Kamis, 28 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat, 29 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat, 29 Juli 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“Pertentangan: Jalan Dua Jalur (bagian 2)”

“Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: ‘Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya,  sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.’ Yesus menjawab mereka: ‘Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!”’ (Matius 22:23-29).

Peertanyaan kedua dalam serangan balik orang Yahudi terhadap Yesus berasal dari kaum Saduki- musuh bebuyutan kaum Farisi. Mereka bukan saja mencari muka dan berkiblat kepada penguasa Romawi , tetapi mereka sudah menolak seluruh Kitab Suci kecuali Taurat. Menurut Josefus, kaum Saduki beranggapan bahwa “jiwa mati bersama raga” (Antiquities, 18, 14). Jadi mereka  tidak mengakui kemungkinan hidup kekal dan kebangkitan dari kematian.

Penerimaan mereka akan Taurat menggarisbawahi pertanyaan kepada Yesus di Matius 22: 25- 28 mengenai wanita yang menurut tatakrama perkawinan Imamat (Ul. 25:5, 6), mempunyai tujuh suami, tetapi tidak mempunyai anak. Pertanyaan mereka bukan saja meremehkan gagasan kebangkitan, tetapi lebih mendalam, maksud mereka adalah mempermalukan Yesus di depan umum.

Tetapi, sekali lagi Yesus membalikkan argumentasi mereka yang mencela-Nya mengenai dua hal. Pertama, Dia sarankan bahwa pertanyaan mereka cacat karena berdasarkan pengertian yang salah. Yesus katakan, tanpa memahami Kitab Suci, mereka tidak bisa mengerti Allah dan kuasa-Nya. Sebagai orang modern, mereka beranggapan bahwa kehidupan masa depan sama dengan kehidupan  di dunia kita kenal, dengan sedikit perubahan dan perbaikan di sana- sini. Tidak demikian, kata Yesus. Kerajaan baru Allah mengikuti garis-garis yang berbeda. Dia tidak memberitahu kaum Saduki bagaimana keadaan surga karena pikiran mereka tidak sanggup menangkap makna kata-kata-Nya jika Dia jelaskan. Tetapi nyatakan bahwa  di surga tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan sekarang.

Dalam bagian kedua dari jawaban-jawaban-Nya, Yesus mengutip Keluaran 3:6, sekalian menunjukkan bahwa kaum Saduki tidak tahu sama sekali bagian Kitab Suci yang telah mereka terima itu. Allah, Yesus menjelaskan, bukan Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup dan ini mengacu ke depan kepada kebangkitan para leluhur (Mat. 22:32).

Kita umat Kristen modern ditantang. Sebagian besar kita mungkin memandang surga sebagai realita duniawi. Apakah bagian paling rawan dari pengertian seperti itu? Apakah masalahnya? Dengan cara apakah ajaran Alkitab mengenai topik ini melampaui batas-batas pemikiran lazim akan hal itu?


Senin, 25 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Selasa, 26 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

“Perumpamaan  Pertentangan (bagian 2)”

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan… menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada para penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hamba itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu… Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka,… Tetapi… penggarap-penggarap… membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” (Matius 21:33-40).

Perumpamaan kedua bernada pertentangan dalam urutan langkah raksasa jauh ke depan. Kalau perumpamaan kedua anak laki-laki itu menggambarkan perlawanan pasif para pemimpin Yahudi, yang satu perumpamaan aktif begitu aktifnya sehingga menunjuk pada penolakan para nabi dan pembunuhan anak laki-lakinya. Hampir mustahil bagi pemimpin Yahudi untuk tidak mengerti sindiran kepada Israel yang sangat dikasihi Allah dalam penggambaran kebun anggur itu. Yesaya 5:1-7 menggambarkan kebun anggur seperti cara yang Yesus lakukan. Tetapi di Yesaya, kesalahannya terletak pada pokok anggurnya, sedangkan di sini kesalahannya terletak pada para penggarap. Di dalam kedua kasus, akibat kegagalan itu adalah penghakiman Ilahi.

Kita mendapat beberapa pelajaran dari perumpamaan para penggarap. Yang pertama, Allah panjang sabar. Dia tidak mudah hanya sekali mengutus, tapi terus-menerus mengutus. Dia tidak mudah menyerah lalu meninggalkan umat-Nya. Pelajaran kedua juga sama nyata, perbuatan salah yang disengaja para penggarap. Jika tema utama kisah Injil adalah kasih Allah, maka tema yang mengimbangi adalah penolakan umat manusia terhadap kasih itu. Peristiwa menyedihkan dari kedua perumpamaan dan sejarah itu adalah bahwa begitu sering umat Allah dengan angkuh menolak tawaran Allah.

Pelajaran ketiga adalah tindakan umat dan terakhir oleh mengutus Putra-Nya. Namun para penggarap juga membunuh-Nya. Perumpamaan itu menggambarkan bahwa perbuatan itu akhirnya akan membawa penghakiman atas diri mereka.

Pelajaran keempat adalah bahwa penghakiman Allah kemungkinan lama akan tiba, namun penghakiman itu pasti akan dilaksanakan dan tidak dapat diubah lagi. Penghakiman untuk para penggarap tertentu di dalam Matius 21 akan tiba dengan penghancuran Yerusalem.

Pelajaran kelima adalah pindahnya kerajaan Allah dari bangsa Israel kepada orang-orang baru. Yesus berkata dalam pernyataan paling jelas tentang topik ini, “Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43). Orang-orang baru itu adalah gereja Kristen yang mewarisi kesinambungan janji dan tanggung-jawab kaum Yahudi.


Semoga Allah membantu umat-Nya yang baru untuk tidak memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang salah yang disengaja.


Kamis, 21 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Jumat 22 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Jumat 22 Juli 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“PERNYATAAN DI DEPAN UMUM MENJADI TANTANGAN UMUM”

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah.  Ia membalikan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka, ‘Ada tertulis : Rumah-Ku akan disebut rumah doa.  Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun’”(Matius 21:12,13).

Dengan dibersihkannya Bait Allah, Yesus membawa pertentangan itu langsung ke tengah barak musuh. Pertunjukan-Nya di dalam Bait Allah bukanlah sebuah ledakan keinginan atau kemarahan yang pada tempatnya, yang dipicu oleh semngaat seketika dari masuknya ke dalam kota penuh kemenangan.  Membaca Matius dapat memberi kesan tersebut, tetapi Markus memberitahu kita bahwa “keeskoan hari” setelah masuk kota sewaktu dilakukan pembersihan (Mrk. 11:12).  Itulah tepatnya, karena secara pasti ditunjukkan bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang dadakan dan tidak dipikirkan terlebih dulu semata-mata  untuk menantang kalangan Yahudi yang berwenang.  Sebaliknya, kenyataan bahwa satu malam lewat antara masuk-Nya ke dalam kota dan pembersihan memperlihatkan bahwa kita berurusan dengan tantangan yang sudah direncanakan sebelumya yang tujuannya adalah menarik perhatian umat Yahudi kepada misi Yesus.  Jadi dalam pembersihan itu kita menemukan, Dia menyatakan Kemesiasan-Nya dan menyatakan KeallahanNya di pusat Yudaisme.

Tantangan ini sekarang mustahil diabaikan para pemimpin maupun rakyat umum.  Rakyat kebanyakan berbondong-bondong ke Bait Allah dan menyerukan pujian-pujian kepada Mesias “Anak Daud” itu ketika Dia menyembuhkan yang buta dan lumpuh, mereka yang menjadi oang-orang buangan itu (Matius 21:14, 15). Reaksi para imam dan para ahli Taurat terhadap perayaan itu sarat kejengkelan dan kebencian (ayat 15). Antusiasme orang banyak cukup buruk di kota, tetapi sekarang sudah memasuki wilayah khusus mereka dan sangat menodai citra perdagangan di Bait Allah yang begitu menguntungkan.

Maka di dalam episode Bait Allah ini, kita menemukan suatu titik balik dalam penggambaran musuh-musuh Yesus.  Sampai di sini, kitab Injil hampir tidak menyebut para imam agung.   Tetapi mulai dari sekarang dan seterusnya mereka akan memainkan peran utama.

Dalam pembersihan Bait Allah, Yesus menantang struktur kekuasaan religius yang formal Dia nyatakan salah. Para imam agung akan bekerja sama dengan para ahli Taurat dan kaum Farisi untuk menyingkirkan Dia dengan tekad yang tidak ada semula.  Dalam pembersihan Bait Allah, Dia sungguh-sungguh membuktikan bahwa Dia itu musuh yang berbahaya.

Bapa, bantulah kami merenungkan kejadian-kejadian yang menjurus ke kayu salib untuk melihat pentingnya setiap langkah Yesus sementara Dia mengatur keselamatan kami.


Rabu, 20 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis 21 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis 21 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

PERNYATAAN MESIAS DI DEPAN UMUM

“Murid-murid itu...membawa keledai betina itu...Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.  Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya : “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata : “Siapakah orang ini ?” Dan orang banyak itu menyahut : “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea” (Matius 21:6-11).

Waktu untuk kesendirian sudah usai.  Sewaktu masuk ke Yerusalem dengan penuh kemenangan, Yesus membuat pernyataan di depan umum bahwa Dia adalah Mesias.

Orang banyak menyadari kesempatan itu dengan memberi-Nya sambutan permadani merah ketika mereka menghamparkan ranting-ranting dan pakaian mereka di jalanan yang Dia lalui sementara berseru “Hosana bagi Anak Daud” suatu gelar yang tidak diragukan lagi diperuntukkan bagi Mesias.  Terjemahan “Hosana” adalah, “selamatkan, kami memohon darimu.”  Orang – orang siap untuk peran penyelamatan Yesus.  Tetapi yang terjadi jauh berbeda dari yang mereka harapkan pada hari yang mulia ini.

Dan dari mana berasal orang banyak itu ? Dan mengapa mereka begitu bersemangat ? Pertama, itu adalah waktu Paskah yang merayakan pembebasan bangsa itu dari perhambaan di Mesir oleh Allah.  Dengan demikian jalan-jalan penuh sesak orang Yahudi yang menuju Yerusalem dari seluruh dunia.

Kedua untuk diperhatikan ialah bahwa Lazarus baru saja dibangkitkan tidak jauh dari kota itu.  Mukjizat luar biasa itu telah menyebarkan ke mana-mana.

Tetapi barangkali yang paling penting adalah cara yang Yesus pilih untuk memasuki kota.  Pilihan yang sudah dipertimbangkan itu memicu dan mengobarkan semangat dan ketegangan yang sudah tersebar di mana-mana.  Injil memberitahu kita bahwa Dia memasuki kota sambil menunggang keledai muda.  Itu hal menarik bagi seorang laki-laki yang baru saja melakukan perjalanan jauh berjalan kaki dari Galilea.  Tentu saja Dia secara fisik tidak butuh menunggang keledai itu untuk melewati dua mil terakhir.  Lagipula, selama ini Yesus selalu berjalan.  Di sinilah di dalam Injil kita temukan Yesus yang sudah dewasa menunggang keledai.  Apa yang Dia lakukan jelas sudah Dia pertimbangkan.

Hal ini dipandu oleh ramalan Zakaria 9:9, yang mengatakan raja Yerusalem “datang kepadamu; ia adil dan jaya.  Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai beban yang muda.”  Yesus dengan pasti membuat pernyataan Mesias.  Orang banyak tidak mengabaikan apa arti semua itu.  Dan para pemimpin Yahudi juga tidak, tetapi bagi mereka itulah sebuah tantangan dan bukan sesuatu yang harus menjadi kesukacitaan.



Senin, 18 Juli 2016

Renungan Pagi Advent : Selasa, 19 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent : Selasa, 19 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“POSISI UTAMA YANG SESUNGGUHNYA”
"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: 'Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kami, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberika nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang'" Matius 20:25-28
Pemikiran yang tepat mengenai Kemesiasan sejajar dengan pemikiran yang benar tentang apa artinya menjadi pengikut Mesias. Dan para murid bermasalah dengan keeduanya. 
Dosa melahirkan dosa. Ambisi kuat yang salah dari Yakobus dan Yohanes telah menyebabkan iri hati yang sengit di antara para murid lainnya. Kelompok kecil itu telah mencapai titik kritis tepat di nadir Yerusalem dengan salib Yesus. Mereka tercerai berai oleh ketegangan-ketegangan yang kemungkinan bisa permanen memisahkan mereka dan menggagalkan tujuan awal Yesus memanggil mereka.
Kita tidak tahu apakah Yesus terpancing berhenti merespons mereka sebagai murid, menyebut mereka manusia-manusia keras kepala, dan pergi. Tetapi sudah pasti Dia menarik napas panjang ketika Dia, sekali lagi, mengajarkan keduabelas orang itu tentang prinsip-prinsip dasar kerajaan-Nya.
Kali ini fokus-Nya adalah pada kebesaran sejati dan apa arti sesungguhnya menjadi nomor satu. Prinsip-prinsip-Nya yang terbalik merupakan kebalikan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Tidak seperti dunia, di mana yang terbesar adalah para penguasa, tapi di dalam kerajaan surga yang "besar" (mengacu kembali ke permohonan Zebedeus di Mat 20:20,21) adalah hamba, dan yang "pertama" (mengacu ke perumpamaan kebun anggur di ayat 1-16) berarti menjadi hamba. Yesus menyimpulkan dengan memberi tahu mereka bahwa Dia sendiri datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya.
Dia telah menguraikan konsep kepemimpinan hamba dengan sangat jelas. Betapa disayangkan bahwa di sepanjang sejarah, para pemimpin gereja dan umat Kristen pada umumnya tidak tertarik kepada konsep ini melebihi para murid. Alasannya sederhana: Model kepemimpinan hamba bertentangan dengan sifat manusia. Dalam pelaksanaannya yang berhasil mengharuskan suatu perubahan dan pertobatan.
Yesus sudah menghabiskan banyak waktu untuk tema kembar mengenai salib-Nya dan salib kita. Tetapi masih sama sulitnya untuk membuat prinsip itu tertanam di zaman sekarang seperti keadaannya 20 abad lalu.

Tuhan, ambilah telinga saya dan bantu saya mendengar. Ambil nyawa saya dan hidupkan prinsip-prinsip-Mu pada hari ini dan esok hari dan setiap hari. Amin. 

Minggu, 17 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Senin, 18 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Senin, 18 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”
“PERDEBATAN PALING AWAL”
"Maka datanglah Ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: 'Apa yang kaukehendaki?' Jawabnya: 'Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu'" Matius 20:20,21
Satu permintaan kecil saja, Hanya kedua kedudukan paling penting di kerajaan yang akan datang. 
Tidak ada yang berbicara lebih nyaring saat Yesus dan para murid menuju salib ketimbang sudut pandang mereka yang berbeda tentang sifat kerajaan-Nya. Jejak salib dan perdebatan awal itu sejajar pada perjalanan akhir ini.
Dan bilamana ramalan-ramalan Yesus tentang kematian-Nya semakin lebih rinci, maka begitu juga pergumulan menentukan posisi di antara para murid. Yang diuraikan di Matius 20:20,21 adalah upaya murid-murid paling terang-terangan untuk mendapatkan posisi. Yakobus, Yohanes, dan Ibu mereka, tidak sembunyi-sembunyi. Mereka menginginkan dua kedudukan paling berkuasa di kerajaan Yesus yang akan datang-tidak boleh kurang dari itu. Permohonan mereka adalah contoh yang paling nyata sifat manusia yang hanya memikirkan diri sendiri, berlawanan dengan kerendahan hati dan pengorbanan diri Yesus.
Tidaklah mengherankan bahwa Yakobus dan Yohanes melakukan upaya mereka untuk memperoleh kekuasaan ini. Kedua bersaudara itu, bersama Petrus adalah ketiga murid yang merupakan kelompok istimewa pada peristiwa Pemuliaan (Mat 17:1-13). Lebih jauh lagi, bukankah Yesus terang-terangan menegur Petrus di Kaisarea Filipi (Mat 16:23)? Dan bukankah dia menerima secara tidak langsung teguran di Matius 19:30 dalam tanggapan Yesus terhadap pertanyaan apa yang bisa dia peroleh kalau mengikuti-Nya?
Sekrang kesempatan mereka! Jadi mereka datang bersama Ibu mereka, yang menyatakan permohonan. Dan dia kemungkinan mempunyai alasan-alasan hebat berharap bahwa Yesus akan mengabulkannya. Membandingkan Matius 27:56 dengan Markus 15:40, kita menemukan bahwa namanya adalah Salome, dan Yohanes 19:25 mengemukakan bukti bahwa dia adalah sepupu Yesusm dan membantu menerangkan mengapa di kayu salib Dia menyerahkan Ibu-Nya untuk diurus Yohanes (ayat 26,27). Walau kita tidak dapat membuktikan identifikasi itu tanpa sedikit pun keraguan, identifikasi itu cukup mungkin. Maka secara pasti kita dibantu mengerti permohonan nyata dari "Tante" Salome jika itu adalah masalah keluarga.
Permainan mendapatkan kekuasaan, membuat sepuluh murid lainnya marah (Mat 20:24). Harus disayangkan, reaksi mereka bukan karena yang 10 itu mengerti kesalahan permohonan Zebedeus, tetapi karena mereka juga menginginkan posisi tersebut.
Tentu saja ada pelajaran bagi saya terselip di dalam kisah ini.  



Sabtu, 09 Juli 2016

Renungan Pagi Advent: Minggu, 11 Juli 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Minggu, 11 Juli 2016  “Pandanglah Pada Yesus”        

“YESUS  MEMBERI  JAWABAN  “BENAR””

“Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’… Jawab Yesus: ‘… Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah; Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” (Markus 10:17-19).

Penguasa muda kaya raya itu mengharapkan jawaban berkaitan dengan perilaku terhadap pertanyaannya tentang keselamatan, dan Yesus memberikan dia apa yang dia inginkan, memberitahu dia bahwa jika dia ingin memperoleh kehidupan yang kekal dia harus “menuruti perintah Allah” (Mat. 19:17). Kemudian Yesus menyebut beberapa dari Sepuluh Perintah.

Perintah-perintah yang disebut Yesus itu membantu kita mulai mengerti masalah laki-laki muda itu. Kita harus memperhatikan setidaknya empat hal mengenai perintah-perintah yang disebut itu, pertama, perintah-perintah yang diucapkan semua berasal loh batu kedua hukum dan berkaitan dengan cara orang memperlakukan orang lain. Pilihan itu memberi pertunjuk bahwa masalahnya kemungkinan berpusat pada hubungannya dengan orang lain dan bukan mengenai pengabdiannya kepada Allah.

Kedua, Yesus menyebut perintah-perintah itu secara beraturan: Yang keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembelian. Tetapi kemudian, mengherankan bagi kita, dia menyebut yang kelima sesudah kesembilan. Mengapa? Sudah pasti untuk menarik perhatian kepada perintah tersebut. Penguasa muda kaya raya itu kemungkinan termasuk orang yang Yesus nyatakan bersalah dalam Markus 7:11-13 karena menggunakan tradisi manusia melakukan kurban untuk mencegah mengurus kebutuhan harta benda orangtuanya di hari tua mereka.

Keitga kita menemukan selipan yang bukan salah satu dari Sepuluh Perintah: “Jangan mengurangi hak orang.” Ungkpan ini digunakan mengenai praktik tidak membayar gaji kepada para pegawai. Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa kemungkinan dia memperoleh setidaknya sebagian kekayannya dengan merugikan yang miskin.

Keempat, Yesus tidak menyebut perintah kese[uluh (membahas ketemakan) sama sekali. Hal tiu akan terbukti bahwa ketamakan menjadi di pusat masalah rohani pria muda ini.

Di dalam kisah Matius, Yesus menambahkan satu kutipan dari Imamat 19:18 (“kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”) kepada perintah bahwa seseorang harus menaati orangtua (Mat. 19:19). Sekali, lagi, Yesus menggunakan sebuah ayat yang penting di dalam Yudaisme dan di inti masalah pria muda itu.

Menutup pembicaraan kita hari ini, marilah kita menggunakan daya khayal kita. Bayangkan Anda berbicara dengan Yesus tentang Sepuluh Perintah. Bagaimanakah Dia menyusun perintah-perintah itu untuk memenuhi “masalah-masalah” tertentu Anda dalam hubungan Anda dengan Allah dan orang-orang lain? Jawaban jujur Anda akan mengungkapkannya.