Rabu, 15 Juni 2016

Renungan Pagi Advent: Kamis, 16 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Advent: Kamis, 16 Juni 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

“RAGI SIAPA?”

Pada waktu murid-murid Yesus menyeberang danau, mereka lupa membawa roti.  Yesus berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi   orang Farisi dan Saduki. " (Matius 16:5,6).

Selalu saja ada orang yang membuat masalah. Kali ini tak seorang pun membawa roti. Hal itu sangat mencemaskan para murid dan Yesus pun mengetahuinya. Jadi sementara pikiran mereka ada pada roti, Dia memberitahu mereka supaya berhati-hati terhadap ragi orang-orang Farisi dan Saduki, mengacu kepada gagasan-gagasan palsu mereka mengenai agama yang benar, termasuk ide-ide salah mereka mengenai kerajaan dan Mesias. Bagaimanapun mereka sedang berusaha menemukan raja di dunia yang berkuasa dan bukan seorang pelayan yang menderita. Ajaran itu, seperti yang kita lihat pada pemberian makan kepada 5.000 itu. Merupakan masalah bagi para murid. Pemikiran demikian dapat dengan mudah langsung menyebar ke dalam pikiran mereka, mirip dengan ragi yang menyebar ke seluruh bagian adonan.

Tetapi pandangan mengenai fungsi Mesias itu akan segera terpecahkan ketika Yesus menjadi Domba Allah. Dia perlu mencampurkan ragi yang benar dalam pekerjaan mereka sendiri di masa depan.
Yesus mempunyai pekabaran bagi mereka, namun apa yang mereka pikirkan hanyalah perut mereka saja. Hal tersebut mencetuskan apa yang kemungkinan merupakan komentar paling kasar mengenai lambannya pikiran mereka: “Hai orang-orang yang kurang percaya! Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu kumpulkan kemudian?... Bagaimana mugkun kamu tidak mengerti bahwa roti yang Kumaksudkan” (Mat. 16:8-11). Pada saat itu mereka akhirnya menyadari bahwa yang Dia ,maksudkan ragi adalah ajaran-ajaran palsu di mana hal itu dapat tumbuh dan mengisi pikiran mereka.

Satu kenyataan penting untuk diperhatikan bahwa Yesus menghubungkan kaum Farisi dan Saduki menjadi satu. Mereka adalah lawan dalam kehidupan beragama dan politik Yahudi, mempunyai keyakinan-keyakinan radikal untuk gagasan-gagasan berbeda. Tetapi pada Yesus mereka telah menemukan seorang musuh bersama yang mengancam keadaan yang sudah ada. Musuh yang kiat bias menjadi teman aneh yang akrab. Persatuan mereka akan bertahan sampai Penyaliban.

Sementara kita merenung hari ini, kita perlu mengingat pelajaran mengenai ragi dan betapa dahsyatnya falsafah alkitabiah lain mengganggu keyakinan kita. Di atas segala-galanya, kita pelu terus memandang pada Yesus dan Firman-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar