Renungan Pagi Sabat, 30 Juni 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Dilahirkan Dengan Acaman Ditangkap
“Setelah
orang-orang Majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam
mimpi dan berkata: ‘Bangunlah ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir
dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan
mencari Anak itu untuk membunuh Dia (Matuis 2:13).
Bayangkan kayu
salib mendominasi kisah Yesus mulai dari sini ke depan. Yesus datang ke dunia
dengan ancaman akan ditangkap. Keluaraga-Nya telah meloloskan diri dari
Betlehem untuk menghindari orang-orang suruhan Herodes. Seseorang yang sama
sekali tidak berpikir panjang untuk membantai keluarganya sendiri jika dia
merasa terancam oleh mereka, memberi perintah pada ranjang kematiannya agar
para warga terkemuka dari Yerusalem dibantai sehingga ada tangis ratapan pada
pemakamannya, tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh lusinan bayi hanya
karena kemungkinan salah satunya akan dianggap sebagai raja di masa mendatang.
Ada orang yang
hidupnya mulus-mulus saja di masa mudanya. Tidak begitu Yesus. Dia lahir ke
dalam bagian sulit dunia pada waktu terjadi kekacauan, ketakutan, dan
kekerasan. Sebagaimana ditemukan N.T, Wright, “Sebelum Panggeran Damai belajar
berjalan dan berbicara, Dia adalah pengungsi tanpa rumah dengan perintah untuk
ditangkap.
Begitulah Allah
berikhtiar untuk membebaskan umatnya dan akhirnya membawa keadailan bagi d.
“Tidak ada alasan,” lanjut Wright, untuk tidak secara nyaman, ketika dunia
sedang sengsara; tidak ada alasan menjalani hidup yang muda, ketika dunia
menderita kekerasan dan ketidakadilan! Jika Dia menjadi Immanuel, Allah beserta
kita, maka Dia harus berada bersama kita di mana ada kepedihan.”
Melarikan diri ke
Mesir di saat kerusuhan adalah tradisi lama di antara orang Israel, sebagaimana
digambarkan oleh kisah Abraham dan Yusuf. Mesir adalah tempat paling aman untuk
mengungsi. Akibatnya, pada zaman Yesus, koloni demi koloni orang Yahudi
terbentuk di seluruh Mesir, di Iskandaria saja bermukim satu juta orang Yahudi.
Maka ketika keluarga itu mencapai Mesir, mereka sebenarnya tidak berada di antara
orang asing.
Setelah Herodes
wafat, Yusuf membawa keluarganya kembali ke Israel, tetapi ke Nazaret karena
perasaan takut yang diilhami malaikat tentang putra Herodes (Mat. 2:19-23).
Nazaret yang kecil dan kumuh. Tempatnya tidak patut bagi seorang raja
dibesarkan. Tempat itu tidak terkenal seperti Yerusalem atau bahkan seperti
Betlehem, suatu lokasi untuk Mesias. Nathanel pernah bertanya-tanya dengan
suara nyaring, apkah mungkin ada sesuatu yang baik bisa keluar dari Nazaret
(Yoh. 1:46).
Mungkin kita
sering tergoda mengeluh tentang keadaan yang dilimpahkan kehidupan kepada kita.
Terkadang, kita iba kepada diri kita sendiri karena ketidakadilan kehidupan. Di
saat-sat itu, pandanglah kepada Yesus yang menjadikan Anda agar Anda suatu hari
nanti mewarisi sebuah kerajaan surgawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar