Renungan
Pagi Advent: Jumat, 03
Juni 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
“SEORANG
PALING MENJIJIKKAN BERTEMU YESUS”
Ketika
Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ‘Zakheus,
segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu’. Lalu Zakheus
segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.Tetapi semua orang yang melihat
hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang
berdosa." (Lukas 19:5-7, The Messange).
Seorang
laki-laki yang paling dibenci di kota dipaksakan memanjat pohon dan kejadian
ini sduah pasti merupakan hiburan hari itu bagi penduduk Yerikho hampir sama
menariknya dengan lewatnya Yesus di kota mereka. Bagaimanapun, tidak setiap
hari kita menemukan seorang yang sangat kaya seperti Zakheus mengangkat bajunya
yang mahal dan memanjat pohon.
Sesungguhnya
Zakheus tidak mempunyai pilihan lain jika dia ingin melihat Yesus. Saya
bayangkan bahwa dia sudah mencoba untuk mendapat posisi melihat di jalan.
Karena dia pendek, kemungkinan dia mencoba menyelusup di antar orang banyak
supaya bisa sampai di baris depan. Bagi orang lain, itu mungkin akan berhasil,
tetapi bagi Zakheus itu adalah merupakan pengalaman bagaimana siku berada di
tulang rusuk dan tendangan dari orang-orang banyak yang sedang dorong-mendorong
dan mereka melakukannya tanpa diganjar pajak lebih tinggu di masa mendatang.
Suatu hari orang banyak yang sedang marah, tetapi hari itu mengenaskan yang
membuat Zakheus memar. Dia mendapat apa yang patut dia dapat.
Tetapi
dia juga punya keinginan. Dan salah satunya adalah untuk dapat melihat Yesus,
walau dia menyadari bahwa hanya melihat itu yang akan dia peroleh. Lagi pula,
menurut orang Yahudi, pemungut cukai adalah orang najis. Bukan saja mereka
bekerja untuk bangsa Romawi yang sangat dibenci; mereka juga memeras. Mereka
bisa saja menetapkan nilai pajak yang tinggi semau mereka untuk menguras uang
yang dikumpulkan dengan susah payah. Orang-orang sepert itu tidak diperkenankan
memasuki rumah ibadah.
Naik
diatas pohon adalah solusi satu-satunya. Dan kemudian terjadi mukjizat dari
segala mukjizat, Yesus berhenti tepat di bawah pohon dan menyatakan Diri-Nya
sendiri untuk makan malam di rumah si pendosa itu.
Semua
orang terperangah, apalagi Zakheus. Tetapi orang banyak itu bukan saja
terkejut-tersinggung, mereka bersungut bahwa seorang yang dikatakan nabi mau
berbaikan dengan seorang yang jelas adalah penjahat.
Di
sini, seperti di dalam Lukas 15, kita bertemu lagi dengan sungutan para ahli
Taurat dan orang-orang Farisi. Tetapi kali ini Yesus tidak menyampaikan perumpamaan
tetapi melakukannya secara terang-terangan di dalam kehidupan nyata. Dia
merasakan keperluan di manapun itu ada. Tujuan hidup-Nya adalah memenuhi
kekurangan-kekurangan itu. Zakheus bukan saja orang terkaya di kota, tetapi
seorang yang paling kesepian. Dan di dalam diri Yesus dia menemukan seorang
teman.
Berita
bagusnya ialah bahwa Yesus ingin menjadi teman bagi siapa saja, dari
masing-masing kita jika kita mau merendahkan hati dan mempersilahkan Dia masuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar