannya.’

Tapi ada satu masalah. Dia tidak dapat melakukan semua yang dia inginkan bila terlalu dekat ke rumah. Tidak, dia harus hengkang ke “negeri yang jauh.” Bagaimanapun, dia tahu prinsip-prinsip ayahnya.

Yang menarik tentang perumpamaan kehilangan ini dalam Lukas 15 adalah bahwa sama sekali tidak ada pencarian. Mengapa? Ada pertanyaan bagi kita, apalagi karena seorang putra itu kan lebih berharga daripada domba atau uang logam. Dan untuk kedua itu, dilakukan pencarian.

Jawabannya adalah dalam jenis hilangnya. Uang logam sama sekali tidak punya pengertian spiritual. Inilah orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka hilang. Maka diadakan pencarian. Seekor domba punya sedikit pengertian spiritual, cukup untuk mengetahui bahwa dia hilang, walau sama sekali tidak tahu bagaimana harus pulang. Maka diadakan pencarian.

Tetapi putra itu punya banyak pengertian spiritual. Dia tahu bahwa dia hilang dan sesat dan dia tahu bagaimana pulang. Tetapi yang terakhir yang dia inginkan adlaah untuk pulang. Dia gembira bahwa dia hilang dan sesat dan berencana untuk menikmatinya. Mencari dia, percuma saja.

Dengan kearifannya sang ayah tahu bahwa kasih tidak dapat dipaksakan. Begitu juga dengan saya. Saya masih ingat hari itu, perekrut Korps Marinir menelepon dan ayah saya menemukan bahwa saya meninggalkan perguruan tinggi. Terjadi kehebohan, tetapi apakah yang dapat dilakukan seorang berusia 18 tahun dan sok tahu?

Sang ayah dalam perumpamaan ini melakukan apa yang dapat dia lakukan. Karena kasihnya dia perkenankan anaknya pergi, menyadari dalam hatinya bahwa anaknya nantinya harus belajar dari terjangan keras kehidupan.

Sementara itu, Allah Bapa yang mengasihi tanpa batas itu menunggu kesempatan-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan waktu Dia melihat kita menghabiskan warisan kita. Tidak pernah!


Senin, 16 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 17 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa, 17 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”                    
                                   
“Keputusan-Keputusan  Yang  Menakutkan”

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:34-37).

Itulah pernyataan penting dari Dia yang disebut “Raja Damai” (Yes. 9:6). Di sini kita mendapati Yesus dalam keadaan paling realistis. Para pengikut-Nya mungkin tidak perlu takut, tetapi banyak untuk ditakuti, termasuk keluarga kita sendiri apabila beberapa memutuskan untuk berjalan bersama-Nya sesuai dengan prinsip-prinsip-Nya, sementara yang lain memilih untuk menentang-Nya dan prinsip-prinsip-Nya, masing-masing dengan pendapat yang kuat mengenai topik itu.

Pernyataan Yesus bahwa “Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,” kemungkinan besar mempengaruhi para pendengar-Nya dalam dua tahap bersamaan. Pada tahap pertama, Yesus menggunakan bahasa familiar bagi para pendengar Yahudi. Nabi Mikha menulis: “Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, manantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mi. 7:6).

Para rabi menggunakana ayat itu dan menerapkannya pada zaman Mesias (m.Sotah 9:15). Lagi-lagi mereka mengajarkan bahwa salah satu peristiwa yang akan terjadi pada kedatangan Mesias adalah perpecahan dalam keluarga-keluarga. Dengan  demikian kita membaca: “Apabila Mesias datang” anak perempuan akan menentang ibu mereka, dan para menantu perempuan menentang ibu mertua mereka” (Sanherdrin 97.a).

Dengan pertimbangan latar belakang itu, Yesus kemungkinan menyampaikan tuntutan Mesias dengan maksud dan cara yang tidak akan dilihat ssepintas lalu di zaman modern ini. tetapi, bagi seorang Yahudi abad pertama mungkin mudah mengaitkannya.

Lebih banyak dalam pengajaran Yesus adalah agar Dia secara mutlak menjadi yang pertama di dalam kehidupan setiap pengikut yang benar. Dia menjadi lebih penting dari pada hubungan-hubungan manusia bahkan yang paling dekat, lebih penting dari pada apa pun.

Yesus tidak membentangkan masalah teoretis yang abstrak. Sepanjang zaman orang-orang telah membuat keputusan-keputusan yang menyakitkan untuk mengikuti Dia walau dihadapkan dengan protes pasangan, atau anak-anak, atau komunitas yang lebih besar. Pilihan-pilihan  seperti itu adalah yang paling menyakitkan yang harus kita buat. Namun keputusan-keputusan itu sama pentingnya bagi kehidupan kekal walau menyakitkan.


Tuhan, berikan saya kasih karunia agar dapat menyusun prioritas saya dengan benar. Amin.


Kamis, 12 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat, 13 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat, 13 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“TIDAK  TAKUT”

“Seorang murid tidak boleh lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut” (Matius 10: 24-26).

Tidak taku! Benar begitu? Apakah Yesus tahu apa yang Dia katakan? Apakah ia sudah keluar jalur? Bagaimanapun, Dia baru saja memberikan kepada  mereka daftar segala sesuatu yang akan terjadi kepada mereka dalam ayat 17-23. Dalam ayat 24 dan 25 Dia kemukakan bahwa mereka tidak akan  melebihi Dia tetapi akan dianiaya seperti Dia. Dan Dia sudah tahu bahwa kehidupan-Nya menuju ke salib Romawi. Tetapi Dia mengilustrasikan para murid-Nya agar “tidak takut.”

“’Tidak takut” dan alasan-alasannya akan menjadi bagian utama khotbah Yesus mengenai misi, secara spesifik diucapkan tiga kali dalam ayat 26, 28, dan 31. Fakta yang nyata adalah bahwa dari sudut pandang manusia, para pengikut Yesus akan bertemu dengan banyak perkara yang dapat menimbulkan ketakutan, karena mereka akan menghadapi penolakan, penganiyayaan, dan bakan maut. Tetapi masih saja Dia memberitahu mereka agar “tidak takut.”

Di sini kita semua yang sudah menerima Kristus perlu mendengarkan baik-baik. Kita sering mengalami keringat dingin atau lambung terasa terbalik-balik (tanda-tanda takut) apabila kita sedikit saja ditolak karena kepercayaan kita atau apabila kita harus bicara membela agama kita dalam konteks yang sulit. Dan jika apa yang Yesus katakan itu benar, maka keadaan kita akan menjadi jauh lebih buruk lagi. Tetapi Dia berkata, “tidak takut” atau jangan takut.” Bagaimana Dia bisa begitu yakin akan perintah itu? Bagaimana Dia dengan bermacam-macam unsur yang menimbulkan rasa takut?

Di dalam ayat 26-31, Yesus memberika tiga jawaban yang kuat kepada pertanyaan-pertanyaan yang krusial itu. Pertama, kita tidak perlu takut “karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Mat. 10:26).

Dengan perkataan lain, keadaan tidak akan selalu seperti keadaannya sekarang. Kita melihat perkara-perkara yang samar sekarang ini, tetapi di masa depan kita akan melihat semua itu sebagaimana adanya. Kemudian kebenaran akan menang dan Allah beserta umat-Nya akan berdiri dan dibuktikan tidak bersalah. Pada saat itu, nantinya prinsip-prinsip sang penganiaya dan kepahlawanan umat Kristen sebagai saksi yang percaya akan memperlihatkan nilai sesungguhnya, dan masing-masing akan memperoleh imbalan yang patut didapatnya.

Para saksi Kristus boleh saja “tidak takut” karena mereka mengetahui bahwa penghakiman kekekalan akan memperbaiki penghakiman sang waktu.


Rabu, 11 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 12 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 12 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PENGANIAYAAN YANG MENYEMANGATI”

“Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya…. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu…. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius 10:17-22).

Ini bukan pesan yang telah terlalu membahagiakan! Anda akan mengkhotbahkan damai, tetapi akan berakhir dengan menerima perlakuan bengis.

Para murid itu yang mempunyai telinga untuk mendengar tentu berpikir bahwa mereka sedang mengalami gema Ucapan Bahagia terakhir. “Berbahagialah orang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat. 5: 10-12). Versi Lukas memberitahu kita bahwa kita harus “melompat dengan sukacita” ketika semua kejadian yang jahat itu terjadi kepada kita karena keteguhan kita berdiri untuk Yesus (Luk. 6:23).

Satu hal yang mungkin Anda tidak pernah perhatikan tentang Ucapan Bahagia itu adalah bahwa ucapan itu satu-satunya yang diulangi. Yang memberi dosis ganda pesan “Berbahagialah orang yang dianiaya,” tentu karena pesan ini tidak mengenakkan dan sulit dicerna.

Tetapi berkatnya ada pada ucapan itu. Sebagian besar pembaca halaman ini kemungkinan tidak sedang dianiaya sekarang. Tetapi beberapa mereka akan menemukannya dari keluarga mereka sewaktu mereka mengambil sikap berdiri untuk Yesus. Yang lain merasakan hantaman kuasa si jahat karena mereka telah memilih untuk hidup bagi Yesus di tempat kerja. Dan masih ada yang lain karena mereka tinggal di bawah kekuatan-kekuatan politik yang menentang prinsip-prinsip Kekristenan. Dan jika sekarang Anda aman, Wahyu 13 adalah nubuatan yang jelas bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih ramai di wilayah penganiayaan ketika bumi ini mendekati akhir perjalanannya dan kekuatan-kekuatan jahat melakukan upaya terakhir untuk meremukkan para pengikut Kristus.

Sementara itu, menurut Yesus dalam Matius 10, para pengikut itu tidak perlu takut. Yesus berada di sisi mereka, bahkan memberi mereka kata-kata untuk diucapkan pada masa krisis. Dan apabila mereka telah bertahan “sampai pada kesudahannya” mereka akan “diselamatkan.” Itulah bagian penganiayaan yang membuat kita bersukacita.

Tuhan yang baik, tolonglah saya menjadi pembawa pekabaran Firman-Mu yang setia. Bantulah saya di saat damai dan di saat genting.


Selasa, 10 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 11 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 11 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“BAGIAN RAWAN KERASULAN”

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang” (Matius 10:16,17).

Beberapa orang merasa bahwa ajaran Yesus terbalik. Mereka terlah bertemu beberapa anggota gereja yang tak berbahaya seperti ular dan bijak seperti merpati. Kemungkinan ada beberapa seperti itu di dalam jemaat Anda. Dan dengan sedikit introspeksi yang dibimbing Roh, kita bisa saja menemukan sifat-sifat tersebut di dalam diri kita sendiri.

Tetapi Yesus tidak mengajar terbalik. Dia tahu apa yang Dia sampaikan. Matius 10 adalah yang kedua dari khotbah-khotbah-Nya yang dicatat di dalam Injil pertama. Khotbah pertama adalah Khotbah di Atas Bukit, di mana Dia membentangkan prinsip-prinsip kerajaan-Nya. Saat itu Yesus menginstruksikan para murid-Nya untuk memberitakan prinsip-prinsip tersebut ketika Dia mengutus mereka ke luar pada tour pekabaran Injil mandiri mereka yang pertama.

Sejauh ini insturksi yang mereka peroleh sangat menyemangati. Bukan saja mereka harus mengkhotbahkan pekabaran, tetapi, seperti Yesus, mereka juga diharuskan “Sembuhkanlah orang sakit; tahirkanlah orang kusta: usirlah setan-setan” (Mat 10:8). Kedengarannya seperti tugas besar. Mereka diharuskan melakukan perkara-perkara mengejutkan. Jika semua berjalan baik, mereka akan memiliki kuasa dan wewenang. Mereka tentu mengira bahwa orang-orang akan mencari mereka. Segala sesuatu akan menyenangkan.

Tetapi! Dan “tetapi” adalah salah satu kata paling penting dalam perbendaharaan kata kita. “Tetapi” itu bukan cerita lengkapnya. Alasan bahwa mereka  perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, segera muncul dalam khotbah Yesus dalam kata-kata “tetapi waspadalah terhadap semua orang.”

Para murid  akan mendapat nama, itu sudah pasti, tetapi tidak semuanya positif. Bagaimana, itu belum terlalu jauh dalam pengalaman Yesus. Dia menyampaikan suatu khotbah yang menentang budaya yang para perorangan sudah kelola di dalam dunia Yahudi-para imam kepla, orang-orang Farisi, para ahli Taurat, dan Sanhedrin-yang akan tampak sebagai tantangan terang-terangan terhadap kedudukan mereka

Dia bukan memenangkan teman dengan berseru di depan umum, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek-moyangmu, tetapi Aku berkata kepadamu.” Pekabaran-Nya berkonfrontasi dengan kekuasaan yang ada. Dan mereka akan bereaksi, dan akhirnya meletakaan Yesus pada kayu salib.

Dan sekarang Yesus memberitahu para pengikut-Nya untuk melakukan dan mengatakan hal-hal yang sama. Mereka juga akan ditentang. Akibatnya, mereka membutuhkan kecerdikan ular dan ketulusan merpati sementara mereka keluar masuk sebuah dunia kompleks dan rumit.


Minggu, 08 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 9 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 9 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PERUMPAMAAN YANG MEMBAWA SAYA KEMBALI KE GEREJA”

“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat –malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar”’ (Matius 13: 47-49).

Dalam batin saya, saya seorang perfeksionis. Bukan saja ingin menjalani kehidupan yang sempurna (tanpa dosa), tetapi saya ingin menggembalakan gereja yang sempurna. Ditobatkan dari agnostikisme pada usia 19 tahun, saya idealis dan cita-cita yang sangat tinggi. Itu baik-baik saja, tetapi apa yang saya canangkan itu tidak bersambung dengan realitas Alkitabiah.

Setelah beberapa tahun dalam pengembalaan, saya hanya bisa simpulkan bahwa gereja-gereja yang saya layani benar-benar kacau. Gereja-gereja itu tidak sempurna! Dan saya mulai meragukan diri saya sendiri. Solusi saya: Berhenti bekerja. Bukan saja berhenti bekerja tetapi mempelajari falsafah untuk menemukan makna hidup sesungguhnya. Yang akan saya lakukan adalah secara progresif menjauh dari gereja dan yang saya rasakan sebagai Kekristenan.

Hanya ada satu masalah – upaya meloloskan diri tidak berhasil.  Pada akhir tahun studi saya, saya mencapai kesimpulan bahwa falsafah sama sekali tidak punya jawaban mutlak tentang arti kehidupan. Dan karena saya sudah menjelajah agama-agama Timur untuk menapatkan penghargaan dan ternyata menemukan bahwa agama-agama di sana masih banyak kekurangannya, lalu saya menjadi agak binggung.

Jawaban satu-satunya yang dapat saya bayangkan adalah kembali ke cara hidup saya yang dulu yaitu mengejar kesenangan dan kepelisiran yang sudah saya tinggalkan pada usia 19 tahun. Setidaknya kehidupan demikian berarti jangka pendek: “Makan, minum dan bersenang-senanglah, karena besok kita mati.” “Jika rasanya enak, lakukan!” Tetapi dari pengalaman, saya sudah tahu kekosongan solusi itu. Saya sungguh menginginkan makna.

Untuk mengutarakannya secara lembut, saya sangat frustasi. Pada perjalanan saya, terjadi tiga hal kurang lebih bersamaan. Salah satunya membawa saya kembali ke Matius 13: 47-49 dan perumpamaan pukat. Memtor saya yang Yahudi secular secara kebetulan membantu saya melihat bahwa tiap gerakan keagamaan terdiri atas umat percaya yang benar dan mereka yang hanya nebeng saja, termasuk “umat Kristen” berbudaya.

Mendadak “pukat” menyergap pikiran saya. Mengapa saya tidak melihatnya lebih dahulu, bukankah Yesus sudah membereskan sebagian masalah saya 2.000 tahun sebelumnya? Gereja selalu merupakan, dan sampai akhir akan tetap merupakan suatu campuran orang-orang yang benar-benar percaya dan telah menyerahkan semua demi kerajaan dan mereka yang hanya menyamar.

Saya pikir itulah jenis jemaat-jemaat yang saya kenal. Dengan pemikiran itu, maka saya kembali pulang ke gereja.


Sabtu, 07 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Minggu, 08 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Minggu, 08 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“KEKRISTENAN BUKAN TAWAR MENAWAR”

“Hal kerjaan sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh  miliknya lalu membeli ladang itu.  Demikian pula hal kerajaan sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.  Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat. 13”44-46)

Kita semua menyukai harga murah.  Beberapa orang akan berdiri di luar took selama berjam-jam menunggu toko dibuka, agar bisa mendapatkan barang-barang dengan harga murah. Pendeknya, mereka ingin membayar sedikit untuk sesuatu yang harganya mahal.

Dari sudut pandang si pemburu harga murah, Kekristenan sunguh-sungguh suatu tawaran yang buruk.
Perumpamaan tentang harta yang terpendam dan mutiara yang sangat berharga membawa kita kembali ke faktor respons manusia dalam penolakan terhadap Yesus yang Dia kemukakan di dalam perumpamaan tentang 4 jenis tanah. Maka tidak mengerankan sama sekali bahwa kerajaan Yesus tidak popular mayoritas, termasuk para pemimpin agama. Dan sampai sekarang masih tidak digandrungi.

Mengapa? Karena harga menerima Yesus sebagai Kristus dan Tuhan tidak kurang dari semua yang kita miliki dan semua keberadaan kita. Nantinya Dia akan memberitahu murid-murid-Nya bahwa harga kerajaan itu adalah penyaliban diri mereka sendiri  (Mat. 16:24,25).

Dengan demikian Dietrich Bonhoeffer, yang kehidupannya berakhir ketika dia dieksekusi karena berusaha mengakhiri kegilaan Hitler, menulis bahwa “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia meminta orang itu datang dan mati.” Ini bukan harga yang murah. Umat Kristen yang benar adalah mereka yang melihat nilai yang Kristus tawarkan dan dengan rela bersedia menyerahkan semua yang mereka miliki dan menjadi bagian tawaran itu. Itu bukan harga yang murah.

Tetapi ada pemburuh harga yang murah yang petantang-petententeng sekitar gereja. Mereka menginginkan mutiara-harta karun tetapi hanya dengan harga diskon. Sudut pandang itu membantu kita mengerti gereja.  Hanya beberapa anggotanya menyerahkan segalanya. Yang lain hanya sekedar lalang yang tampak seperti gandum ditaman Tuhan.  Agar menjadi gandum murni, seseorang harus bersedia meninggalkan semuanya demi kerajaan sorga.

Jika kita sungguh-sungguh melihat apa yang Kristus tawarkan, barangkali kita akan menyadari bahwa tawaran itu sesungguhnya murah. Apakah yang saya tinggalkan? Satu kehidupan kecil pendek yang akan berakhir dengan kematian dan diboncengi masalah sepanjang hidup. Untuk apa? Kehidupan kekal dalam sebuah dunia yang tidak mengenal penyakit atau kepedihan atau duka nestapa (Why. 21:1-4)

Sama sekali bukan tawaran harga yang buruk.





Kamis, 05 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat, 06 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat, 06 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“MISTERI DARI SEMUANYA”

“Lalu kata Yesus : ‘Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.  Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu’ (Markus 4:26-28)

Keajaiban dari semuanya! Suatu hari anda mendapat tanah dan benih kecil yang kelihatan mati. Seminggu kemudian anda punya tanaman yang bertumbuh.

Kita harus melihat perumpamaan benih yang bertunas sebagai pengembangan perumpamaan penabur (Mat. 13:3-8; mrk. 4:1-20), terutama bagian akhir,yang membicarakan kesuburan tanah yang baik. Dalam semuanya itu, perumpamaan tentang penabur agak mengecilkan hati, karena secara predominan berbicara mengenai kegagalan orang yang menabur benih Injil, dimana hanya seperempat pendengarnya sungguh-sungguh menerima firman.

Perumpamaan benih yang bertumbuh merupakan koreksi dari Yesus sebagai dorongan bagi mereka yang tergoda untuk merasa kecil hati karena banyaknya pekerjaan yang tidak membawa hasil akibat masalah “mendengar.” Dasar perumpamaan benih yang bertunas ini adalah banyak hal terjadi, -namun Allah sedang menumbuhkan kerajaan-Nya dalam hati orang-orang bahkan ketika kita sedang tidur. Ini sebuah proses yang kita tidak mengerti, suatu proses pengecambahan dan buah yang sedang terjadi.

Ellen White membentangkan kebenaran itu dengan cara yang selama bertahun-tahun saya anggap telah membesarkan hati saya. Berbicara mengenai hari kebangkitan, dia menulis, “semua yang membingungkan dari pengalaman hidup akan dibuat jelas. Dimana bagi kita hanya tampak kebingungan dan kekecewaan, tujuan-tujuan yang hancur dan rencana-rencana yang gagal, akan terlihat sebuah tujuan yang agung, penolakan-penolakan, tujuan-tujuan yang berhasil, suatu keselarasan Ilahi.

“Di sana semua yan telah bekerja dengan semangat yang tidak mementingkan diri sendiri akan melihat buah jerih payah mereka……………betapa sedikit sekali hasil pekerjaan paling agung di dunia yang berada dalam daftar kehidupan si pelaku! Betapa banyak keringat tanpa memikirkan diri sendiri dan tanpa lelah bagi mereka yang selama ini di luar jangakuan dan pengetahuna mereka! Orang tua dan para guru mereka berbaring dalam tidur terakhir mereka, pekerjaan seumur hidup mereka seakan-akan telah dikerjakan percuma; mereka tidak mengetahui bahwa kesetiaan mereka telah membuka segel sumber-sumber berkat yang takkan pernah berhenti mengalir……orang menabur benih dari mana, di atas makam mereka, orang lain dapat menuai dengan penuh berkat.  Di sini mereka puas karena mengetahui bahwa mereka telah menggerakan agen-agen untuk selamanya. Dalam hidup akhirat aksi dan reaksi dari semua ini akan terlihat” (Education, hlm. 305)


Pelajarannya: Jangan kecewa apapun hasil yang terlihat. Roh Kudus selalu berkerja dalam cara yang kita tidak mengerti.

Rabu, 04 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 5 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 5 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“MENGAPA KEADAAN GEREJA KACAU?”

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ‘Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berbekas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku” (Matius 13:24-30).

Pernah Anda perhatikan bahwa keadaan gereja kacau, semerawut? Bahwa gereja itu hanya memiliki beberapa anggota saja? Bahwa beberapa dari mereka adalah orang-orang munafik?

Perumpamaan tentang lalang membantu kita mengerti dari sudut pandang Allah. Perumpamaan itu membawa keterangan Yesus sedikit lebih jauh dari pada perumpamaan mengenai empat jenis tanah. Walau jenis-jenis tanah itu menekankan sifat sesat reaksi manusia, tapi perumpamaan lalang itu menunjuk kepada kegiatan supraalami si Iblis, kepada pertikaian kosmis antara Kristus dan Setan. Dengan demikian, ucapan Yesus bukan tentang ketidakbertanggungjawaban manusia, namun tentang pekerjaan si Iblis (ayat 28,39).

Perumpamaan lalang juga tentang gerakan aktivitas Iblis dan penolakan terhadap Kristus dan prinsip-prinsip-Nya ke dalam gereja. Yesus memberikan perumpamaan itu untuk membantu umat Kristen sepanjang masa agar mengerti bahwa gereja tidaklah sempurna. Gereja adalah campuran lalang (yang tampaknya Kristen) dan gandum (umat Kristen sejati), suatu kondisi yang akan berlanjut eksistensinya sampai masa penuaian Kedatangan Kedua Kali. Hal itu tidak menunjukkan bahwa beberapa lalang harus dibuang melalui pemecatan (lihat Mat. 18:15-20), tetapi sebaliknya bahwa pandangan manusia tidak akan cukup untuk mengerjakan proses membersihan lalang.

Dan hal itu membawa kita kepada pelajaran akhir dalam perumpamaan lalang. Allah tidak menjadikan kita hakim bagi saudara-saudari kita di gereja, kecuali dalam kasus-kasus dosa yang nyata dan terbuka. Jemaat-jemaat sepanjang sejarah, banyak yang dirobek-robek dan dihancurkan oleh mereka yang mengambil alih hak istimewa Allah dalam memvonis dan menghakimi orang lan. Jangan khawatir, kata Yesus, Allah akan memperbaiki semuanya itu di akhir nanti. Sementara itu, kita perlu menerima gereja sebagaimana Kristus memberitahu keadaannya-kurang sempurna.


Selasa, 03 Mei 2016

Renungan Pagi Advent: Rabu, 4 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Rabu, 4 Mei 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“PERUMPAMAAN: TEKNIK MENGAJAR YANG MENYELIDIK”

“Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti…. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Matius 14:10-16).


Di sini ada pernyataan yang membingungkan. Apakah Yesus sesungguhnya mengatakan bahwa Dia mengajar dengan perumpamaan untuk menyembunyikan kebenaran dan bukan menjelaskannya kepada semua pendengar-Nya? Apakah maksud-Nya ketika Dia memberitahu murid-murid-Nya, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menganggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun” (Mrk. 4:11,12)?

Versi Markus lebih membingungkan daripada versi Matius. Yohanes dan Yesus, duanya membawa pelayanan ke depan umum dengan seruan untuk bertobat. Apakah Yesus berbicara melalui perantaraan perumpamaan untuk membuat gagasan-gagasan lebih jelas atau untuk mengacau-balaukan dengan cara sedemikian rupa, sehingga orang tidak mampu mengerti dan bertobat?

Pernyataan-pernyataan Yesus telah menyulitkan orang-orang sepanjang masa. Pernyataan-pernyataan itu tampaknya justru bertolak-belakang dengan alasan-Nya menggunakan perumpamaan.

Salah satu cara memecahkan masalah itu adalah, bahwa Yesus berbicara kepada setidaknya empat kelompok orang di antara para pendengar bersamaan: (1) kedua belas murid (2) kelompok pengikut lebih besar yang kepercayaan mereka tidak stabil, (3) ”orang banyak,” termasuk banyak yang ingin tahu tetapi belum tentu percaya, dan (4) para lawan-Nya.

Di dalam konteks seperti itu perumpamaan berfungsi memisahkan para hadirin antara mereka yang sungguh berminat dan mereka yang mencari hiburan. Yesus menggunakan perumpamaan sebagai metode agar para pendengar-nya mengerti apa yang dibicarakan dan menggumuli topik itu dalam pikiran mereka, sehingga mereka bisa mengerti lebih dalam. Ia menginginkan mereka berpikir sampai mengerti maksud yang ada di dalam cerita itu.

Sebaliknya, sebagian diutarakan William Barclay, “Perumpamaan itu menyembunyikan kebenaran dari mereka yang entah terlalu malas untuk berpikir atau terlalu buta melalui syakwasangka untuk melihat.” Metode mengajar ini menjadi semacam penghakiman karena memisahkan lalang dari gandum, mereka yang berpikiran duniawi dan mereka yang berpikiran rohani.

Pelajaran: Allah menginginkan saya bergulat dengan kebenaran-kebenaran besar Firman-Nya