BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan
yang sangat penting dan berlangsung sepanjang masa.Pendidikan pada dasarnya
dapat membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi
perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Pendidikan yang baik akan
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas baik bagi diri sendiri,
bangsa, dan negara sehingga mampu bersaing dan berkompetisi dengan negara lain.
Dengan demikian, pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan
manusia yang berkualitas dan mampu bersaing disamping memiliki budi pekerti
luhur dan moral yang baik.
Dalam upaya meningkatkan kualitas
sumber daya manusia tidak terlepas dari pembelajaran yang berkualitas.Seorang
guru harus jeli menentukan model pembelajaran yang tepat yang dapat menumbuhkan
minat dan dapat meningkatkan motifasi belajar dan membuat siswa merasa belajar
itu penting dan bermanfaat bagi dirinya.
Sekolah lanjutan pertama (SMP)
merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar, karena itu diharapkan output SMP
benar – benar berkualitas sehingga siswa dapat melanjutkan studi ke jenjang
yang lebih tinggi. Oleh karena itu, diharapkan guru yang bertanggung jawab
terhadap keberhasilan pendidikan, dituntut kesadaran serta kemampuan untuk
melaksanakan tugas pendidikan dengan sebaik – baiknya agar dapat menghasilkan
lulusan yang berkualitas.
Saat ini dunia pendidikan masih
didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta yang
harus dihafal.Kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber
pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama dalam strategi
pembelajaran.
Itulah kenyataan yang dihadapi
oleh sebagian besar guru IPS di Sekolah Lanjutan Pertama (SMP). Materi
pelajaran yang kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang mudah tapi
susah, bersifat hafalan dan membosankan, sehingga menyebabkan rendahnya
perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, ditambah dengan
strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.
Dalam kegiatan belajar mengajar,
sering guru tidak sadar apakah cara mengajarnya dapat menciptakan minat belajar
siswa atau tidak. Sering guru tidak
melihat pentingnya hubungan dinamis dalam lingkungan kelas dan tidak dapat
membuat siswa merasa bahwa belajar itu penting dan bermanfaat bagi mereka. Sebagai dampak dari ketidaktepatan cara
mengajar, maka akan menimbulkan siswa merasa bosan dan kurang bergairah dan
akhirnya tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai dengan baik. Oleh karena itu, untuk menghindari hal
tersebut guru seharusnya jeli ketika menetapkan metode mengajar yang tepat
dengan situasi kelas
Kondisi yang demikian terjadi
pula di SMP Advent 2 Sario Manado. Hasil
belajar siswa kelas IX A terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih rendah
karena nilai ulangan semester mereka
tidak sampai 60%. Hal itu menandakan bahwa pembelajaran IPS
kurang menarik, karena guru masih
menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang siswa untuk
belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih menekankan pada aspek
pengetahuan saja, belum menyentuh pada sikap dan kreatifitas siswa, karena guru
kurang melibatkan siswa agar aktif dalam proses pembelajaran.
Penyebab mengapa hasil belajar
siswa rendah, diduga antara lain karena siswa kurang termotivasi menyelesaikan
tugas rumah ( PR ), minat baca siswa rendah, dan tidak mau bertanya pada saat
proses kegiatan belajar mengajar walaupun
belum mengerti karena guru masih menggunakan metode ceramah yang kurang
melibatkan siswa untuk aktif dalam pelajaran, sehingga materi pelajaran menjadi
kurang menarik yang mengakibatkan
rendahnya hasil belajar siswa
khususnya untuk mata pelajaran IPS kelas IX A yang berjumlah 48 siswa,
dimana rata-rata siswa yang mempunyai hasil belajar rendah yaitu nilai 6,0
sebanyak 6 orang atau 12,5%, yang mempunyai hasil belajar 6,4 sebanyak 25 orang
atau 52,08% sedangkan nilai 7,2 sebanyak 17 orang atau 35,42%. Dari nilai
tersebut dapat dilihat bahwa hasil belajar belum maksimal. Sementara
standarisasi capaian nilai yang diharapkan menurut Muktamar dan Rusmini adalah
7,5 sampai dengan 9 atau 75% - 90% telah menguasai materi pelajaran yang
diajarkan (Muktamar dan Rusmini, 2003 : 13).
Berdasarkan
hal tersebut diatas,terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas IXa SMP Advent 2
Sario Manado belum optimal,maka perlu diadakan pembaharuan dalam model
pembelajaran yang digunakan guru saat proses pembelajaran agar tercipta suasana
belajar yang kondusif dan interaktif serta memberikan ruang kepada siswa untuk
ikut berperan aktif membangun pengetahuannya. Sehubungan dengan hal tersebut,
perlu dipikirkan bagaimana merancang suatu pembelajaran yang dapat mengatasi
permasalahan-permasalah yang ada di kelas tersebut. Salah satu model
pembelajaran yang dipandang dapat mengatasi permasalahan tersebut di atas
adalah model Quantum Teaching. Quantum
Teaching mengupayakan belajar yang meriah dan menyenangkan dengan segala
nuansanya dengan menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang
memaksimalkan moment belajar. Quantum Teaching bersandar pada konsep “bawalah
dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka” (DePorter,
2001 : 7). Hal ini menunjukan, betapa pembelajaran dengan Quantum Teaching
bukan hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa, tetapi lebih jauh
dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang
baik antara guru dan siswa.
Berdasarkan latar
belakang diatas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul :
“Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Di SMP Advent 2 Sario Manado”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
Seberapa
besar peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran kubus dan balok
melalui penerapan model Quantum Teaching pada siswa kelasDengan menggunakan
model pembelajaran Quantum Teaching hasil belajar siswa pada mata Pelajaran IPS
akan meningkat.
C.
Tujuan
Penelitian
Untuk melihat apakah
model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPS.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat Teoritis
a.
Untuk memperluas wawasan berpikir
peneliti dalam mengembangkan ilmu yang dimiliki serta menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam penelitian.
b.
Sebagai bahan masukan untuk penelitian
dalam penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dalam hubungannya dengan
peningkatan hasil belajar siswa.
2.
Manfaat Praktis
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru akan
pentingnya pembelajaran Quantum Teaching dalam meningkatkan hasil belajar
siswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Landasan
Teori
1.
Pengertian Belajar dan Mengajar
Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam
kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan,
sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan
yang lain.
Menurut Sardiman
(2011: 21): “Belajar adalah rangkaian kegiatan jiwa-raga, psikofisik untuk
menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur
cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”.
Purwanto (2011: 38-9): “Belajar merupakan
proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk
mendapatkan perubahan dalam perilakunya”.
Trianto (2009: 16): Belajar merupakan
perubahan pada diri individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena
pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya, maupun karakteristik seseorang sejak
lahir.
Syamsudin (2000) dalam Taufiq, Prianto,
dan Mikarsa (2011: 5.4): Belajar adalah proses mengalami sesuatu untuk menghasilkan
perubahan tingkah laku.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar
adalah proses dalam diri individu melalui pengalaman yang menghasilkan
perubahan.
Mengajar pada dasarnya
merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang
mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa maka
mengajar sebagai kegiatan guru.
Mengajar merupakan suatu
proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru
kepada siswa.Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan terutama bila
diinginkan hasil belajar yang lebih baik bagi seluruh siswa.Oleh karena itu,
rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana.Dalam arti menumbuhkan rumusan
yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu
sendiri.
Terdapat beraneka ragam
rumusan pengertian tentang mengajar.Setiap rumusan mempunyai kaitan arti dalam
praktek pelaksanaannya.Rumusan itu sendiri tergantung pada pandangan
perumusannya. Seseorang berpandangan bahwa mengajar hanya sekedar menyampaikan
pelajaran, tentu akan merumuskan pengertian yang sederhana. Rumusan yang dibuat
tentang mengajar adalah “upaya menyampaikan bahan pembelajaran kepada siswa.”
Bila pengertian
sederhana itu diterima, maka pelaksanaan atau praktek pembelajaran berlangsung
sederhana pula.Yakni, disatu pihak guru menyampaikan bahan pembelajaran, sedangkan
di pihak siswa menerima pembelajaran yang diberikan. Proses penyampaian
biasanya berlangsung secara imposisi (penuangan). Yakni guru menuangkan
sejumlah informasi-bahan pelajaran kepada siswa.Jadi kegiatan di kelas banyak
didominasi oleh guru.Aktifitas siswa lebih banyak mendengar atau menerima
(bersifat pasif).Oleh sebab itu, pada umumnya informasi diberikan secara lisan
dalam bentuk kata-kata, maka pengajaran cenderung bersifat verbalistis.
Mengajar adalah “segala
upaya yang sengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya
proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.” Bila diterima pengertian
ini, sasaran akhir proses pengajaran adalah siswa belajar. Oleh karena itu,
upaya apapun dapat dilakukan, asalkan upaya itu sengaja dengan penuh rasa
tanggung jawab menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan.
Menurut Sardiman (2003
: 45) Mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi
proses belajar. Atau dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang
kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.
Menurut Gulo (2002:8)
bahwa mengajar adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang
memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara optimal.
Hamalik (2011:44)
memberikan definisi pada mengajar dengan batasan bahwa mengajar ialah
menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah, mewariskan
kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah (hal.47),
usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa
(hal.48), memberikan bimbingan belajar kepada murid (hal.50), kegiatan
mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan
masyarakat (hal.50), dan suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan
masyarakat sehari – hari (hal.52).
Jadi berdasarkan
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah tindakan yang
dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mencoba menolong , membimbing
seseorang untuk mendapatkan skill, cita – cita dan juga ilmu pengetahuan dengan
cara menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif.
2.
Model Pembelajaran Quantum Teaching
Dalam dunia pendidikan kita
sering mengenal atau mendengar istilah "pembelajaran".Pembelajaran
tidak hanya berlaku dibangku sekolah saja, namun diluar lingkungan sekolah,
pembelajaranpun berlaku dalam hal apapun.Dimana yang kita ketahui tentang
pembelajaran adalah sesuatu yang secara sengaja atau tidak sengaja yang
diperoleh dari pengalaman untuk perubahan segala tingkah laku kearah yang lebih
baik. Atau sebuah proses belajar dari pengalaman hidup yang berlaku untuk
perbaikan diri.
Menurut Syaiful Sagala (2009:61) Pembelajaran adalah “
membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang
merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan“.Pembelajaran merupakan proses
komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik, sedangkan
belajar oleh peserta didik.
Menurut Trianto (2009:17) “Pembelajaran merupakan aspek
kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan”.
Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi
berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup.Pembelajaran dalam makna
kompleks adalah usaha sadar dari seorang guruuntuk membelajarkan siswanya
(mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka
mencapai tujuan yang diharapkan.
Disisi lain, Aunurrahman (2010:9) menempatkan
pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer of knowledge dari
guru ke siswa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
proses pembelajaran dialami setiap orang sepanjang hayat serta dapat berlaku
dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran merupakan interaksi antara peserta didik
dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih
baik.Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
Model Pembelajaran
Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dari guru dan murid di dalam kelas, sebagai interaksi untuk mendirikan
landasan dan kerangka belajar. Interaksi – interaksi ini mencakup unsur-unsur
untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa (suasana, landasan,
lingkungan dan rancangan). Asas utama model ini yaitu “ bawalahdunia mereka ke
dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.Disini guru berperan aktif,
guru bukan hanya sekedar pemberi pengetahuan sebab guru merupakan teman
belajar, model, pembimbing dan fasilitator.
Guru dalam model
Quantum Teaching disamakan dengan seorang kondaktor dalam sebuah simponi. Dia harus dapat mengubah pola pikir siswa bahwa
belajar itu menyenangkan dan sangat penting untuk dirinya.Sistem pembelajarannya
tanpa ada tekanan pada diri siswa, selalu menganggap kalau siswa itu sangat
penting dan perlu dilatih, didukung untuk dapat belajar dengan baik.
Bawalah dunia mereka ke
dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.Maksudnya adalah
mengingatkan guru, pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama.
Untuk mengajar, pertama-tama harus membangun jembatan autentik memasuki
kehidupan mereka (siswa), karena tindakan itu akan menuntun, dan memudahkan
perjalanan siswa menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Caranya
dengan mengaitkan apa yang diajarkan dengan sebuah peristiwa pikiran atau
perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni,
rekreasi atau akademis siswa. Setelah kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa
mereka ke dalam dunia guru dan memberi pemahaman tentang isi dunia kita
(Guru).Disinilah kosakata baru, model, rumus dan lain-lain diberitahukan. Seraya menjelajahi kaitan dan interaksi, baik
siswa maupun guru mendapatkan pemahaman baru dan “dunia kita” diperluas tidak hanya siswa
tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas siswa dapat
membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada
situasi baru. (DePorter Bobby, dkk.2001:67).
Prinsip-prinsip Quantum
Teaching
a. Segalanya
berbicara
Segala
dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang anda bagikan hingga
rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
b. Segalanya
bertujuan
Segalanya
bertujuan dapat digambarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam proses
belajar mengajar memiliki tujuan tertentu. Suatu tujuan yang diharapkan tidak
harus diuraikan dengan kata-kata. Dapat pula diwujudkan dan mencakup
keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam proses belajar mengajar itu sendiri.
c. Pengalaman
sebelum pemberian nama
Otak
kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakan
rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika
siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka
pelajari.
d. Akui
setiap usaha
Belajar
pada hakekatnya mengandung konsekuensi ketika peserta didik mulai melangkah
untuk belajar yang bagaimanapun untuk setiap usaha dan pekerjaan untuk belajar
yang dilakukan selalu dianggap perlu dan akan berpengaruh terhadap hasil
pekerjaan yang lebih baik. Fungsi dari
pengakuan akan berperan menciptakan perasaan nyaman dan percaya diri. Disamping
itu juga dapat menciptakan lingkungan paling baik untuk membantu mengubah diri
menuju arah yang diinginkan.
e. Jika
layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Perayaan
merupakan ungkapan kegembiraan atas keberhasilan yang diperoleh. Perayaan
memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi
positif denganbelajar.http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/ilmulogika/pendekatan-quantum-teaching)
Rancangan Pembelajaran
Agar proses pembelajaran dengan
model Quantum Teaching ini dapat seefektif mungkin, maka perlu melalui tahapan
di bawah ini yang sering dikenal dengan TANDUR yaitu:
a.
Tumbuhkan
Pada
langkah ini guru harus menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa dan
memberi tahu siswa bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pendidikan
mereka sendiri, mengaitkan pelajaran dengan masa depan dan berguna dalam dunia
nyata sehingga mereka tahu apa manfaat
dari apa yang sedang mereka pelajari bagi diri mereka, biasanya dikenal dengan
AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku).
b.
Alami
Guru
memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Karena pengalaman membangun
keingintahuan siswa dan dapat menciptakan beberapa pertanyaan dalam benak
mereka.Saat pengalaman terbentang, guru mengumpulkan informasi untuk memaknai
pengalaman tersebut.Informasi ini membuat yang abstrak menjadi konkrit.
c.
Namai.
Setelah membuat siswa penasaran,
penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka, maka penamaan dapat memuaskan
keingintahuan siswa.Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan
identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan.Penamaan merupakan informasi, fakta,
rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya. Guru menyediakan kata kunci, konsep,
model, rumus, strategi dan sebuah masukan.
d.
Demonstrasikan.
Sediakan
kesempatan bagi pelajar untuk menunjukan bahwa mereka tahu. (berikan kesempatan
bagi mereka untuk mangaitkan pengalaman dengan kata baru sehingga mereka
menghayati dan membuat sebagai pengalaman pribadi)
e.
Ulangi.
Siswa
diberi kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain.
Tentunya dengan menggunakancara yang berbeda dari asalnya. Pengulangan
memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”.Dan
tentunya menunjukan pelajar cara-cara mengulang materi yang telah dibahas.
f.
Rayakan
Pada
langkah terakhir ini, saatnya untuk memberikan penghormatan atas usaha,
keberhasilan dan ketekunan yang dilakukan dengan perayaan. Hal ini akanmemperkuat
kesuksesan dan memberi motivasi siswa. Perayaan disini dapat dilakukan dengan
memberikan pujian, bernyanyi, bermain tepuk, pesta kelas dll.
(DePorter Bobby dkk,
2001:88)
Proses pembelajaran akan semakin sempurna
apabila seorang guru menggabungkan model pembelajaran Quantum Teaching dengan
pengetahuan yang ia miliki dan ketrampilan-ketrampilan mengajar yang telah
dimiliki.
Kata Quantum
adalah mengubah energi menjadi cahaya, maksudnya mengubah kemampuan dan bakat
alami siswa agar menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi dirinya dan orang
lain. Quantum teaching adalah
pengubahan interaksi yang ada dalam dan sekitar momen belajar.
Hal ini menunjukkan, betapa pembelajaran
Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang harus dipelajari
siswa.Tetapi lebih jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan
hubungan emosional yang baik ketika belajar. (DePorter Bobby, dkk. 2001 : 5)
Petunjuk
Pelaksanaan Quantum Teaching
1. Guru
Wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik,
berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira
(tersenyum).
2. Guru
harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan. “learning
is most effective when it’s fun. ‘ Kegembiraan’ disini berarti bangkitnya
minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna pemahaman (penguasaan
atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri siswa.
3. Lingkungan
Belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan, yaitu:
a. Mengatur
meja dan kursi diubah dengan berbentuk seperti U atau lingkaran.
b. Memberi
tanaman, hiasan lain di luar maupun di dalam kelas.
c. Mengecat
warna ruangan, meja dan kursi yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas.
d. Ruangan
kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan, kata mutiara pemacu semangat,
misalnya kata: “Ingin Pinter? Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kutahu
yang ku mau, kerjasama ! Aku pinter, Aku pasti bisa! Semangat!
4. Guru
harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh
yang kuat pada proses belajarnya. Guru
dapat mempengaruhi suasana emosi siswa dengan cara:
a.
Kegiatan-kegiatan pelepas stress seperti
menyanyi, energizer, tepuk tangan dan sebagainya.
b.
Aktivitas-aktivitas yang menambah
kekompakan seperti melakukan tour, makan bersama dan sebagainya.
c.
Menyediakan forum bagi emosi untuk
dikenali dan diungkapkan yaitu melalui bimbingan konseling baik oleh petugas
BP/BK maupun guru itu sendiri.
5. Memutar
musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Namun sekali-kali akan
diputarkan instrumental dan bisa diselingi jenis musik lain untuk
bersenang-senang dan jeda dalam pembelajaran.
6. Sikap
Guru Kepada Siswa :
a. Mengarahkan
“apa manfaat materi pelajaran ini bagi siswa” dan tujuan.
b. Memperlakukan
siswa sebagai manusia sederajat.
c. Selalu
menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja siswa.
d. Memberikan
stimulus yang mendorong siswa.
e. Mendukung
siswa 100% dan ajak semua anggota kelas
untuk saling mendukung.
f. Memberi
peluang siswa untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab
pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan
argumentasi, dan sejumlah penalaran.
7. Menerapkan
8 kunci keunggulan ini ke dalam rencana pelajaran setiap hari. Mengaitkan kunci-kunci ini dengan kurikulum
yaitu:.
a. Integritas
: bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh. Selaraskan nilai-nilai dengan
perilaku guru.
b. Kegagalan
awal kesuksesan: pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang
anda butuhkan untuk sukses.
c. Bicaralah
dengan niat baik: berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung
jawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus. Hindari gossip.
d. Hidup
di saat ini: pusatkan perhatian pada saat ini dan kerjakan dengan
sebaik-baiknya.
e. Komitment
: penuhi janji dan kewajiban, laksanakan visi dan lakukan apa yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan.
f. Tanggung
jawab: bertanggung jawablah atas tindakan anda.
g. Sikap
luwes dan fleksibel : bersikaplah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan
baru yang dapat membantu anda memperoleh hasil yang diinginkan.
h. Keseimbangan
: jaga keselarasan pikiran, tubuh dan
jiwa anda. Sisihkan waktu untuk
membangun dan memelihara 3 bidang ini.
8. Guru
yang seorang quantum teacher
mempunyai ciri-ciri dalam berkomunikasi yaitu;
a. Antusias
: menampilkan semangat untuk
hidup.
b. Berwibawa : menggerakkan orang.
c. Positif
: melihat peluang dalam
setiap saat.
d. Supel : mudah menjalin hubungan
dengan beragam siswa.
e. Humoris : berhati lapang untuk menerima
kesalahan serta
mampu
membuat suasana kelas selalu ceria.
f. Luwes : menemukan lebih dari satu
untuk mencapai hasil.
g. Menerima
: mencari dibalik tindakan dan
penampilan luar untuk
menemukannilai-nilai
inti.
h. Fasih : berkomunikasi dengan
jelas, ringkas, dan jujur.
i.
Tulus :
memiliki niat dan motivasi positif.
j.
Spontan :
dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil.
k. Menarik
dan tertarik: mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman
hidup
siswa dan peduli akan diri siswa
l.
Menganggap siswa “mampu”: percaya akan
keberhasilan siswa.
m. Menetapkan
dan memelihara harapan tinggi: membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas
kerja yang memacu setiap siswa untuk berusaha sebaik mungkin.
9. Semua
siswa diusahakan untuk memiliki modul/buku sumber belajar lainnya, dan buku
yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Tidak diperkenankan guru
mencatat/menyuruh siswa untuk mencatat pelajaran di papan tulis.
10. Dalam
melakukan penilaian guru harus berorientasi pada:
a. Acuan/patokan.
Semua kompetensi harus perlu dinilai sesuai dengan acuan kriteria berdasarkan
indikator hasil belajar.
b. Ketuntasan
belajar. Ketuntasan belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian
kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai prasyarat
penguasaan kompetensi berikutnya.
c. Metode
penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain test tertulis, observasi,
wawancara, portofolio, demonstrasi dan lain-lain.
11. Kebijakan
sekolah dalam KBM yang patut diperhatikan oleh guru adalah sebagai berikut:
a. Guru
wajib mengabsensi siswa setiap masuk kelas.
b. Masuk
kelas dan keluar kelas tepat waktu. Jam pertama misalnya 07.30 dan jam terakhir
harus pulang bersama-sama setelah bel berbunyi. Pada jam istirahat tidak
diperkenankan ada kegiatan belajar mengajar.
c. Guru
wajib membawa buku absen, daftar nilai, RPP, Program semester, Modul/bahan ajar
sejenisnya ketika sedang mengajar.
d. Selama
KBM tidak boleh ada gangguan yang dapat mengganggu konsentrasi siswa. Misalnya guru/peserta berkomitmen bersama untuk tidak
mengaktifkan HP ketika PBM berlangsung.
e. Guru
harus mendukung kebijakan sekolah baik yang berlaku untuk dirinya sendiri
maupun untuk siswa dan berlaku proaktif.
f. Untuk
pelanggaran oleh siswa maka hukuman dapat ditentukan secara musyawarah bersama
siswa, namun untuk pelanggaran kategori berat, sekolah yang menentukan
kebijakan sendiri.
12. Pengalaman
belajar hendaknya menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan
isi pembelajaran, yaitu:
a. Terdapat
kegiatan membaca, menjelaskan, demonstrasi, praktek, diskusi, kerja kelompok,
pengulangan kembali dalam menjelaskan dan cara lain yang bisa ditemukan oleh guru.
b. Menggunakan
spidol warna-warni dalam membantu menjelaskan di papan tulis.
c. Disarankan
menggunakan media pendidikan seperti LCD, Laptop, Internet dll.
d. Diperbolehkan
belajar di luar kelas seperti di bawah pohon, dipinggir jalan.
e. Siswa
belajar: 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar 30% dari apa yang
dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan,
dan 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan (Magnessen, 1983, dalam DePorter, 2001:57). Ini menunjukkan guru mengajar dengan ceramah,
maka siswa akan mengingat dan menguasai hanya 20% karena siswa hanya
mendengarkan. Sebaliknya jika guru meminta siswa untuk melakukan sesuatu dan
melaporkannya maka akan mengingat dan menguasai sebanyak 90%.
13. Guru
harus selalu menghargai setiap usaha dan hasil kerja siswa serta memberikan
stimulus yang mendorong siswa untuk berbuat dan berpikir yang kreatif. Ini
memungkinkan siswa menjadi pembelajar seumur hidup. Untuk itu, guru bisa
menggunakan berbagai metode dan pengalaman belajar melalui contoh yang
kontekstual. Setiap kesuksesan dalam belajar siswa layak untuk dirayakan.
14. Suasana
belajar siswa, guru dapat mengarahkan kearah ke ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Suasana belajar juga melibatkan mental,
fisik, emosi, sosial siswa secara aktif supaya memberi peluang siswa untuk
mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan
mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi dan
sejumlahpenalaran.
(http://tainersclub.or.i/index.php?option=com_content&task=view&id+17&Itemid=46)
3.
Minat
Menurut Slameto (2003:180) minat
adalah suatu rasa suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas
tanpa ada yang menyuruh. Minat pada
dasarnya adalah pemenuhan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau
dekat hubungan tersebut semakin besar minat.Minat tidak dibawah sejak lahir
melainkan diperoleh kemudian.
Minat besar pengaruhnya terhadap
belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat
siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya
tariknya. Jika terdapat siswa yang
kurang berminat untuk belajar dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat.
Banyak cara untuk menarik minat belajar.
Model Pembelajaran Quantum Teaching salah satu cara yang dapat digunakan
untuk menarik minat belajar siswa. Mengembangkan minat kepada sesuatu pada
dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan
untuk dipelajari dengan diri sendiri sebagai individu.
Menciptakan minat merupakan cara
yang efektif untuk memberikan motivasi pada diri siswa demi mencapai tujuan
belajar. Menumbuhkan AMBAK sama dengan
menciptakan dalam apa yang sedang dipelajari dengan menghubungkan dengan dunia
nyata terutama dalam situasi belajar.
AMBAK adalah motivasi yang didapat
dari pemilikan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan.
Dengan membuat siswa sadar akan AMBAK maka akan menciptakan minat belajar
siswa.
4.
Hasil Belajar
Hasil
belajar tidak dapat dipisahkan dari proses belajar, karena kualitas hasil
belajar dipengaruhi oleh proses belajar itu sendiri. Hal senada dikatakan oleh
Winkel dalam (Johnson Lauanne 2007 : 59) bahwa proses belajar yang dialami
siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman
dalam bidang nilai, sikap dan ketrampilan. Adanya perubahan tersebut tampak
dari hasil belajar yang diperoleh siswa terhadap pertanyaan atau tugas yang
diberikan guru.Hasil belajar memberi informasi kemajuan-kemajuan yang telah
dicapai dalam belajar. Berbeda dengan pernyataan Marsun dan Martaniah (dalam
Wahyuningsih, 2004) hasil belajar yaitu sejauh mana siswa menguasai bahan
pelajaran yang diajarkan, yang diikuti dengan munculnya perasaan puas bahwa ia
telah melakukan sesuatu yang baik. Hal ini berarti bahwa hasil belajar hanya
bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian.
Belajar
menghasilkan suatu perubahan pada siswa, perubahan itu dapat berupa
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan sikap.Perubahan itu merupakan hasil
dari usaha belajar yang tersimpan dalam ingatan.
Hal
diatas sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2002:174)
bahwa hasil belajar dapat meningkatkan kemampuan mental dan pada umumnya
meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Selain itu pula Dimyati
dan Mudjiono (2002:3) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu
interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Menurut
Oemar Hamalik (2002:22) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia menerima pengalaman
belajar.
Dalam
penelitian ini yang dimaksud hasil belajar adalah hasil evaluasi yang diperoleh
siswa pada akhir proses pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk skor nilai.
Dari
beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, hasil belajar
merupakan usaha yang dicapai siswa
berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik dalam pembelajaran
yang diketahui setelah dilakukan penilaian.
B. Kerangka Berpikir
![]() |
||||||
![]() |
||||||
![]() |
||||||
C. Hipotesis
Hipotesis
dalam penilaian ini dirumuskan sebagai berikut : “Penerapan Model Pembelajaran
Quantum Teaching Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah mengambil rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang
lazim dikenal dengan classroom Action Research. Arikunto (2006 : 58)
mengemukakan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang
dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik
pembelajaran. Sedangkan menurut Sokarno (2009) penelitian tindakan kelas adalah
sebuah bentuk inquiri reflektif yang dilakukan untuk meneliti masalah sosial
termasuk pembelajaran. Nur Hidayah (2013 : 7) menambahkan bahwa penelitian
tindakan kelas merupakan suatu kegiatan reflektif bagi guru yang dapat
dipergunakan untuk peningkatan proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Tindakan ini merupakan representasi terhadap perbaikan proses pembelajaran
dalam guru melaksanakan tugas yang merupakan salah satu tanggung jawab terhadap
peserta didiknya untuk kemajuan pendidikan.Menurut Kemmis dan Tagart
(Depdikbud: 1999) PTK dilakukan melalui proses :
1. Rencana : tindakan apa yang akan dilakukan
untuk memperbaiki,
meningkatkanatau
perubahan perilaku dan sikap sebagai
solusi.
2. Tindakan : apa yang dilakukan oleh guru atau
peneliti sebagai upaya
perbaikan,peningkatan
atau perubahan yang diinginkan.
3. Observasi : mengamati atas hasil atau dampak dari
tindakan yang
dilaksanakan
atau dikenakan terhadap siswa.
4. Refleksi : melihat dan mempertimbangkan atas
hasil dampak dari
tindakan
dari berbagai kriteria.
5. Revisi
Rencana: berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dan guru dapat
melakukan
revisiperbaikan terhadap rencana awal.
a. Rancangan penelitian
![]() |
|
|
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||
![]() |
|
||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
(Arikunto, 2007 :16)
b.
Tempat dan waktu penelitian
§ Tempat
: SMP Advent 2 Sario Manado
§ Waktu
penelitian : Penelitian ini dilaksanakan
selama 3 bulan
|
JENIS
KEGIATAN
|
BULAN
|
|||||||||||
|
September
|
Oktober
|
November
|
||||||||||
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
1. Pembuatan Usulan
Penelitian
|
|
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
Observasi/Pelaksanaan Kegiatan
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
3. Pengolahan Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
|
|
|
4. Pembuatan Laporan Hasil
Penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
c.
Subjek Penelitian
Yang menjadi sasaran penelitian ini
adalah siswa kelas IX A SMP Advent 2 Sario Manado yang berjumlah 48 siswa.
B. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
langsung, yaitu memperoleh data dengan cara mengamati hasil belajar siswa
melalui evaluasi yang dilakukan sebelum tahap pertama dan akhir tahap kedua,
dengan membandingkan daya serap sebelum dan sesudah tindakan.
2. Dokumentasi,
dengan cara menghimpun semua hasil belajar siswa yang terdokumentasi oleh guru.
C.
Teknik Analisis Data
Analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan rumus persentase
dengan rumus sebagai berikut :
P
=
X 100%
Keterangan
:
P
= Persentase (%)
F
= Frekwensi yang dicari persentasenya
N
= Jumlah siswa
(
W. Surachmad, 1999)
BAB IV
PELAKSANAAN DAN
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian.
1.
Perencanaan
Penelitian.
Penelitian
Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Advent 2 Sario Manado, Kelas IX A dengan
jumlah siswa 48 orang.Adapun tindakan yang dilakukan yaitu kegiatan
pembelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga Keuangan”dengan menerapkan
Pembelajaran Quantum Teaching.
Persiapan
Tahap
persiapan I dilaksanakan sebagai titik tolak pembelajaran untuk
mengkonsolidasikan dan membuat komitmen atas peraturan dan konsekuensi yang
akan dilaksanakan pada pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
Adapun langkah-langkah pada perencanaan
persiapan guru adalah sebagai berikut:
a. Mengadakan
pertemuan kelas untuk mendiskusikan peraturan saat pembelajaran IPS tentang “Uang
dan Lembaga Keuangan”.
b. Membagikan
kertas dan meminta kepada siswa menuliskan 5 peraturan yang harus diikuti semua
siswa agar pembelajaran tertib dan menyenangkan, baik saat belajar individu
maupun belajar kelompok. (dibimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham,
supaya waktu lebih efektif)
c. Membuat
daftar peraturan dari semua kertas yang telah ditulis siswa pada papan tulis.
Meminta siswa untuk membuang yang tidak perlu, menyusun prioritas peraturan,
dan mengkonsolidasikannya dengan seluruh siswa.
d. Membuat
kesepakatan dengan siswa untuk menetapkan peraturan yang telah dipilih dan
dipriortaskan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga
Keuangan”.
e. Mendiskusikan
konsekuensi pelanggaran peraturan.
Mendiskusikan alasan-alasan, konsekuensi dan perasaan siswa mengenai
konsekuensi tersebut. (di bimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham)
f. Menuliskan
konsekuensi-konsekuensi hasil diskusi tersebut pada papan tulis, dan mengkonsolidasikan
dengan seluruh siswa, kemudian membuat kesepakatan.
g. Membacakan
semua peraturan dan konsekuensi pelanggarannya,kemudian meminta seluruh siswa
untuk menyepakatinya. Jika ada siswa yang tidak menyepakati, maka diberikan
pengertian manfaat displin pada peraturan. Misalnya jika kita melanggar
rambu-rambu lalulintas di jalan raya maka kita bisa celaka.
h. Mengatur
meja dan kursi.
i. Menghiasi
ruangan dengan poster icon yang telah dipersiapkan oleh guru untuk menarik
perhatian, motivasi, dan menguatkan keyakinan siswa untuk belajar.
j. Membentuk
kelompok.
k. Mengarahkan
siswa untuk membuat kesimpulan apa yang telah dipelajari.
l. Evaluasi
m. Guru
menutup pelajaran.
2.
Implementasi
Tindakan
Ø Kegiatan
penelitian Putaran Pertama.
Sesuai rencana
yang telah disusun serta langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang harus
ditempuh, maka dalam penelitian putaran pertama dilakukan kegiatan sebagai
berikut:
Langkah
pertama :dimulai dengan mengkondisikan
siswa dan kelas menuju pembelajaran
yang kondusif yaitu sebagai berikut:
Guru :
Mengucapkan salam dan menanyakan kabar kepada siswa, kemudian guru meminta
siswa merapikan posisi bangku dan posisi duduk setiap kelompok. Apa kabar hari
ini? Anak-anakku bolehkah ibu meminta tolong?Agar belajar kita lebih
menyenangkan, tolong rapihkan bangku dan posisi duduk tiap kelompok.
Pengecekan
kehadiran siswa.
Langkah
kedua :guru menjelaskan
bagaimana siswa belajar dengan baik secara individual/kelompok sesuai dengan
peraturan dan konsekuensi yang telah disepakati bersama.
Langkah
ketiga :Guru melakukan
apersepsi: Tanya jawab mengenai uang, bank, tabungan dan manfaat dari menabung.
Pada saat apersepsi siswa sudah
mulai fokus pada apa yang akan dipelajari. Untuk menumbuhkan motivasi dan
kepercayaan diri siswa.
Langkah
keempat :Guru menyampaikan tujuan
dan manfaat mempelajari materi “Uang dan Lembaga Keuangan”. Dimana siswa mampu
mendefinisikan serta menjelaskan tentang uang dan lembaga keuangan.
Langkah
kelima :Guru menyampaikan
informasi singkat tentang materi pelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga
Keuangan” (alami dan namai)
Langkah
keenam :Guru membimbing siswa
untuk menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide/gagasan.
Langkah
ketujuh :Guru mengarahkan siswa
untuk membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari melalui pertanyaan.
Langkah
kedelapan :diberikan evaluasi
melalui pemberian soal.
Langkah
kesembilan :guru menutup pelajaran.
3.
Analisis
dan Evaluasi
Berdasarkan
hasil pengamatan terhadap tindakan yang telah dilakukan guru dalam penerapan
model pembelajaran Quantum Teaching ternyata guru telah mengadakan tindakan di
kelas sesuai dengan rencana yang telah disusun, namun demikian masih terdapat
kekurangan pada pelaksanaan pembelajaran dari enam rancangan Quantum Teaching
yang telah diterapkan, tiga rancangan pembelajaran Quantum teaching
(demonstrasikan, ulangi, rayakan) belum diterapkan sesuai dengan target yang
ditentukan. Hal ini secara jelas tampak
pada hasil tes yang dicapai siswa.
Hasil tes yang dicapai
siswa pada putaran pertama secara lengkap sebagai berikut:
Tabel I Hasil tes
evaluasi putaran I
|
No
|
SISWA
|
NILAI TES
|
KETUNTASAN
|
|
1
|
n1
|
69
|
Tidak
Tuntas
|
|
2
|
n2
|
74
|
Tuntas
|
|
3
|
n3
|
84
|
Tuntas
|
|
4
|
n4
|
88
|
Tuntas
|
|
5
|
n5
|
85
|
Tuntas
|
|
6
|
n6
|
90
|
Tuntas
|
|
7
|
n7
|
85
|
Tuntas
|
|
8
|
n8
|
60
|
Tidak
Tuntas
|
|
9
|
n9
|
78
|
Tuntas
|
|
10
|
n10
|
80
|
Tuntas
|
|
11
|
n11
|
87
|
Tuntas
|
|
12
|
n12
|
50
|
Tidak
Tuntas
|
|
13
|
n13
|
85
|
Tuntas
|
|
14
|
n14
|
83
|
Tuntas
|
|
15
|
n15
|
77
|
Tuntas
|
|
16
|
n16
|
44
|
Tidak
Tuntas
|
|
17
|
n17
|
86
|
Tuntas
|
|
18
|
n18
|
52
|
Tidak
Tuntas
|
|
19
|
n19
|
65
|
Tidak
Tuntas
|
|
20
|
n20
|
66
|
Tidak
Tuntas
|
|
21
|
n21
|
76
|
Tuntas
|
|
22
|
n22
|
54
|
Tidak
Tuntas
|
|
23
|
n23
|
65
|
Tidak
Tuntas
|
|
24
|
n24
|
40
|
Tidak
Tuntas
|
|
25
|
n25
|
69
|
Tidak
Tuntas
|
|
26
|
n26
|
74
|
Tuntas
|
|
27
|
n27
|
80
|
Tuntas
|
|
28
|
n28
|
70
|
Tuntas
|
|
29
|
n29
|
65
|
Tidak
Tuntas
|
|
30
|
n30
|
80
|
Tuntas
|
|
31
|
n31
|
50
|
Tidak
Tuntas
|
|
32
|
n32
|
82
|
Tuntas
|
|
33
|
n33
|
60
|
Tidak
Tuntas
|
|
34
|
n34
|
40
|
Tidak
Tuntas
|
|
35
|
n35
|
50
|
Tidak
Tuntas
|
|
36
|
n36
|
53
|
Tidak
Tuntas
|
|
37
|
n37
|
50
|
Tidak
Tuntas
|
|
38
|
n38
|
55
|
Tidak
Tuntas
|
|
39
|
n39
|
60
|
Tidak
Tuntas
|
|
40
|
n40
|
55
|
Tidak
Tuntas
|
|
41
|
n41
|
65
|
Tidak
Tuntas
|
|
42
|
n42
|
64
|
Tidak
Tuntas
|
|
43
|
n43
|
50
|
Tidak
Tuntas
|
|
44
|
n44
|
53
|
Tidak
Tuntas
|
|
45
|
n45
|
55
|
Tidak
Tuntas
|
|
46
|
n46
|
40
|
Tidak
Tuntas
|
|
47
|
n47
|
42
|
Tidak
Tuntas
|
|
48
|
n48
|
46
|
Tidak
Tuntas
|
|
|
Jumlah
|
3131
|
|
|
|
Rata-rata
|
65.2
|
|
Rekapitulasi hasil tes
siklus I
|
Capaian
|
jumlah
|
%
|
|
Tuntas
|
19
|
39.6%
|
|
Tak
tuntas
|
29
|
60.4%
|
Setelah melihat hasil evaluasi dari 48 siswa, dimana
rentang nilai yang diperoleh setiap siswa berada pada rentangan nilai 40 sampai
69 dari rentang nilai yang diperoleh itu ada 29 orang yang tidak tuntas
belajar, sebab kriteria tuntas belajar adalah 70 dan tuntas belajar hanya 19
orang, yaitu siswa yang mendapatkan nilai antara 70 sampai 90. Selanjutnya
secara klasikal karena yang tuntas belajar hanya 19 orang atau 39.6% dari
jumlah siswa di kelas maka itu berarti belum mencapai ketuntasan belajar.
Berdasarkan
hasil analisis dan evaluasi terhadap kegiatan penelitian putaran pertama, maka
dianggap perlu dilakukan kajian ulang adalah :
1.) Pada
pelaksanaan pembelajaran, guru mengupayakan penerapan rancangan pembelajaran
Quantum Teaching sesuai dengan yang ditargetkan.
2.) Pada evaluasi pembelajaran, guru melaksanakan
penilaian sesuai dengan kemampuan siswa, dan memberikan penghargaan berupa
(kata – kata afirmasi) pada setiap lembar evaluasi siswa. Dengan demikian maka
penelitian ini perlu dilanjutkan pada putaran berikutnya yaitu penelitian
putaran kedua.
› Kegiatan Penelitian Putaran Kedua
Penelitian putaran
kedua ini dilakukan dengan memperhatikan hal – hal yang harus diperbaiki
sebagai kekurangan pada pelaksanaan putaran pertama.Dan dilakukan sesuai dengan
Satuan Pembelajaran. Guru mengupayakan penerapan enam rancangan pembelajaran
Quantum Teaching sesuai dengan yang ditargetkan dalam kegiatan pembelajaran IPS
dengan materi “ Uang dan Lembaga Keuangan” dan guru melaksanakan penilaian
sesuai kemampuan siswa, dan memberikan penghargaan (berupa kata-kata afirmasi)
pada setiap lembar evaluasi siswa. Pada akhir kegiatan pembelajaran diadakan
tes, dan hasilnya adalah sebagai berikut :
Tabel II Hasil tes
evaluasi putaran II
|
No
|
SISWA
|
NILAI TES
|
KETUNTASAN
|
|
1
|
n1
|
73
|
Tuntas
|
|
2
|
n2
|
78
|
Tuntas
|
|
3
|
n3
|
71
|
Tuntas
|
|
4
|
n4
|
85
|
Tuntas
|
|
5
|
n5
|
90
|
Tuntas
|
|
6
|
n6
|
88
|
Tuntas
|
|
7
|
n7
|
89
|
Tuntas
|
|
8
|
n8
|
78
|
Tuntas
|
|
9
|
n9
|
65
|
Tidak
Tuntas
|
|
10
|
n10
|
76
|
Tuntas
|
|
11
|
n11
|
77
|
Tuntas
|
|
12
|
n12
|
79
|
Tuntas
|
|
13
|
n13
|
73
|
Tuntas
|
|
14
|
n14
|
74
|
Tuntas
|
|
15
|
n15
|
77
|
Tuntas
|
|
16
|
n16
|
79
|
Tuntas
|
|
17
|
n17
|
84
|
Tuntas
|
|
18
|
n18
|
86
|
Tuntas
|
|
19
|
n19
|
89
|
Tuntas
|
|
20
|
n20
|
85
|
Tuntas
|
|
21
|
n21
|
90
|
Tuntas
|
|
22
|
n22
|
76
|
Tuntas
|
|
23
|
n23
|
73
|
Tuntas
|
|
24
|
n24
|
77
|
Tuntas
|
|
25
|
n25
|
74
|
Tuntas
|
|
26
|
n26
|
88
|
Tuntas
|
|
27
|
n27
|
89
|
Tuntas
|
|
28
|
n28
|
83
|
Tuntas
|
|
29
|
n29
|
60
|
Tidak
Tuntas
|
|
30
|
n30
|
87
|
Tuntas
|
|
31
|
n31
|
82
|
Tuntas
|
|
32
|
n32
|
80
|
Tuntas
|
|
33
|
n33
|
80
|
Tuntas
|
|
34
|
n34
|
89
|
Tuntas
|
|
35
|
n35
|
76
|
Tuntas
|
|
36
|
n36
|
86
|
Tuntas
|
|
37
|
n37
|
89
|
Tuntas
|
|
38
|
n38
|
78
|
Tuntas
|
|
39
|
n39
|
76
|
Tuntas
|
|
40
|
n40
|
74
|
Tuntas
|
|
41
|
n41
|
84
|
Tuntas
|
|
42
|
n42
|
86
|
Tuntas
|
|
43
|
n43
|
63
|
Tidak
Tuntas
|
|
44
|
n44
|
78
|
Tuntas
|
|
45
|
n45
|
87
|
Tuntas
|
|
46
|
n46
|
76
|
Tuntas
|
|
47
|
n47
|
88
|
Tuntas
|
|
48
|
n48
|
85
|
Tuntas
|
|
|
Jumlah
|
3850
|
|
|
|
Rata-rata
|
80.2
|
|
Rekapitulasi hasil tes
siklus II
|
Capaian
|
jumlah
|
%
|
|
Tuntas
|
45
|
93.75%
|
|
Tak
tuntas
|
3
|
6.25%
|
Setelah melihat hasil
evaluasi kelas IX A dengan jumlah siswa 48, pada putaran II memperoleh
peningkatan dengan nilai rata-rata yang diperoleh di kelas adalah 80.2
Berdasarkan tabel II tersebut, nampak bahwa kelompok
siswa yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 45 siswa (93,75%). Berdasarkan pada
kriteria keberhasilan penelitian yang ditetapkan diatas, apabila 85% dari
jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat nilai ≥70 maka
secara kelompoktelah tercapai ketuntasan belajar.Oleh karena itu, dikaitkan
dengan kriteria ketuntasan belajar tersebut, maka hasil penelitian ini ternyata
telah memenuhi kriteria tersebut.Dengan demikian maka dapat disimpulkan dengan
penerapan model pembelajaran Quantum
Teachingdapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS berdasarkan
kriteria ketuntasan belajar.Sedangkan siswa yang tidak tuntas nilainya, yang
berjumlah 3 orang atau 6.25% dilakukan perbaikan-pengayaan.
4.
Monitoring
Penelitian.
Dalam
kegiatan penelitian ini, maka peneliti bersama seorang guru IPS telah
bersama-sama berupaya untuk memantau pelaksanaannya mulai dari persiapan sampai
pelaksanaan di kelas bahkan dalam melakukan refleksi untuk mengevaluasi dan
menganalisis keseluruhan tindakan yang telah dilakukan dan hasil yang di
peroleh serta pertimbangan dan usulan perbaikan dan peningkatan.
Dengan
demikian tujuan utama pelaksanaan kegiatan pemantauan ini yaitu ditujukan untuk
mengawasi objektivitas pelaksanaan seluruh kegiatan penelitian sebagaimana yang
telah dirancang.Selanjutnya hasil pengamatan terhadap seluruh pelaksanaan
penelitian ini sekaligus juga dijadikan sebagai bahan refleksi untuk
menganalisis tindakan guru dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPS.
5.
Refleksi
Hasil Penelitian.
Penelitian
ini dilakukan selama 2 putaran untuk mengetahui efektifitas penerapan model
pembelajaran Quantum Teaching dalam meningkatkan hasil belajar pelajaran IPS
pada siswa.Sehingga pada langkah-langkah dengan penerapan Quantum Teaching yang
telah direncanakan dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran hasilnya dapat
meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS.
Penelitian
tindakan dalam penerapan model Quantum Teaching (sebagai tindakan) pada siswa
kelas IX A SMP Advent 2 Sario Manado menghasilkan bahwa kelompok siswa yang
mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 45 siswa (93.75%), sedangkan sebanyak 3 orang
siswa (6.25%) mendapat nilai ˂ 70. Berdasarkan pada kriteria keberhasilan
penelitian ini bahwa 85% dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran
telah mendapat ≥7,0 maka secara kelompok telah tercapai ketuntasan belajar.
Oleh karena itu, dikaitkan dengan ketuntasan belajar tersebut maka hasil
penelitian ini telah memenuhi kriteria.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaranQuantum Teaching pada
mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan kriteria
ketuntasan belajar.
BAB V
P E N U T U P
A. KESIMPULAN.
Berdasarkan atas
hasil penelitian tindakan kelas di kelas IX SMP
Advent 2 Sario Manado, maka dikemukakan beberapa kesimpulan:
1. Penerapan
model Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX pada
mata pelajaran IPS dengan materi “Lembaga Keuangan”.
2. Model
Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembalajaran IPS.
3. Model
Pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan kerjasama diantara kelompok
maupun individu, sekaligus dapat meningkatkan wawasan pengetahuan siswa pada
materi yang diajarkan guru di dalam kelas.
B. Saran
1. Diharapkan
dalam proses belajar mengajar menerapkan model Quantum Teaching karena dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Guru
dalam penerapan Quantum Teaching memperhatikan setiap langkah-langkahnya agar
supaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Guru
yang menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching harus mendorong siswa agar
aktif dalam berdiskusi.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman,
M.Pd. Dr. 2010.Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta
Arikunto.W.S.2007.
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Bumi Aksara.
------------------2006.
Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara
------------------2002.
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Depdikbud,
2001.Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Depdikbud.
DePorter,
Mark Reardon, Sarah Singer Nourie. 2001. Quantum
Teaching. Bandung: Kaifa.
Dimyati,
Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta
Gulo,
W.2002. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hamalik
Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara.
Hamalik,
Oemar, Prof. Dr. 2011.Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara (cetakan kedua belas)
Hidayah
Nur, 2013. Panduan Praktis Penyusunan dan Pelaporan Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Kasbolah,
Kasihani. (1998/1999).Penelitian Tindakan
Kelas (PTK). Jakarta: Depdikbud.
Muktamar,
dan Rusmini.2003. Pengajaran Remidial
Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta: Fifa Mulia Sejahtera.
Purwanto.
2011. Evaluasi Hasil Belajar.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sagala,
Syaiful. (2009). Konsep dan Makna
Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sardiman,
A. M. 2003. Interaksi dan Motivasi yang
mempengaruhinya. Jakarta: Grafindo Persada
Sardiman.2011.
Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rajawali Pers.
Slameto.
2003. Belajar dan Faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Sudjana
Nana, Ibrahim. 2001. Penelitian dan
Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Sukarno,
2009.Penelitian Tindakan Kelas.
Surakarta: Media Perkasa.
Taufiq,
Agus, Puji Lestari Prianto, dan Hera Lestari Mikarsa. 2011. Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Penerbit
Universitas Terbuka.
Trianto.
2009. Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif Progresif : Konsep,
Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta: Kencana.
Tursan
Hakim, 2002. Belajar Secara Efektif.
Jakarta: Puspa Swara.
Winkel,
W.S.2004. Psikologi Pengajaran.
Jogjakarta: Media Abadi.
ABSTRAK
PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING
DALAM
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA
PELAJARAN IPS DI SMP ADVENT 2 SARIO MANADO
Nama : Siske Silvana Laloan
Sem S. Dehoop
Sjeddie R. Watung
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS
NEGERI MANADO
Penelitian ini
di adakan dengan tujuan, untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran
quantum teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Advent
2 Sario Manado atau tidak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
mengambil rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilakukan melalui 5
tahapan, yaitu : tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, tahap
refleksi dan terakhir yaitu tahap revisi rencana. Subjek penelitian adalah
siswa kelas IXa SMP Advent 2 Sario Manado, dengan jumlah siswa 48 orang.
Untuk menguji
hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan teknik tes.Teknik tes diberikan
pada akhir pembelajaran. Untuk hasil belajar siswa pada putaran pertama nilai
rata – rata siswa 39.6 %, sedangkan nilai rata –rata siswa pada putaran kedua
adalah 93.75 %. Dari hasil tersebut maka
nilai yang diperoleh siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM).Berdasarkan pada hasil analisis data penelitian, maka dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran quantum teaching dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas IXa di SMP Advent 2 Sario Manado.
Kata Kunci : Model
Pembelajaran Quantum Teaching, Hasil Belajar Siswa
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan
yang sangat penting dan berlangsung sepanjang masa.Pendidikan pada dasarnya
dapat membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi
perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Pendidikan yang baik akan
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas baik bagi diri sendiri,
bangsa, dan negara sehingga mampu bersaing dan berkompetisi dengan negara lain.
Dengan demikian, pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan
manusia yang berkualitas dan mampu bersaing disamping memiliki budi pekerti
luhur dan moral yang baik.
Dalam upaya meningkatkan kualitas
sumber daya manusia tidak terlepas dari pembelajaran yang berkualitas.Seorang guru
harus jeli menentukan model pembelajaran yang tepat yang dapat menumbuhkan
minat dan dapat meningkatkan motifasi belajar dan membuat siswa merasa belajar
itu penting dan bermanfaat bagi dirinya.
Sekolah lanjutan
pertama (SMP) merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar, karena itu
diharapkan output SMP benar – benar berkualitas sehingga siswa dapat
melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu, diharapkan
guru yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan, dituntut
kesadaran serta kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan dengan sebaik –
baiknya agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Saat ini dunia
pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan
seperangkat fakta yang harus dihafal.Kelas sebagian besar masih berfokus pada
guru sebagai sumber pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama
dalam strategi pembelajaran.
Itulah kenyataan
yang dihadapi oleh sebagian besar guru IPS di Sekolah Lanjutan Pertama (SMP).
Materi pelajaran yang kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang mudah
tapi susah, bersifat hafalan dan membosankan, sehingga menyebabkan rendahnya
perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, ditambah dengan
strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.
Dalam kegiatan
belajar mengajar, sering guru tidak sadar apakah cara mengajarnya dapat
menciptakan minat belajar siswa atau tidak.
Sering guru tidak melihat pentingnya hubungan dinamis dalam lingkungan
kelas dan tidak dapat membuat siswa merasa bahwa belajar itu penting dan
bermanfaat bagi mereka. Sebagai dampak
dari ketidaktepatan cara mengajar, maka akan menimbulkan siswa merasa bosan dan
kurang bergairah dan akhirnya tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai dengan
baik. Oleh karena itu, untuk menghindari
hal tersebut guru seharusnya jeli ketika menetapkan metode mengajar yang tepat
dengan situasi kelas
Kondisi
yang demikian terjadi pula di SMP Advent 2 Sario Manado. Hasil belajar
siswa kelas IX A terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih rendah karena
nilai ulangan semester mereka tidak sampai 60%. Hal itu menandakan bahwa pembelajaran IPS
kurang menarik, karena guru masih menggunakan model pembelajaran yang kurang
merangsang siswa untuk belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih
menekankan pada aspek pengetahuan saja, belum menyentuh pada
sikap dan kreatifitas siswa, karena guru kurang melibatkan siswa agar aktif
dalam proses pembelajaran.
Penyebab mengapa hasil belajar siswa rendah, diduga
antara lain karena siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas rumah ( PR ),
minat baca siswa rendah, dan tidak mau bertanya pada saat proses kegiatan
belajar mengajar walaupun belum mengerti
karena guru masih menggunakan metode ceramah yang kurang melibatkan siswa untuk
aktif dalam pelajaran, sehingga materi pelajaran menjadi kurang menarik yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa khususnya untuk mata pelajaran IPS kelas IX A
yang berjumlah 48 siswa, dimana rata-rata siswa yang mempunyai hasil belajar
rendah yaitu nilai 6,0 sebanyak 6 orang atau 12,5%, yang mempunyai hasil
belajar 6,4 sebanyak 25 orang atau 52,08% sedangkan nilai 7,2 sebanyak 17 orang
atau 35,42%. Dari nilai tersebut dapat dilihat bahwa hasil belajar belum
maksimal. Sementara standarisasi capaian nilai yang diharapkan menurut
Muktamar dan Rusmini adalah 7,5 sampai dengan 9 atau 75% - 90% telah menguasai
materi pelajaran yang diajarkan (Muktamar dan Rusmini, 2003 : 13).
Berdasarkan hal
tersebut diatas,terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas IXa SMP Advent 2 Sario
Manado belum optimal,maka perlu diadakan pembaharuan dalam model pembelajaran
yang digunakan guru saat proses pembelajaran agar tercipta suasana belajar yang kondusif dan
interaktif serta memberikan ruang kepada siswa untuk ikut berperan aktif
membangun pengetahuannya. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipikirkan
bagaimana merancang suatu pembelajaran yang dapat mengatasi
permasalahan-permasalah yang ada di kelas tersebut. Salah satu model
pembelajaran yang dipandang dapat mengatasi permasalahan tersebut di atas
adalah model Quantum Teaching.Quantum Teaching mengupayakan
belajar yang meriah dan menyenangkan dengan segala nuansanya dengan menyertakan
segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar.Quantum Teaching bersandar pada konsep “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan
antarkan dunia kita ke dunia mereka” (DePorter, 2001 : 7). Hal ini
menunjukan, betapa pembelajaran dengan Quantum
Teaching bukan hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa, tetapi
lebih jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan
emosional yang baik antara guru dan siswa.
Masalah yang
menjadi perhatian yaitu masih kurangnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPS. Faktor – faktor yang menyebabkan kurangnya hasil belajar dididentifikasi
sebagai berikut : 1. Rendahnya hasil belajar siswa, 2. Kurangnya minat belajar
siswa, 3. Kemampuan guru dalam memilih metode yang efektif masih kurang
maksimal dan 4. Kreativitas belajar siswa masih kurang.
METODE
PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah mengambil rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang
lazim dikenal dengan classroom
ActionResearch. Arikunto (2006 : 58) mengemukakan penelitian tindakan kelas
adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan
memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Sedangkan menurut Sukarno
(2009) penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inquiri reflektif yang
dilakukan untuk meneliti masalah sosial termasuk pembelajaran. Nur Hidayah
(2013 : 7) menambahkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu kegiatan
reflektif bagi guru yang dapat dipergunakan untuk peningkatan proses
pembelajaran yang telah dilakukan. Tindakan ini merupakan representasi terhadap
perbaikan proses pembelajaran dalam guru melaksanakan tugas yang merupakan
salah satu tanggung jawab terhadap peserta didiknya untuk kemajuan pendidikan. Menurut
Kemmis dan Tagart (Depdikbud: 1999) PTK dilakukan melalui proses : 1.tindakan
apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku
dan sikap sebagai solusi. 2. Tindakan : apa yang dilakukan oleh guru atau
peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan.
3. Observasi : mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan
atau dikenakan terhadap siswa. 4. Refleksi : melihat dan mempertimbangkan atas
hasil dampak dari tindakan dari berbagai kriteria. 5. Revisi Rencana : berdasarkan
hasil refleksi ini, peneliti dan guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap
rencana awal.
Alur Siklus Penelitian
Tindakan Kelas
![]() |
|
|
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||
![]() |
|
||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
(Arikunto, 2007 :16)
Gambar 1 : Siklus Penelitian Tindakan
Kelas
Tempat dan Waktu
Penelitian.Penelitian ini dilaksanakan di SMP Advent 2 Sario Manado, yang
menjadi sasaran penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX.Waktu
penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan dimulai dari bulan
September sampai bulan November 2014.
Teknik
Pengumpulan Data, untuk mendapatkan data yang akurat di dalam penelitian ini,
maka data dikumpulkan melalui Teknik Observasi Langsung dan Teknik Dokumentasi.
Teknik Observasi Langsung yaitu memperoleh data dengan cara mengamati hasil
belajar siswa melalui evaluasi yang dilakukan sebelum tahap pertama dan akhir
tahap kedua, dengan membandingksn daya serap sebelum dan sesudah tindakan.
Sedangkan Teknik Dokumentasi, dengan cara menghimpun semua hasil belajar siswa
yang terdokumentasi oleh guru.
Teknik
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan
rumus persentase dengan rumus sebagai berikut :
P =
X 100%
Keterangan
:
P
= Persentase (%)
F
= Frekwensi yang dicari persentasenya
N
= Jumlah siswa
(
W. Surachmad, 1999)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan
di SMP Advent 2 Sario Manado, Kelas IX A dengan jumlah siswa 48 orang.Adapun
tindakan yang dilakukan yaitu kegiatan pembelajaran dengan pokok bahasan “Uang
dan Lembaga Keuangan” dengan menerapkan Pembelajaran Quantum Teaching.
Tahap persiapan
I dilaksanakan sebagai titik tolak pembelajaran untuk mengkonsolidasikan dan
membuat komitmen atas peraturan dan konsekuensi yang akan dilaksanakan pada
pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
Adapun langkah-langkah pada
perencanaan persiapan guru adalah sebagai berikut:
a.
Mengadakan
pertemuan kelas untuk mendiskusikan peraturan saat pembelajaran IPS tentang
“Uang dan Lembaga Keuangan”.
b.
Membagikan
kertas dan meminta kepada siswa menuliskan 5 peraturan yang harus diikuti semua
siswa agar pembelajaran tertib dan menyenangkan, baik saat belajar individu
maupun belajar kelompok. (dibimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham,
supaya waktu lebih efektif)
c.
Membuat
daftar peraturan dari semua kertas yang telah ditulis siswa pada papan tulis.
Meminta siswa untuk membuang yang tidak perlu, menyusun prioritas peraturan,
dan mengkonsolidasikannya dengan seluruh siswa.
d.
Membuat
kesepakatan dengan siswa untuk menetapkan peraturan yang telah dipilih dan
dipriortaskan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran IPS tentang “Uang dan
Lembaga Keuangan”.
e.
Mendiskusikan
konsekuensi pelanggaran peraturan.
Mendiskusikan alasan-alasan, konsekuensi dan perasaan siswa mengenai
konsekuensi tersebut. (di bimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham)
f.
Menuliskan
konsekuensi-konsekuensi hasil diskusi tersebut pada papan tulis, dan
mengkonsolidasikan dengan seluruh siswa, kemudian membuat kesepakatan.
g.
Membacakan
semua peraturan dan konsekuensi pelanggarannya,kemudian meminta seluruh siswa
untuk menyepakatinya. Jika ada siswa yang tidak menyepakati, maka diberikan pengertian
manfaat displin pada peraturan. Misalnya jika kita melanggar rambu-rambu lalu
lintas di jalan raya maka kita bisa celaka.
h.
Mengatur
meja dan kursi.
i.
Menghiasi
ruangan dengan poster icon yang telah dipersiapkan oleh guru untuk menarik
perhatian, motivasi, dan menguatkan keyakinan siswa untuk belajar.
j.
Membentuk
kelompok.
k.
Mengarahkan
siswa untuk membuat kesimpulan apa yang telah dipelajari.
l.
Evaluasi
m.
Guru
menutup pelajaran.
Tahap Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian Putaran Pertama. Sesuai rencana yang telah disusun serta
langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang harus ditempuh, maka dalam
penelitian putaran pertama dilakukan kegiatan sebagai berikut: Langkah pertama
: dimulai dengan mengkondisikan siswa dan kelas menuju pembelajaran yang kondusif yaitu sebagai berikut:
peneliti : mengucapkan salam dan menanyakan kabar kepada siswa, kemudian
peneliti meminta siswa merapikan posisi bangku dan posisi duduk setiap
kelompok. Apa kabar hari ini? Anak-anakku bolehkah ibu meminta tolong?Agar
belajar kita lebih menyenangkan, tolong rapihkan bangku dan posisi duduk tiap
kelompok.Pengecekan kehadiran siswa. Langkah kedua : peneliti menjelaskan bagaimana siswa belajar dengan baik
secara individual/kelompok sesuai dengan peraturan dan konsekuensi yang telah
disepakati bersama. Langkah ketiga : peneliti melakukan apersepsi: Tanya jawab
mengenai uang, bank, tabungan dan manfaat dari menabung. Pada saat apersepsi
siswa sudah mulai fokus pada apa yang akan dipelajari. Untuk menumbuhkan
motivasi dan kepercayaan diri siswa. Langkah keempat : peneliti menyampaikan tujuan dan manfaat mempelajari materi
Uang dan Lembaga Keuangan. Dimana siswa mampu mendefinisikan serta menjelaskan
tentang uang dan lembaga keuangan. Langkah kelima : peneliti menyampaikan informasi singkat tentang materi
pelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga Keuangan” (alami dan namai)
Langkah keenam : peneliti
membimbing siswa untuk menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide/gagasan.
Langkah ketujuh : Peneliti
mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari
melalui pertanyaan.Langkah kedelapan :diberikan
evaluasi melalui pemberian soal. Langkah kesembilan : peneliti menutup pelajaran.
Tahap pengamatan. Berdasarkan hasil
pengamatan terhadap tindakan yang telah dilakukan guru dalam penerapan model
pembelajaran Quantum Teaching ternyata guru telah mengadakan tindakan di kelas
sesuai dengan rencana yang telah disusun, namun demikian masih terdapat
kekurangan pada pelaksanaan pembelajaran dari enam rancangan Quantum Teaching
yang telah diterapkan, tiga rancangan pembelajaran Quantum teaching
(demonstrasikan, ulangi, rayakan) belum diterapkan sesuai dengan target yang
ditentukan. Hal ini secara jelas tampak
pada hasil tes yang dicapai siswa.
Tabel 1. Rekapitulasi
hasil tes siklus I
|
Capaian
|
Rentang
Nilai
|
Jumlah
|
%
|
|
Tuntas
|
70
– 90
|
19
|
39.6%
|
|
Tak
Tuntas
|
40
- 69
|
29
|
60.4%
|
Setelah melihat hasil evaluasi
dari 48 siswa, dimana rentang nilai yang diperoleh setiap siswa berada pada
rentangan nilai 40 sampai 69 dari rentang nilai yang diperoleh itu ada 29 orang
yang tidak tuntas belajar, sebab kriteria tuntas belajar adalah 70 dan tuntas
belajar hanya 19 orang, yaitu siswa yang mendapatkan nilai antara 70 sampai 90.
Selanjutnya secara klasikal karena yang tuntas belajar hanya 19 orang atau
39.6% dari jumlah siswa di kelas maka itu berarti belum mencapai ketuntasan
belajar, sehingga perlu dilakukan kajian dan dilakukan pengajaran ulang, yakni
untuk menghilangkan kelemahan yang dilakukan pada putaran pertama, dan pada
pelaksanaan pembelajaran. Peneliti perlu melaksanakan penilaian sesuai dengan
kemampuan siswa, dan memperhatikan tahapan model yang digunakan.Dengan demikian
maka penelitian perlu dilanjutkan pada putaran berikutnya, yaitu putaran kedua.
Penelitian putaran kedua ini
dilakukan dengan memperhatikan hal – hal yang harus diperbaiki sebagai
kekurangan pada pelaksanaan putaran pertama.Dan dilakukan sesuai dengan Satuan
Pembelajaran. Guru mengupayakan penerapan enam rancangan pembelajaran Quantum
Teaching sesuai dengan yang ditargetkan dalam kegiatan pembelajaran IPS dengan
materi “ Uang dan Lembaga Keuangan” dan guru melaksanakan penilaian sesuai
kemampuan siswa, dan memberikan penghargaan (berupa kata-kata afirmasi) pada
setiap lembar evaluasi siswa. Pada akhir kegiatan pembelajaran diadakan tes,
dan hasilnya adalah sebagai berikut :
Tabel
2. Rekapitulasi hasil tes siklus II
|
Capaian
|
Rentang
Nilai
|
Jumlah
|
%
|
|
Tuntas
|
70
– 90
|
45
|
93.75%
|
|
Tak
Tuntas
|
60
- 65
|
3
|
6.25%
|
Berdasarkan pada kriteria
keberhasilan penelitian yang ditetapkan diatas, apabila 85% dari jumlah siswa
yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat nilai ≥70 maka secara
kelompok telah tercapai ketuntasan belajar.Oleh karena itu, dikaitkan dengan
kriteria ketuntasan belajar tersebut, maka hasil penelitian ini ternyata telah
memenuhi kriteria tersebut.Dengan demikian maka dapat disimpulkan dengan
penerapan model pembelajaran Quantum
Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS
berdasarkan kriteria ketuntasan belajar.Sedangkan siswa yang tidak tuntas
nilainya, yang berjumlah 3 orang atau 6.25% dilakukan perbaikan-pengayaan.
Dalam
kegiatan penelitian ini, maka peneliti bersama seorang guru IPS telah
bersama-sama berupaya untuk memantau pelaksanaannya mulai dari persiapan sampai
pelaksanaan di kelas bahkan dalam melakukan refleksi untuk mengevaluasi dan
menganalisis keseluruhan tindakan yang telah dilakukan dan hasil yang di
peroleh serta pertimbangan dan usulan perbaikan dan peningkatan.
Pelaksanaan
kegiatan pemantauan ini yaitu ditujukan untuk mengawasi objektivitas
pelaksanaan seluruh kegiatan penelitian sebagaimana yang telah dirancang.Selanjutnya
hasil pengamatan terhadap seluruh pelaksanaan penelitian ini sekaligus juga
dijadikan sebagai bahan refleksi untuk menganalisis tindakan guru dalam
kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPS.
Ternyata
pada langkah – langkah dengan penerapan quantum teaching yang telah
direncanakan dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran hasilnya dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
Berdasarkan
pada kriteria ketuntasan yang ditetapkan dalam penelitian ini bahwa apabila 85%
dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat ≥7,0 maka
secara kelompok telah tercapai ketuntasan belajar. Oleh karena itu, dikaitkan
dengan ketuntasan belajar tersebut maka hasil penelitian ini telah memenuhi
kriteria, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran
Quantum Teaching pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa
berdasarkan kriteria ketuntasan belajar.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Berdasarkan atas hasil penelitian
tindakan kelas di kelas IX SMP Advent 2
Sario Manado, maka dikemukakan beberapa kesimpulan: 1. Penerapan model Quantum
Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX pada mata pelajaran
IPS dengan materi “Uang dan Lembaga Keuangan”. 2. Model Quantum Teaching dapat
meningkatkan motivasi siswa dalam pembalajaran IPS. 3. Model Pembelajaran
Quantum Teaching dapat meningkatkan kerjasama diantara kelompok maupun
individu, sekaligus dapat meningkatkan wawasan pengetahuan siswa pada materi
yang diajarkan guru di dalam kelas.
Adapun
saran – saran yang dikemukakan adalah : 1. Diharapkan dalam proses belajar
mengajar menerapkan model Quantum Teaching karena dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. 2. Guru dalam penerapan Quantum Teaching memperhatikan setiap
langkah-langkahnya agar supaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Guru
yang menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching harus mendorong siswa agar
aktif dalam berdiskusi.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto
Suharsimi, 2007, Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto
Suharsimi, 2006, Dasar – dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdikbud,
2001, Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Depdikbud
DePorter,
Mark Reardon, Sarah Singer Nourie. 2001. Quantum
Teaching. Bandung: Kaifa.
Hidayah
Nur, 2013, Panduan Praktis Penyusunan dan
Pelaporan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Muktamar,
dan Rusmini.2003.Pengajaran Remidial
Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta: Fifa Mulia Sejahtera.
Sukarno,
2009, Penelitian Tindakan Kelas.Surakarta:
Media Perkasa.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar