Renungan Pagi “Pandanglah Pada Yesus”
28 Januari 2016
Sambutan Ketiga Terhadap Yesus
“Ketika raja Herodes
mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya
semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan
dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: ‘Di Betlehem
di tanah Yudea, karena demikanlah ada tertulis dalam kitab nabi”’ (Matius
2:3-5).
Kemungkinan ada sambutan ketiga terhadap Yesus
di dalam episode orang-orang Majus pada Matius 2 – yaitu sambutan
para pemimpin Yahudi. Matius memberitahu kita bahwa “seluruh Yerusalem” pun
“terkejut” oleh kedatangan orang-orang Majus itu dan pernyataan-pernyataan
serta pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai kelahiran “Raja orang Yahudi.” Para
pemimpin Yahudi mengerti pentingnya misi orang-orang Majus itu dan mampu menunjukkan
dengan tepat kenyataan yang menurut Mikha 5:2, Mesias akan dilahirkan di
Betlehem. Mereka memahami kitab-kitab mereka dan nubuatan-nubuatan Mesianik
yang ada di dalamnya. Ketidakacuhan atau kekebalan bukanlah satu-satunya
kekurangan mereka.
Dari kisah orang-oran Majus itu, tragedi besar
adalah para pemimpin Yahudi rupanya “terkejut” karena ketakutan mereka terhadap
apa yang Herodes mungkin akan lakukan, dan bukan karena bersemangat terhadap
kedatangan Mesias. Matius menggambarkan tanggapan mereka terhadap Kristus
sendiri sebagai sikap yang sama sekali tidak peduli. Mereka tidak berkunjung ke
Betlehem, walau jaraknya dari Yerusalem hayalah delapan mil. Mereka tidak
menunjukkan bukti dari ketakutan dan kebencian Herodes, mereka juga tidak
memperlihatkan minat dan perhatian seperti yang diperlihatkan
orang-orang Majus yang memuja. Mereka semata-mata masa bodoh.
Dengan demikian pada kisah orang-orang Majus,
Matius menyuguhkan tiga sambutan terhadap Yesus: Penolakan yang sengit,
pemujaan, dan ketidakpedulian, kemungkinan-kemungkinan itu tidak berhenti pada
Matius 2. Sebaliknya, bagaimana menaggapi Yesus menjadi tema dari kesuluruhan
empat kitab Injil. Suatu pola yang berhubungan adalah bahwa kedatangan Yesus
selalu menceraiberaikan orang dan menimbulkan konflik. Dihadapkan dengan
kehidupan-Nya, ajaran-ajaran-Nya dan pernyataan-pernyataan-Nya, kita
masing-masing menemukan diri kita dipaksa supaya menanggapi dengan (1) pujian
dan sambutan, (2) kebencian dan pertentangan, atau (3)
ketidakpedulian yang dingin. Salah satu paradox dari kedatangan Pangeran Damai
adalah bahwa pernyataan-pernyataannya tetap secara berlanjut
mencerai-beraikan orang ke dalam kategori-kategori ini, sementara pertentangan
besar antara Kristus dan Setan bekerja sampai tuntas di dalam kehidupan
perorangan di seluruh dunia pada setiap generasi.
Inilah masalah-masalah yang patut kita
tanggapi secara serius. Karena, dari pengalaman para pemimpin Yahudi menunjukkan
bahwa, keanggotaan gereja atau bahkan kepemimpinan tidak serta merta membuat
kita benar terhadap Allah. Dia memberi kita masing-masing kebebasan untuk
melakukan apa yang kita inginkan terhadap Dia “Raja orang Yahudi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar