Sabtu, 09 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Minggu, 11 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Minggu, 11 Juli 2016  “Pandanglah Pada Yesus”        

“YESUS  MEMBERI  JAWABAN  “BENAR””

“Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’… Jawab Yesus: ‘… Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah; Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” (Markus 10:17-19).

Penguasa muda kaya raya itu mengharapkan jawaban berkaitan dengan perilaku terhadap pertanyaannya tentang keselamatan, dan Yesus memberikan dia apa yang dia inginkan, memberitahu dia bahwa jika dia ingin memperoleh kehidupan yang kekal dia harus “menuruti perintah Allah” (Mat. 19:17). Kemudian Yesus menyebut beberapa dari Sepuluh Perintah.

Perintah-perintah yang disebut Yesus itu membantu kita mulai mengerti masalah laki-laki muda itu. Kita harus memperhatikan setidaknya empat hal mengenai perintah-perintah yang disebut itu, pertama, perintah-perintah yang diucapkan semua berasal loh batu kedua hukum dan berkaitan dengan cara orang memperlakukan orang lain. Pilihan itu memberi pertunjuk bahwa masalahnya kemungkinan berpusat pada hubungannya dengan orang lain dan bukan mengenai pengabdiannya kepada Allah.

Kedua, Yesus menyebut perintah-perintah itu secara beraturan: Yang keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembelian. Tetapi kemudian, mengherankan bagi kita, dia menyebut yang kelima sesudah kesembilan. Mengapa? Sudah pasti untuk menarik perhatian kepada perintah tersebut. Penguasa muda kaya raya itu kemungkinan termasuk orang yang Yesus nyatakan bersalah dalam Markus 7:11-13 karena menggunakan tradisi manusia melakukan kurban untuk mencegah mengurus kebutuhan harta benda orangtuanya di hari tua mereka.

Keitga kita menemukan selipan yang bukan salah satu dari Sepuluh Perintah: “Jangan mengurangi hak orang.” Ungkpan ini digunakan mengenai praktik tidak membayar gaji kepada para pegawai. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa kemungkinan dia memperoleh setidaknya sebagian kekayannya dengan merugikan yang miskin.

Keempat, Yesus tidak menyebut perintah kese[uluh (membahas ketemakan) sama sekali. Hal tiu akan terbukti bahwa ketamakan menjadi di pusat masalah rohani pria muda ini.

Di dalam kisah Matius, Yesus menambahkan satu kutipan dari Imamat 19:18 (“kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”) kepada perintah bahwa seseorang harus menaati orangtua (Mat. 19:19). Sekali, lagi, Yesus menggunakan sebuah ayat yang penting di dalam Yudaisme dan di inti masalah pria muda itu.

Menutup pembicaraan kita hari ini, marilah kita menggunakan daya khayal kita. Bayangkan Anda berbicara dengan Yesus tentang Sepuluh Perintah. Bagaimanakah Dia menyusun perintah-perintah itu untuk memenuhi “masalah-masalah” tertentu Anda dalam hubungan Anda dengan Allah dan orang-orang lain? Jawaban jujur Anda akan mengungkapkannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar