Renungan Pagi Advent :
Selasa, 19 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“POSISI UTAMA YANG SESUNGGUHNYA”
"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: 'Kamu tahu,
bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan
besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara
kami, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka
di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang
bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberika nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang'" Matius 20:25-28
Pemikiran yang tepat
mengenai Kemesiasan sejajar dengan pemikiran yang benar tentang apa artinya
menjadi pengikut Mesias. Dan para murid bermasalah dengan keeduanya.
Dosa melahirkan dosa.
Ambisi kuat yang salah dari Yakobus dan Yohanes telah menyebabkan iri hati yang
sengit di antara para murid lainnya. Kelompok kecil itu telah mencapai titik
kritis tepat di nadir Yerusalem dengan salib Yesus. Mereka tercerai berai oleh
ketegangan-ketegangan yang kemungkinan bisa permanen memisahkan mereka dan
menggagalkan tujuan awal Yesus memanggil mereka.
Kita tidak tahu apakah
Yesus terpancing berhenti merespons mereka sebagai murid, menyebut mereka
manusia-manusia keras kepala, dan pergi. Tetapi sudah pasti Dia menarik napas
panjang ketika Dia, sekali lagi, mengajarkan keduabelas orang itu tentang
prinsip-prinsip dasar kerajaan-Nya.
Kali ini fokus-Nya
adalah pada kebesaran sejati dan apa arti sesungguhnya menjadi nomor satu.
Prinsip-prinsip-Nya yang terbalik merupakan kebalikan prinsip-prinsip dunia
pada umumnya. Tidak seperti dunia, di mana yang terbesar adalah para penguasa,
tapi di dalam kerajaan surga yang "besar" (mengacu kembali ke
permohonan Zebedeus di Mat 20:20,21) adalah hamba, dan yang "pertama"
(mengacu ke perumpamaan kebun anggur di ayat 1-16) berarti menjadi hamba. Yesus
menyimpulkan dengan memberi tahu mereka bahwa Dia sendiri datang bukan untuk
dilayani tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya.
Dia telah menguraikan
konsep kepemimpinan hamba dengan sangat jelas. Betapa disayangkan bahwa di
sepanjang sejarah, para pemimpin gereja dan umat Kristen pada umumnya tidak
tertarik kepada konsep ini melebihi para murid. Alasannya sederhana: Model
kepemimpinan hamba bertentangan dengan sifat manusia. Dalam pelaksanaannya yang
berhasil mengharuskan suatu perubahan dan pertobatan.
Yesus sudah
menghabiskan banyak waktu untuk tema kembar mengenai salib-Nya dan salib kita.
Tetapi masih sama sulitnya untuk membuat prinsip itu tertanam di zaman sekarang
seperti keadaannya 20 abad lalu.
Tuhan, ambilah telinga
saya dan bantu saya mendengar. Ambil nyawa saya dan hidupkan prinsip-prinsip-Mu
pada hari ini dan esok hari dan setiap hari. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar