Renungan Pagi 29 Januari 2016 “Pandanglah
Pada Yesus”
Kunjungan Pertama Kali Ke Bait Allah
“Dan ketika genap waktu pentahiran,
menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk
menyerahkan-Nya kepada Tuhan,… dan untuk mempersembahkan korban…. Adalah di
Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan
penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah
dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan” (Lukas 2:22-26).
Yesus dan keluarga-Nya adalah orang
Yahudi. Maka, keluarga itu menaati hukum-hukum budaya yang Dia Sendiri telah
berikan kepada Musa pada 1.500 tahun sebelumnya. Kurang lebih sebulan setelah
Dia disunat (dilaksanakan pada hari kedelapan setelah kelahiran, Lukas 2:21),
keluarga-Nya membawa Dia ke Bait Allah di Yerusalem untuk upacara-upacara
sehubungan dengan penyucian ibu-Nya dan mempersembahkan putra sulungnya.
Kunjungan ke Bait Allah pastinya
terjadi sebelum kedatangan orang-orang Majus, karena orang tua tentu tidak akan
datang ke Yerusalem untuk mencoba nasib begitu murka Herodes sudah timbul.
Lagipula, mereka meninggalkan Betlehem pergi ke Mesir segera setelah
orang-orang Majus berangkat.
Pada kunjungan ke Yerusalem, mereka
bertemu Simeon di dalam Bait Allah, seorang saleh yang adalah salah satu orang
Yahudi yang tersisa yang dengan setia mempelajari nubuatan-nubuatan tentang
sang Mesias (“penghiburan bagi Israel”). Seorang lain yang belajar adalah
nabiah Hana yang menghabiskan siang malam di Biat Allah, berbicara tentang
kedatangan penyelamat kepada semua yang mau mendengar (ayat 36-38).
Simeon sosok yang unik, dan Allah
telah memberitahukan padanya bahwa dia tidak akan mati sebelum melihat
Yesus. Dan ketika dia bertemu Yesus, dia memberkati-Nya, menyadari
bahwa dia sekarang sudah melihat keselamatan dari Allah (ayat 30), yang akan
menjadi “terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi
kemuliaan” Israel (ayat 32). Dan pernyataan itu, Simeon yang berusia lanjut
bergerak menembusi kepicikan orang Yahudi. Mereka terlalu sering mencari keselamatan
bagi diri mereka sendiri saja, bukan juruselamat bagi semua bangsa. Tetapi di
dalam kata-kata yang diilhami dari Simeon itu kita temukan bahkan pada masa
kecil Yesus bahwa inkarnasi-Nya akan memberikan penebusan bagi semua orang –
Yahudi maupun bukan Yahudi.
Inilah pelajaran penting. Sebagai
anggota-anggota keluarga Allah, kita bisa saja merampas Yesus terlalu dekat
bagi diri kita sendiri saja dan bagi mereka yang berpikir dan percaya persis
seperti kita. Kita cendrung melihat-Nya sebagai Juruselamat kita saja. Tetapi
kata-kata Simeon mengingiatkan kita bahwa Yesus adalah Juruselamat semua yang
meneriman-Nya dan apa yang dilakukan-Nya di atas kayu salib.
Simeon melihat bahwa semua orang akan
jatuh atau bangkit (ayat 34), tergantung hubungan mereka dengan Yesus. Di sini
terdapat ucapan yang keras. William Barclay menerangkannya dengan mengemukakan,
“Bukan semata-mata Allah yang menilai seseorang; orang menilai dirinya sendiri,
dan penilainnya adalah reaksinya terhadap Yesus Kristus.”
(Silahkan Share………….sebanyak-banyaknya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar