Minggu, 31 Januari 2016

Renungan Pagi 1 Februari 2016

Renungan 1 Februari 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Yesus Mulai Mendapat Gambaran
“Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: ‘Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.’ Jawab-Nya kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?’’ (Lukas 2:46-49).
Kejadiannya dapat dimengerti. Seorang anak laki-laki Yahudi memasuki fase dewasa ketika dia berusia 12 tahun. Pada waktu itu dia menjadi “putra hukum” (kemudian disebut bar [putra dari] mitzvah [perintah]. SetelahBar Mitzvah-Nya, seorang pemuda Yahudi secara moral bertanggungjawab terhadap tindak tanduknya dan memenuhi syarat untuk turut ambil bagian dalam upacara umum.
Jadi, kita menemukan Yesus melakukan perjalanan ke Yerusalem bersama orangtua-Nya untuk upacara tersebut. Tetapi kisahnya mendadak menyimpang ketika mereka pulang tanpa Dia dan harus kembali agar menemukan Putra mereka yang “nyasar.”
Tetapi Yesus tidak ke mana-mana. Sebaliknya, pada perjalanan pendek itu Dia menemukan “rumah”-Nya yang sesungguhnya. Uapacara –upacara Bait Suci sebagaimana Dia saksikan untuk pertama kali membuat-Nya mengerti misi-Nya dalam kehidupan. Buku Alfa dan Omega mencatat bahwa hari demi hari Dia melihat lebih jelas arti upacara dalam Bait Allah, terutama melalui korban domba Paskah . “Tiap perbuatan tampaknya terikat dengan hidup-Nya sendiri. Getaran-getaran baru timbul dalam dada-Nya. dengan  tenang dan penuh perhatian Ia Nampak mempelajari sebuah soal yang pelik. Rahasia tugasnya sedang terbuka bagi Juruselamat” (jld. 5, hlm.69).
Sementara itu, Maria dan Yusuf sedang dalam keadaan panik. Tak ada siapa pun yang ingin kehilangan anak, tetapi untuk kehilangan Juruselamat yang dijanjikan tentu hentakan bagi hati mereka.
Dua hal menonjol ketika mereka menemukan Putra mereka yang sedang bertumbuh. Pertama, Dia dengan halus menyangkal Yusuf sebagai ayah-Nya. Maria telah menyebut Yusuf “bapa-Mu.” Tetapi Yesus menanggapi bahwa Dia selama ini berada dalam “rumah Bapa-Ku,” menunjukkan bahwa  Dia telah mengerti kenyataan bahwa Dia  adalah Putra Allah secara unik. Hal kedua adalah keheranan para ahli Taurat paling terkemuka bangsa itu, sewaktu anak muda ini mengajukan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan paling menusuk tentang arti sistem Bait Suci dan mengemukakan jawaban-jawaban mendalam dalam diskusi bersama itu.
Inspirasi termasuk beberapa ayat ini dalam kisah kehidupan Kristus karena ayat-ayat itu merupakan titik balik yang besar: Yesus  sekarang, sepenuhnya mengetahui siapa Dia dan sifat misi kehidupan-Nya sebagai Anak Domba Allah. Tetapi hal itu tidak membuat-Nya bangga atau sombong kepada Maria dan Yusuf. Dia pulang bersama mereka dan tetap “hidup dalam asuhan mereka” (Luk. 2:51).


Jumat, 29 Januari 2016

Renungan Pagi 30 Juni 2016 “Pandanglah Pada Yesus”

Renungan Pagi Sabat, 30 Juni 2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Dilahirkan Dengan Acaman Ditangkap

“Setelah orang-orang Majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ‘Bangunlah ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia (Matuis 2:13).

Bayangkan kayu salib mendominasi kisah Yesus mulai dari sini ke depan. Yesus datang ke dunia dengan ancaman akan ditangkap. Keluaraga-Nya telah meloloskan diri dari Betlehem untuk menghindari orang-orang suruhan Herodes. Seseorang yang sama sekali tidak berpikir panjang untuk membantai keluarganya sendiri jika dia merasa terancam oleh mereka, memberi perintah pada ranjang kematiannya agar para warga terkemuka dari Yerusalem dibantai sehingga ada tangis ratapan pada pemakamannya, tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh lusinan bayi hanya karena kemungkinan salah satunya akan dianggap sebagai raja di masa mendatang.
Ada orang yang hidupnya mulus-mulus saja di masa mudanya. Tidak begitu Yesus. Dia lahir ke dalam bagian sulit dunia pada waktu terjadi kekacauan, ketakutan, dan kekerasan. Sebagaimana ditemukan N.T, Wright, “Sebelum Panggeran Damai belajar berjalan dan berbicara, Dia adalah pengungsi tanpa rumah dengan perintah untuk ditangkap.
Begitulah Allah berikhtiar untuk membebaskan umatnya dan akhirnya membawa keadailan bagi d. “Tidak ada alasan,” lanjut Wright, untuk tidak secara nyaman, ketika dunia sedang sengsara; tidak ada alasan menjalani hidup yang muda, ketika dunia menderita kekerasan dan ketidakadilan! Jika Dia menjadi Immanuel, Allah beserta kita, maka Dia harus berada bersama kita di mana ada kepedihan.”
Melarikan diri ke Mesir di saat kerusuhan adalah tradisi lama di antara orang Israel, sebagaimana digambarkan oleh kisah Abraham dan Yusuf. Mesir adalah tempat paling aman untuk mengungsi. Akibatnya, pada zaman Yesus, koloni demi koloni orang Yahudi terbentuk di seluruh Mesir, di Iskandaria saja bermukim satu juta orang Yahudi. Maka ketika keluarga itu mencapai Mesir, mereka sebenarnya tidak berada di antara orang asing.
Setelah Herodes wafat, Yusuf membawa keluarganya kembali ke Israel, tetapi ke Nazaret karena perasaan takut yang diilhami malaikat tentang putra Herodes (Mat. 2:19-23). Nazaret yang kecil dan kumuh. Tempatnya tidak patut bagi seorang raja dibesarkan. Tempat itu tidak terkenal seperti Yerusalem atau bahkan seperti Betlehem, suatu lokasi untuk Mesias. Nathanel pernah bertanya-tanya dengan suara nyaring, apkah mungkin ada sesuatu yang baik bisa keluar dari Nazaret (Yoh. 1:46).

Mungkin kita sering tergoda mengeluh tentang keadaan yang dilimpahkan kehidupan kepada kita. Terkadang, kita iba kepada diri kita sendiri karena ketidakadilan kehidupan. Di saat-sat itu, pandanglah kepada Yesus yang menjadikan Anda agar Anda suatu hari nanti mewarisi sebuah kerajaan surgawi. 

Kamis, 28 Januari 2016

Renungan Pagi 29 Januari "Pandanglah Pada Yesus"-Kunjungan Pertama Kali Ke Bait Allah

Renungan Pagi 29  Januari  2016  “Pandanglah Pada Yesus”

Kunjungan Pertama Kali Ke Bait Allah
“Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,… dan untuk mempersembahkan korban…. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan” (Lukas 2:22-26).
Yesus dan keluarga-Nya adalah orang Yahudi. Maka, keluarga itu menaati hukum-hukum budaya yang Dia Sendiri telah berikan kepada Musa pada 1.500 tahun sebelumnya. Kurang lebih sebulan setelah Dia disunat (dilaksanakan pada hari kedelapan setelah kelahiran, Lukas 2:21), keluarga-Nya membawa Dia ke Bait Allah di Yerusalem untuk upacara-upacara sehubungan dengan penyucian ibu-Nya dan mempersembahkan putra sulungnya.
Kunjungan ke Bait Allah pastinya terjadi sebelum kedatangan orang-orang Majus, karena orang tua tentu tidak akan datang ke Yerusalem untuk mencoba nasib begitu murka Herodes sudah timbul. Lagipula, mereka meninggalkan Betlehem pergi ke Mesir segera setelah orang-orang Majus berangkat.
Pada kunjungan ke Yerusalem, mereka bertemu Simeon di dalam Bait Allah, seorang saleh yang adalah salah satu orang Yahudi yang tersisa yang dengan setia mempelajari nubuatan-nubuatan tentang sang Mesias (“penghiburan bagi Israel”). Seorang lain yang belajar adalah nabiah Hana yang menghabiskan siang malam di Biat Allah, berbicara tentang kedatangan penyelamat kepada semua yang mau mendengar (ayat 36-38).
Simeon sosok yang unik, dan Allah telah memberitahukan padanya bahwa dia tidak akan mati sebelum melihat Yesus.  Dan ketika dia bertemu Yesus, dia memberkati-Nya, menyadari bahwa dia sekarang sudah melihat keselamatan dari Allah (ayat 30), yang akan menjadi “terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan” Israel (ayat 32). Dan pernyataan itu, Simeon yang berusia lanjut bergerak menembusi kepicikan orang Yahudi. Mereka terlalu sering mencari keselamatan bagi diri mereka sendiri saja, bukan juruselamat bagi semua bangsa. Tetapi di dalam kata-kata yang diilhami dari Simeon itu kita temukan bahkan pada masa kecil Yesus bahwa inkarnasi-Nya akan memberikan penebusan bagi semua orang – Yahudi maupun bukan Yahudi.
Inilah pelajaran penting. Sebagai anggota-anggota keluarga Allah, kita bisa saja merampas Yesus terlalu dekat bagi diri kita sendiri saja dan bagi mereka yang berpikir dan percaya persis seperti kita. Kita cendrung melihat-Nya sebagai Juruselamat kita saja. Tetapi kata-kata Simeon mengingiatkan kita bahwa Yesus adalah Juruselamat semua yang meneriman-Nya dan apa yang dilakukan-Nya di atas kayu salib.
Simeon melihat bahwa semua orang akan jatuh atau bangkit (ayat 34), tergantung hubungan mereka dengan Yesus. Di sini terdapat ucapan yang keras. William Barclay menerangkannya dengan mengemukakan, “Bukan semata-mata Allah yang menilai seseorang; orang menilai dirinya sendiri, dan penilainnya adalah reaksinya terhadap Yesus Kristus.”

(Silahkan Share………….sebanyak-banyaknya)


Rabu, 27 Januari 2016

Renungan Pagi, 28 Januari 2016

Renungan Pagi  “Pandanglah Pada Yesus”

28  Januari  2016

Sambutan Ketiga Terhadap Yesus

“Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: ‘Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikanlah ada tertulis dalam kitab nabi”’ (Matius 2:3-5).
Kemungkinan ada sambutan ketiga terhadap Yesus di dalam episode orang-orang  Majus pada Matius 2 – yaitu sambutan para pemimpin Yahudi. Matius memberitahu kita bahwa “seluruh Yerusalem” pun “terkejut” oleh kedatangan orang-orang Majus itu dan pernyataan-pernyataan serta pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai kelahiran “Raja orang Yahudi.” Para pemimpin Yahudi mengerti pentingnya misi orang-orang Majus itu dan mampu menunjukkan dengan tepat kenyataan yang menurut Mikha 5:2, Mesias akan dilahirkan di Betlehem. Mereka memahami kitab-kitab mereka dan nubuatan-nubuatan Mesianik yang ada di dalamnya. Ketidakacuhan atau kekebalan bukanlah satu-satunya kekurangan mereka.
Dari kisah orang-oran Majus itu, tragedi besar adalah para pemimpin Yahudi rupanya “terkejut” karena ketakutan mereka terhadap apa yang Herodes mungkin akan lakukan, dan bukan karena bersemangat terhadap kedatangan Mesias. Matius menggambarkan tanggapan mereka terhadap Kristus sendiri sebagai sikap yang sama sekali tidak peduli. Mereka tidak berkunjung ke Betlehem, walau jaraknya dari Yerusalem hayalah delapan mil. Mereka tidak menunjukkan bukti dari ketakutan dan kebencian Herodes, mereka juga tidak memperlihatkan minat dan perhatian seperti  yang diperlihatkan orang-orang Majus yang memuja. Mereka semata-mata masa bodoh.
Dengan demikian pada kisah orang-orang Majus, Matius menyuguhkan tiga sambutan terhadap Yesus: Penolakan yang sengit, pemujaan, dan ketidakpedulian, kemungkinan-kemungkinan itu tidak berhenti pada Matius 2. Sebaliknya, bagaimana menaggapi Yesus menjadi tema dari kesuluruhan empat kitab Injil. Suatu pola yang berhubungan adalah bahwa kedatangan Yesus selalu menceraiberaikan orang dan menimbulkan konflik. Dihadapkan dengan kehidupan-Nya, ajaran-ajaran-Nya dan pernyataan-pernyataan-Nya, kita masing-masing menemukan diri kita dipaksa supaya menanggapi dengan (1) pujian dan sambutan, (2) kebencian  dan pertentangan, atau (3) ketidakpedulian yang dingin. Salah satu paradox dari kedatangan Pangeran Damai adalah bahwa  pernyataan-pernyataannya tetap secara berlanjut mencerai-beraikan orang ke dalam kategori-kategori ini, sementara pertentangan besar antara Kristus dan Setan bekerja sampai tuntas di dalam kehidupan perorangan di seluruh dunia pada setiap generasi.

Inilah masalah-masalah yang patut kita tanggapi secara serius. Karena, dari pengalaman para pemimpin Yahudi menunjukkan bahwa, keanggotaan gereja atau bahkan kepemimpinan tidak serta merta membuat kita benar terhadap Allah. Dia memberi kita masing-masing kebebasan untuk melakukan apa yang kita inginkan terhadap Dia “Raja orang Yahudi.”

Selasa, 26 Januari 2016

Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu

BAB 1
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting dan berlangsung sepanjang masa.Pendidikan pada dasarnya dapat membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas baik bagi diri sendiri, bangsa, dan negara sehingga mampu bersaing dan berkompetisi dengan negara lain. Dengan demikian, pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing disamping memiliki budi pekerti luhur dan moral yang baik.
Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia tidak terlepas dari pembelajaran yang berkualitas.Seorang guru harus jeli menentukan model pembelajaran yang tepat yang dapat menumbuhkan minat dan dapat meningkatkan motifasi belajar dan membuat siswa merasa belajar itu penting  dan bermanfaat bagi dirinya.
Sekolah lanjutan pertama (SMP) merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar, karena itu diharapkan output SMP benar – benar berkualitas sehingga siswa dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu, diharapkan guru yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan, dituntut kesadaran serta kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan dengan sebaik – baiknya agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Saat ini dunia pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta yang harus dihafal.Kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama dalam strategi pembelajaran.
Itulah kenyataan yang dihadapi oleh sebagian besar guru IPS di Sekolah Lanjutan Pertama (SMP). Materi pelajaran yang kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang mudah tapi susah, bersifat hafalan dan membosankan, sehingga menyebabkan rendahnya perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, ditambah dengan strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.
Dalam kegiatan belajar mengajar, sering guru tidak sadar apakah cara mengajarnya dapat menciptakan minat belajar siswa atau tidak.  Sering guru tidak melihat pentingnya hubungan dinamis dalam lingkungan kelas dan tidak dapat membuat siswa merasa bahwa belajar itu penting dan bermanfaat bagi mereka.  Sebagai dampak dari ketidaktepatan cara mengajar, maka akan menimbulkan siswa merasa bosan dan kurang bergairah dan akhirnya tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai dengan baik.  Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut guru seharusnya jeli ketika menetapkan metode mengajar yang tepat dengan situasi kelas
Kondisi yang demikian terjadi pula di  SMP Advent 2 Sario Manado. Hasil belajar siswa kelas IX A terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih rendah karena nilai  ulangan semester mereka tidak sampai  60%.  Hal itu menandakan bahwa pembelajaran IPS kurang menarik, karena guru masih  menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang siswa untuk belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih menekankan pada aspek pengetahuan saja, belum menyentuh pada sikap dan kreatifitas siswa, karena guru kurang melibatkan siswa agar aktif dalam proses pembelajaran.
Penyebab mengapa hasil belajar siswa rendah, diduga antara lain karena siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas rumah ( PR ), minat baca siswa rendah, dan tidak mau bertanya pada saat proses kegiatan belajar mengajar walaupun  belum mengerti karena guru masih menggunakan metode ceramah yang kurang melibatkan siswa untuk aktif dalam pelajaran, sehingga materi pelajaran menjadi kurang menarik yang mengakibatkan  rendahnya hasil belajar siswa  khususnya untuk mata pelajaran IPS kelas IX A yang berjumlah 48 siswa, dimana rata-rata siswa yang mempunyai hasil belajar rendah yaitu nilai 6,0 sebanyak 6 orang atau 12,5%, yang mempunyai hasil belajar 6,4 sebanyak 25 orang atau 52,08% sedangkan nilai 7,2 sebanyak 17 orang atau 35,42%. Dari nilai tersebut dapat dilihat bahwa hasil belajar belum maksimal. Sementara standarisasi capaian nilai yang diharapkan menurut Muktamar dan Rusmini adalah 7,5 sampai dengan 9 atau 75% - 90% telah menguasai materi pelajaran yang diajarkan (Muktamar dan Rusmini, 2003 : 13).
Berdasarkan hal tersebut diatas,terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas IXa SMP Advent 2 Sario Manado belum optimal,maka perlu diadakan pembaharuan dalam model pembelajaran yang digunakan guru saat proses pembelajaran agar tercipta suasana belajar yang kondusif dan interaktif serta memberikan ruang kepada siswa untuk ikut berperan aktif membangun pengetahuannya. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipikirkan bagaimana merancang suatu pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan-permasalah yang ada di kelas tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dipandang dapat mengatasi permasalahan tersebut di atas adalah model Quantum Teaching.  Quantum Teaching mengupayakan belajar yang meriah dan menyenangkan dengan segala nuansanya dengan menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar. Quantum Teaching bersandar pada konsep “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka” (DePorter, 2001 : 7). Hal ini menunjukan, betapa pembelajaran dengan Quantum Teaching bukan hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa, tetapi lebih jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik antara guru dan siswa.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul : “Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Di SMP Advent 2 Sario Manado”.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
Seberapa besar peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran kubus dan balok melalui penerapan model Quantum Teaching pada siswa kelasDengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching hasil belajar siswa pada mata Pelajaran IPS akan meningkat.

C.      Tujuan Penelitian
Untuk melihat apakah model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

D.      Manfaat Penelitian
1.        Manfaat Teoritis
a.         Untuk memperluas wawasan berpikir peneliti dalam mengembangkan ilmu yang dimiliki serta menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian.
b.         Sebagai bahan masukan untuk penelitian dalam penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dalam hubungannya dengan peningkatan hasil belajar siswa.
2.        Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru akan pentingnya pembelajaran Quantum Teaching dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Landasan Teori
1.        Pengertian Belajar dan Mengajar
Belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Menurut Sardiman (2011: 21): “Belajar adalah rangkaian kegiatan jiwa-raga, psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”. 
Purwanto (2011: 38-9): “Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya”. 
Trianto (2009: 16): Belajar merupakan perubahan pada diri individu yang terjadi melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya, maupun karakteristik seseorang sejak lahir. 
Syamsudin (2000) dalam Taufiq, Prianto, dan Mikarsa (2011: 5.4): Belajar adalah proses mengalami sesuatu untuk menghasilkan perubahan tingkah laku. 
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses dalam diri individu melalui pengalaman yang menghasilkan perubahan.
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar.  Kalau belajar dikatakan milik siswa maka mengajar sebagai kegiatan guru.
Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa.Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik bagi seluruh siswa.Oleh karena itu, rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana.Dalam arti menumbuhkan rumusan yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri.
Terdapat beraneka ragam rumusan pengertian tentang mengajar.Setiap rumusan mempunyai kaitan arti dalam praktek pelaksanaannya.Rumusan itu sendiri tergantung pada pandangan perumusannya. Seseorang berpandangan bahwa mengajar hanya sekedar menyampaikan pelajaran, tentu akan merumuskan pengertian yang sederhana. Rumusan yang dibuat tentang mengajar adalah “upaya menyampaikan bahan pembelajaran kepada siswa.”
Bila pengertian sederhana itu diterima, maka pelaksanaan atau praktek pembelajaran berlangsung sederhana pula.Yakni, disatu pihak guru menyampaikan bahan pembelajaran, sedangkan di pihak siswa menerima pembelajaran yang diberikan. Proses penyampaian biasanya berlangsung secara imposisi (penuangan). Yakni guru menuangkan sejumlah informasi-bahan pelajaran kepada siswa.Jadi kegiatan di kelas banyak didominasi oleh guru.Aktifitas siswa lebih banyak mendengar atau menerima (bersifat pasif).Oleh sebab itu, pada umumnya informasi diberikan secara lisan dalam bentuk kata-kata, maka pengajaran cenderung bersifat verbalistis.
Mengajar adalah “segala upaya yang sengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.” Bila diterima pengertian ini, sasaran akhir proses pengajaran adalah siswa belajar. Oleh karena itu, upaya apapun dapat dilakukan, asalkan upaya itu sengaja dengan penuh rasa tanggung jawab menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan.
Menurut Sardiman (2003 : 45) Mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisir atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.
Menurut Gulo (2002:8) bahwa mengajar adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara optimal.
Hamalik (2011:44) memberikan definisi pada mengajar dengan batasan bahwa mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah, mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah (hal.47), usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa (hal.48), memberikan bimbingan belajar kepada murid (hal.50), kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat (hal.50), dan suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari – hari (hal.52).
Jadi berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mencoba menolong , membimbing seseorang untuk mendapatkan skill, cita – cita dan juga ilmu pengetahuan dengan cara menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa untuk belajar secara aktif.
2.        Model Pembelajaran Quantum Teaching
 Dalam dunia pendidikan kita sering mengenal atau mendengar istilah "pembelajaran".Pembelajaran tidak hanya berlaku dibangku sekolah saja, namun diluar lingkungan sekolah, pembelajaranpun berlaku dalam hal apapun.Dimana yang kita ketahui tentang pembelajaran adalah sesuatu yang secara sengaja atau tidak sengaja yang diperoleh dari pengalaman untuk perubahan segala tingkah laku kearah yang lebih baik. Atau sebuah proses belajar dari pengalaman hidup yang berlaku untuk perbaikan diri.
Menurut Syaiful Sagala (2009:61) Pembelajaran adalah “ membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan“.Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar oleh peserta didik.
Menurut Trianto (2009:17) “Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan”. Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup.Pembelajaran dalam makna kompleks adalah usaha sadar dari seorang guruuntuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
Disisi lain, Aunurrahman (2010:9) menempatkan pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer of knowledge dari guru ke siswa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dialami setiap orang sepanjang hayat serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran merupakan interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
Model Pembelajaran Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dari guru dan murid di dalam  kelas, sebagai interaksi untuk mendirikan landasan dan kerangka belajar. Interaksi – interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa (suasana, landasan, lingkungan dan rancangan). Asas utama model ini yaitu “ bawalahdunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.Disini guru berperan aktif, guru bukan hanya sekedar pemberi pengetahuan sebab guru merupakan teman belajar, model, pembimbing dan fasilitator.
Guru dalam model Quantum Teaching disamakan dengan seorang kondaktor dalam sebuah simponi.  Dia harus dapat mengubah pola pikir siswa bahwa belajar itu menyenangkan dan sangat penting untuk dirinya.Sistem pembelajarannya tanpa ada tekanan pada diri siswa, selalu menganggap kalau siswa itu sangat penting dan perlu dilatih, didukung untuk dapat belajar dengan baik.
Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.Maksudnya adalah mengingatkan guru, pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Untuk mengajar, pertama-tama harus membangun jembatan autentik memasuki kehidupan mereka (siswa), karena tindakan itu akan menuntun, dan memudahkan perjalanan siswa menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Caranya dengan mengaitkan apa yang diajarkan dengan sebuah peristiwa pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademis siswa. Setelah kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa mereka ke dalam dunia guru dan memberi pemahaman tentang isi dunia kita (Guru).Disinilah kosakata baru, model, rumus dan lain-lain diberitahukan.  Seraya menjelajahi kaitan dan interaksi, baik siswa maupun guru mendapatkan pemahaman baru dan  “dunia kita” diperluas tidak hanya siswa tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru. (DePorter Bobby, dkk.2001:67).

Prinsip-prinsip Quantum Teaching
a.       Segalanya berbicara
Segala dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang anda bagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.
b.      Segalanya bertujuan
Segalanya bertujuan dapat digambarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam proses belajar mengajar memiliki tujuan tertentu. Suatu tujuan yang diharapkan tidak harus diuraikan dengan kata-kata. Dapat pula diwujudkan dan mencakup keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam proses belajar mengajar itu sendiri.



c.       Pengalaman sebelum pemberian nama
Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka pelajari.
d.      Akui setiap usaha
Belajar pada hakekatnya mengandung konsekuensi ketika peserta didik mulai melangkah untuk belajar yang bagaimanapun untuk setiap usaha dan pekerjaan untuk belajar yang dilakukan selalu dianggap perlu dan akan berpengaruh terhadap hasil pekerjaan yang lebih baik.  Fungsi dari pengakuan akan berperan menciptakan perasaan nyaman dan percaya diri. Disamping itu juga dapat menciptakan lingkungan paling baik untuk membantu mengubah diri menuju arah yang diinginkan.
e.       Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
Perayaan merupakan ungkapan kegembiraan atas keberhasilan yang diperoleh. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif  denganbelajar.http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/ilmulogika/pendekatan-quantum-teaching)
Rancangan Pembelajaran
            Agar proses pembelajaran dengan model Quantum Teaching ini dapat seefektif mungkin, maka perlu melalui tahapan di bawah ini yang sering dikenal dengan TANDUR yaitu:
a.         Tumbuhkan
Pada langkah ini guru harus menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa dan memberi tahu siswa bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, mengaitkan pelajaran dengan masa depan dan berguna dalam dunia nyata  sehingga mereka tahu apa manfaat dari apa yang sedang mereka pelajari bagi diri mereka, biasanya dikenal dengan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku).
b.        Alami
Guru memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Karena pengalaman membangun keingintahuan siswa dan dapat menciptakan beberapa pertanyaan dalam benak mereka.Saat pengalaman terbentang, guru mengumpulkan informasi untuk memaknai pengalaman tersebut.Informasi ini membuat yang abstrak menjadi konkrit.
c.         Namai.
Setelah membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka, maka penamaan dapat memuaskan keingintahuan siswa.Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan.Penamaan merupakan informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya. Guru menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan sebuah masukan.
d.        Demonstrasikan.
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukan bahwa mereka tahu. (berikan kesempatan bagi mereka untuk mangaitkan pengalaman dengan kata baru sehingga mereka menghayati dan membuat sebagai pengalaman pribadi)
e.         Ulangi.
Siswa diberi kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain. Tentunya dengan menggunakancara yang berbeda dari asalnya. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”.Dan tentunya menunjukan pelajar cara-cara mengulang materi yang telah dibahas.
f.         Rayakan
Pada langkah terakhir ini, saatnya untuk memberikan penghormatan atas usaha, keberhasilan dan ketekunan yang dilakukan dengan perayaan. Hal ini akanmemperkuat kesuksesan dan memberi motivasi siswa. Perayaan disini dapat dilakukan dengan memberikan pujian, bernyanyi, bermain tepuk, pesta kelas dll.
(DePorter Bobby dkk, 2001:88)
     Proses pembelajaran akan semakin sempurna apabila seorang guru menggabungkan model pembelajaran Quantum Teaching dengan pengetahuan yang ia miliki dan ketrampilan-ketrampilan mengajar yang telah dimiliki.
     Kata Quantum adalah mengubah energi menjadi cahaya, maksudnya mengubah kemampuan dan bakat alami siswa agar menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.  Quantum teaching  adalah pengubahan interaksi yang ada dalam dan sekitar momen belajar.
     Hal ini menunjukkan, betapa pembelajaran Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang harus dipelajari siswa.Tetapi lebih jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik ketika belajar. (DePorter Bobby, dkk. 2001 : 5)

Petunjuk Pelaksanaan Quantum Teaching
1.      Guru Wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum).
2.      Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan.  “learning is most effective when it’s fun. ‘ Kegembiraan’ disini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari), dan nilai yang membahagiakan pada diri siswa.
3.      Lingkungan Belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan, yaitu:
a.    Mengatur meja dan kursi diubah dengan berbentuk seperti U atau lingkaran.
b.    Memberi tanaman, hiasan lain di luar maupun di dalam kelas.
c.    Mengecat warna ruangan, meja dan kursi yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas.
d.   Ruangan kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan, kata mutiara pemacu semangat, misalnya kata: “Ingin Pinter? Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kutahu yang ku mau, kerjasama ! Aku pinter, Aku pasti bisa! Semangat!
4.      Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya.  Guru dapat mempengaruhi suasana emosi siswa dengan cara:
a.         Kegiatan-kegiatan pelepas stress seperti menyanyi, energizer, tepuk tangan dan sebagainya.
b.        Aktivitas-aktivitas yang menambah kekompakan seperti melakukan tour, makan bersama dan sebagainya.
c.         Menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan yaitu melalui bimbingan konseling baik oleh petugas BP/BK maupun guru itu sendiri.
5.      Memutar musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Namun sekali-kali akan diputarkan instrumental dan bisa diselingi jenis musik lain untuk bersenang-senang dan jeda dalam pembelajaran.
6.      Sikap Guru Kepada Siswa :
a.    Mengarahkan “apa manfaat materi pelajaran ini bagi siswa” dan tujuan.
b.    Memperlakukan siswa sebagai manusia sederajat.
c.    Selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja siswa.
d.   Memberikan stimulus yang mendorong siswa.
e.    Mendukung siswa 100%  dan ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung.
f.     Memberi peluang siswa untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran.
7.      Menerapkan 8 kunci keunggulan ini ke dalam rencana pelajaran setiap hari.  Mengaitkan kunci-kunci ini dengan kurikulum yaitu:.
a.       Integritas : bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh. Selaraskan nilai-nilai dengan perilaku guru.
b.      Kegagalan awal kesuksesan: pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang anda butuhkan untuk sukses.
c.       Bicaralah dengan niat baik: berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus. Hindari gossip.
d.      Hidup di saat ini: pusatkan perhatian pada saat ini dan kerjakan dengan sebaik-baiknya.
e.       Komitment : penuhi janji dan kewajiban, laksanakan visi dan lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
f.       Tanggung jawab: bertanggung jawablah atas tindakan anda.
g.      Sikap luwes dan fleksibel : bersikaplah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu anda memperoleh hasil yang diinginkan.
h.      Keseimbangan :  jaga keselarasan pikiran, tubuh dan jiwa anda.  Sisihkan waktu untuk membangun dan memelihara 3 bidang ini.
8.      Guru yang seorang quantum teacher mempunyai ciri-ciri dalam berkomunikasi yaitu;
a.       Antusias               : menampilkan semangat untuk hidup.
b.      Berwibawa           : menggerakkan orang.
c.       Positif                   : melihat peluang dalam setiap saat.
d.      Supel                    : mudah menjalin hubungan dengan beragam siswa.
e.       Humoris               : berhati lapang untuk menerima kesalahan serta
mampu membuat suasana kelas selalu ceria.                               
f.       Luwes                  : menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil.
g.      Menerima             : mencari dibalik tindakan dan penampilan luar untuk
menemukannilai-nilai inti.
h.      Fasih                     : berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur.
i.        Tulus                    : memiliki niat dan motivasi positif.
j.        Spontan                : dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil.
k.      Menarik dan tertarik: mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman
hidup siswa dan peduli akan diri siswa
l.        Menganggap siswa “mampu”: percaya akan keberhasilan siswa.
m.    Menetapkan dan memelihara harapan tinggi: membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap siswa untuk berusaha sebaik mungkin.
9.      Semua siswa diusahakan untuk memiliki modul/buku sumber belajar lainnya, dan buku yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Tidak diperkenankan guru mencatat/menyuruh siswa untuk mencatat pelajaran di papan tulis.
10.  Dalam melakukan penilaian guru harus berorientasi pada:
a.       Acuan/patokan. Semua kompetensi harus perlu dinilai sesuai dengan acuan kriteria berdasarkan indikator hasil belajar.
b.      Ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi berikutnya.
c.       Metode penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain test tertulis, observasi, wawancara, portofolio, demonstrasi dan lain-lain.
11.  Kebijakan sekolah dalam KBM yang patut diperhatikan oleh guru adalah sebagai berikut:
a.       Guru wajib mengabsensi siswa setiap masuk kelas.
b.      Masuk kelas dan keluar kelas tepat waktu. Jam pertama misalnya 07.30 dan jam terakhir harus pulang bersama-sama setelah bel berbunyi. Pada jam istirahat tidak diperkenankan ada kegiatan belajar mengajar.
c.       Guru wajib membawa buku absen, daftar nilai, RPP, Program semester, Modul/bahan ajar sejenisnya ketika sedang mengajar.
d.      Selama KBM tidak boleh ada gangguan yang dapat mengganggu konsentrasi siswa. Misalnya guru/peserta berkomitmen bersama untuk tidak mengaktifkan HP ketika PBM berlangsung.
e.       Guru harus mendukung kebijakan sekolah baik yang berlaku untuk dirinya sendiri maupun untuk siswa dan berlaku proaktif.
f.       Untuk pelanggaran oleh siswa maka hukuman dapat ditentukan secara musyawarah bersama siswa, namun untuk pelanggaran kategori berat, sekolah yang menentukan kebijakan sendiri.
12.  Pengalaman belajar hendaknya menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan isi pembelajaran, yaitu:
a.       Terdapat kegiatan membaca, menjelaskan, demonstrasi, praktek, diskusi, kerja kelompok, pengulangan kembali dalam menjelaskan dan cara lain yang bisa ditemukan oleh guru.
b.      Menggunakan spidol warna-warni dalam membantu menjelaskan di papan tulis.
c.       Disarankan menggunakan media pendidikan seperti LCD, Laptop, Internet dll.
d.      Diperbolehkan belajar di luar kelas seperti di bawah pohon, dipinggir jalan.
e.       Siswa belajar: 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan (Magnessen, 1983, dalam  DePorter, 2001:57).  Ini menunjukkan guru mengajar dengan ceramah, maka siswa akan mengingat dan menguasai hanya 20% karena siswa hanya mendengarkan. Sebaliknya jika guru meminta siswa untuk melakukan sesuatu dan melaporkannya maka akan mengingat dan menguasai sebanyak 90%.
13.  Guru harus selalu menghargai setiap usaha dan hasil kerja siswa serta memberikan stimulus yang mendorong siswa untuk berbuat dan berpikir yang kreatif. Ini memungkinkan siswa menjadi pembelajar seumur hidup. Untuk itu, guru bisa menggunakan berbagai metode dan pengalaman belajar melalui contoh yang kontekstual. Setiap kesuksesan dalam belajar siswa layak untuk dirayakan.
14.  Suasana belajar siswa, guru dapat mengarahkan kearah ke ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.  Suasana belajar juga melibatkan mental, fisik, emosi, sosial siswa secara aktif supaya memberi peluang siswa untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi dan sejumlahpenalaran.
(http://tainersclub.or.i/index.php?option=com_content&task=view&id+17&Itemid=46)
3. Minat
            Menurut Slameto (2003:180) minat adalah suatu rasa suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh.  Minat pada dasarnya adalah pemenuhan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri.  Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat.Minat tidak dibawah sejak lahir melainkan diperoleh kemudian.
            Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tariknya.  Jika terdapat siswa yang kurang berminat untuk belajar dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat. Banyak cara untuk menarik minat belajar.  Model Pembelajaran Quantum Teaching salah satu cara yang dapat digunakan untuk menarik minat belajar siswa. Mengembangkan minat kepada sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan diri sendiri sebagai individu.
            Menciptakan minat merupakan cara yang efektif untuk memberikan motivasi pada diri siswa demi mencapai tujuan belajar.  Menumbuhkan AMBAK sama dengan menciptakan dalam apa yang sedang dipelajari dengan menghubungkan dengan dunia nyata terutama dalam situasi belajar. 
            AMBAK adalah motivasi yang didapat dari pemilikan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan. Dengan membuat siswa sadar akan AMBAK maka akan menciptakan minat belajar siswa.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari proses belajar, karena kualitas hasil belajar dipengaruhi oleh proses belajar itu sendiri. Hal senada dikatakan oleh Winkel dalam (Johnson Lauanne 2007 : 59) bahwa proses belajar yang dialami siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman dalam bidang nilai, sikap dan ketrampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dari hasil belajar yang diperoleh siswa terhadap pertanyaan atau tugas yang diberikan guru.Hasil belajar memberi informasi kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam belajar. Berbeda dengan pernyataan Marsun dan Martaniah (dalam Wahyuningsih, 2004) hasil belajar yaitu sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti dengan munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik. Hal ini berarti bahwa hasil belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian.
Belajar menghasilkan suatu perubahan pada siswa, perubahan itu dapat berupa pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan sikap.Perubahan itu merupakan hasil dari usaha belajar yang tersimpan dalam ingatan.
Hal diatas sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2002:174) bahwa hasil belajar dapat meningkatkan kemampuan mental dan pada umumnya meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Selain itu pula Dimyati dan Mudjiono (2002:3) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Menurut Oemar Hamalik (2002:22) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia menerima pengalaman belajar.
Dalam penelitian ini yang dimaksud hasil belajar adalah hasil evaluasi yang diperoleh siswa pada akhir proses pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk skor nilai.
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, hasil belajar merupakan  usaha yang dicapai siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik dalam pembelajaran yang diketahui setelah dilakukan penilaian.

B. Kerangka Berpikir
Text Box: Kemampuan
 














C. Hipotesis
Hipotesis dalam penilaian ini dirumuskan sebagai berikut : “Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengambil rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang lazim dikenal dengan classroom Action Research. Arikunto (2006 : 58) mengemukakan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Sedangkan menurut Sokarno (2009) penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inquiri reflektif yang dilakukan untuk meneliti masalah sosial termasuk pembelajaran. Nur Hidayah (2013 : 7) menambahkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu kegiatan reflektif bagi guru yang dapat dipergunakan untuk peningkatan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Tindakan ini merupakan representasi terhadap perbaikan proses pembelajaran dalam guru melaksanakan tugas yang merupakan salah satu tanggung jawab terhadap peserta didiknya untuk kemajuan pendidikan.Menurut Kemmis dan Tagart (Depdikbud: 1999) PTK dilakukan melalui proses :

1.      Rencana          : tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki,
meningkatkanatau perubahan perilaku dan sikap sebagai
solusi.

2.      Tindakan         : apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya
perbaikan,peningkatan atau perubahan yang diinginkan.

3.      Observasi        : mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang
dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa.
4.      Refleksi           : melihat dan mempertimbangkan atas hasil dampak dari
tindakan dari berbagai kriteria.

5.      Revisi Rencana: berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dan guru dapat
melakukan revisiperbaikan terhadap rencana awal.

a. Rancangan penelitian
Siklus I
 
Pelaksanaan
 
Pengamatan
 
Perencanaan
 
Siklus 2
 
Pengamatan
 
 










(Arikunto, 2007 :16)

b. Tempat dan waktu penelitian
§  Tempat : SMP Advent 2 Sario Manado
§  Waktu penelitian :  Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan







JENIS KEGIATAN
BULAN
September
Oktober
November

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1. Pembuatan Usulan Penelitian









2. Observasi/Pelaksanaan Kegiatan










3. Pengolahan Data










4.  Pembuatan Laporan Hasil
 Penelitian











c. Subjek Penelitian
            Yang menjadi sasaran penelitian ini adalah siswa kelas IX A SMP Advent 2 Sario Manado yang berjumlah 48 siswa.

B.  Teknik Pengumpulan Data
1.      Observasi langsung, yaitu memperoleh data dengan cara mengamati hasil belajar siswa melalui evaluasi yang dilakukan sebelum tahap pertama dan akhir tahap kedua, dengan membandingkan daya serap sebelum dan sesudah tindakan.
2.      Dokumentasi, dengan cara menghimpun semua hasil belajar siswa yang terdokumentasi oleh guru.

C.  Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan rumus persentase dengan rumus sebagai berikut :

P =   X 100%

Keterangan :
P = Persentase (%)
F = Frekwensi yang dicari persentasenya
N = Jumlah siswa
( W. Surachmad, 1999)
























BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A.  Hasil Penelitian.
1.    Perencanaan Penelitian.
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Advent 2 Sario Manado, Kelas IX A dengan jumlah siswa 48 orang.Adapun tindakan yang dilakukan yaitu kegiatan pembelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga Keuangan”dengan menerapkan Pembelajaran Quantum Teaching.
Persiapan
            Tahap persiapan I dilaksanakan sebagai titik tolak pembelajaran untuk mengkonsolidasikan dan membuat komitmen atas peraturan dan konsekuensi yang akan dilaksanakan pada pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
            Adapun langkah-langkah pada perencanaan persiapan guru adalah sebagai berikut:
a.    Mengadakan pertemuan kelas untuk mendiskusikan peraturan saat pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
b.    Membagikan kertas dan meminta kepada siswa menuliskan 5 peraturan yang harus diikuti semua siswa agar pembelajaran tertib dan menyenangkan, baik saat belajar individu maupun belajar kelompok. (dibimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham, supaya waktu lebih efektif)
c.    Membuat daftar peraturan dari semua kertas yang telah ditulis siswa pada papan tulis. Meminta siswa untuk membuang yang tidak perlu, menyusun prioritas peraturan, dan mengkonsolidasikannya dengan seluruh siswa.
d.   Membuat kesepakatan dengan siswa untuk menetapkan peraturan yang telah dipilih dan dipriortaskan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
e.    Mendiskusikan konsekuensi pelanggaran peraturan.  Mendiskusikan alasan-alasan, konsekuensi dan perasaan siswa mengenai konsekuensi tersebut. (di bimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham)
f.     Menuliskan konsekuensi-konsekuensi hasil diskusi tersebut pada papan tulis, dan mengkonsolidasikan dengan seluruh siswa, kemudian membuat kesepakatan.
g.    Membacakan semua peraturan dan konsekuensi pelanggarannya,kemudian meminta seluruh siswa untuk menyepakatinya. Jika ada siswa yang tidak menyepakati, maka diberikan pengertian manfaat displin pada peraturan. Misalnya jika kita melanggar rambu-rambu lalulintas di jalan raya maka kita bisa celaka.
h.    Mengatur meja dan kursi.
i.      Menghiasi ruangan dengan poster icon yang telah dipersiapkan oleh guru untuk menarik perhatian, motivasi, dan menguatkan keyakinan siswa untuk belajar.
j.      Membentuk kelompok.
k.    Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan apa yang telah dipelajari.
l.      Evaluasi
m.  Guru menutup pelajaran.

2.    Implementasi Tindakan
Ø Kegiatan penelitian Putaran Pertama.
Sesuai rencana yang telah disusun serta langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang harus ditempuh, maka dalam penelitian putaran pertama dilakukan kegiatan sebagai berikut:
Langkah pertama   :dimulai dengan mengkondisikan siswa dan kelas menuju pembelajaran   yang kondusif yaitu sebagai berikut:
                                      Guru : Mengucapkan salam dan menanyakan kabar kepada siswa, kemudian guru meminta siswa merapikan posisi bangku dan posisi duduk setiap kelompok. Apa kabar hari ini? Anak-anakku bolehkah ibu meminta tolong?Agar belajar kita lebih menyenangkan, tolong rapihkan bangku dan posisi duduk tiap kelompok.
                                      Pengecekan kehadiran siswa.
Langkah kedua             :guru menjelaskan bagaimana siswa belajar dengan baik secara individual/kelompok sesuai dengan peraturan dan konsekuensi yang telah disepakati bersama.
Langkah ketiga             :Guru melakukan apersepsi: Tanya jawab mengenai uang, bank, tabungan dan manfaat dari menabung.
            Pada saat apersepsi siswa sudah mulai fokus pada apa yang akan dipelajari. Untuk menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri siswa.
Langkah keempat         :Guru menyampaikan tujuan dan manfaat mempelajari materi “Uang dan Lembaga Keuangan”. Dimana siswa mampu mendefinisikan serta menjelaskan tentang uang dan lembaga keuangan.
Langkah kelima            :Guru menyampaikan informasi singkat tentang materi pelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga Keuangan” (alami dan namai)
Langkah keenam           :Guru membimbing siswa untuk menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide/gagasan.
Langkah ketujuh           :Guru mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari melalui pertanyaan.
Langkah kedelapan       :diberikan evaluasi melalui pemberian soal.
Langkah kesembilan     :guru menutup pelajaran.

3.    Analisis dan Evaluasi
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tindakan yang telah dilakukan guru dalam penerapan model pembelajaran Quantum Teaching ternyata guru telah mengadakan tindakan di kelas sesuai dengan rencana yang telah disusun, namun demikian masih terdapat kekurangan pada pelaksanaan pembelajaran dari enam rancangan Quantum Teaching yang telah diterapkan, tiga rancangan pembelajaran Quantum teaching (demonstrasikan, ulangi, rayakan) belum diterapkan sesuai dengan target yang ditentukan. Hal  ini secara jelas tampak pada hasil tes yang dicapai siswa.

Hasil tes yang dicapai siswa pada putaran pertama secara lengkap sebagai berikut:
Tabel I Hasil tes evaluasi putaran I

No
SISWA
NILAI TES
KETUNTASAN
1
n1
69
Tidak Tuntas
2
n2
74
Tuntas
3
n3
84
Tuntas
4
n4
88
Tuntas
5
n5
85
Tuntas
6
n6
90
Tuntas
7
n7
85
Tuntas
8
n8
60
Tidak Tuntas
9
n9
78
Tuntas
10
n10
80
Tuntas
11
n11
87
Tuntas
12
n12
50
Tidak Tuntas
13
n13
85
Tuntas
14
n14
83
Tuntas
15
n15
77
Tuntas
16
n16
44
Tidak Tuntas
17
n17
86
Tuntas
18
n18
52
Tidak Tuntas
19
n19
65
Tidak Tuntas
20
n20
66
Tidak Tuntas
21
n21
76
Tuntas
22
n22
54
Tidak Tuntas
23
n23
65
Tidak Tuntas
24
n24
40
Tidak Tuntas
25
n25
69
Tidak Tuntas
26
n26
74
Tuntas
27
n27
80
Tuntas
28
n28
70
Tuntas
29
n29
65
Tidak Tuntas
30
n30
80
Tuntas
31
n31
50
Tidak Tuntas
32
n32
82
Tuntas
33
n33
60
Tidak Tuntas
34
n34
40
Tidak Tuntas
35
n35
50
Tidak Tuntas
36
n36
53
Tidak Tuntas
37
n37
50
Tidak Tuntas
38
n38
55
Tidak Tuntas
39
n39
60
Tidak Tuntas
40
n40
55
Tidak Tuntas
41
n41
65
Tidak Tuntas
42
n42
64
Tidak Tuntas
43
n43
50
Tidak Tuntas
44
n44
53
Tidak Tuntas
45
n45
55
Tidak Tuntas
46
n46
40
Tidak Tuntas
47
n47
42
Tidak Tuntas
48
n48
46
Tidak Tuntas

Jumlah
3131


Rata-rata
65.2


Rekapitulasi hasil tes siklus I

Capaian
jumlah
%
Tuntas
19
39.6%
Tak tuntas
29
60.4%

            Setelah melihat hasil evaluasi dari 48 siswa, dimana rentang nilai yang diperoleh setiap siswa berada pada rentangan nilai 40 sampai 69 dari rentang nilai yang diperoleh itu ada 29 orang yang tidak tuntas belajar, sebab kriteria tuntas belajar adalah 70 dan tuntas belajar hanya 19 orang, yaitu siswa yang mendapatkan nilai antara 70 sampai 90. Selanjutnya secara klasikal karena yang tuntas belajar hanya 19 orang atau 39.6% dari jumlah siswa di kelas maka itu berarti belum mencapai ketuntasan belajar.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi terhadap kegiatan penelitian putaran pertama, maka dianggap perlu dilakukan kajian ulang adalah :
1.)      Pada pelaksanaan pembelajaran, guru mengupayakan penerapan rancangan pembelajaran Quantum Teaching sesuai dengan yang ditargetkan.
2.)  Pada evaluasi pembelajaran, guru melaksanakan penilaian sesuai dengan kemampuan siswa, dan memberikan penghargaan berupa (kata – kata afirmasi) pada setiap lembar evaluasi siswa. Dengan demikian maka penelitian ini perlu dilanjutkan pada putaran berikutnya yaitu penelitian putaran kedua.


›   Kegiatan Penelitian Putaran Kedua
Penelitian putaran kedua ini dilakukan dengan memperhatikan hal – hal yang harus diperbaiki sebagai kekurangan pada pelaksanaan putaran pertama.Dan dilakukan sesuai dengan Satuan Pembelajaran. Guru mengupayakan penerapan enam rancangan pembelajaran Quantum Teaching sesuai dengan yang ditargetkan dalam kegiatan pembelajaran IPS dengan materi “ Uang dan Lembaga Keuangan” dan guru melaksanakan penilaian sesuai kemampuan siswa, dan memberikan penghargaan (berupa kata-kata afirmasi) pada setiap lembar evaluasi siswa. Pada akhir kegiatan pembelajaran diadakan tes, dan hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel II Hasil tes evaluasi putaran II
No
SISWA
NILAI TES
KETUNTASAN
1
n1
73
Tuntas
2
n2
78
Tuntas
3
n3
71
Tuntas
4
n4
85
Tuntas
5
n5
90
Tuntas
6
n6
88
Tuntas
7
n7
89
Tuntas
8
n8
78
Tuntas
9
n9
65
Tidak Tuntas
10
n10
76
Tuntas
11
n11
77
Tuntas
12
n12
79
Tuntas
13
n13
73
Tuntas
14
n14
74
Tuntas
15
n15
77
Tuntas
16
n16
79
Tuntas
17
n17
84
Tuntas
18
n18
86
Tuntas
19
n19
89
Tuntas
20
n20
85
Tuntas
21
n21
90
Tuntas
22
n22
76
Tuntas
23
n23
73
Tuntas
24
n24
77
Tuntas
25
n25
74
Tuntas
26
n26
88
Tuntas
27
n27
89
Tuntas
28
n28
83
Tuntas
29
n29
60
Tidak Tuntas
30
n30
87
Tuntas
31
n31
82
Tuntas
32
n32
80
Tuntas
33
n33
80
Tuntas
34
n34
89
Tuntas
35
n35
76
Tuntas
36
n36
86
Tuntas
37
n37
89
Tuntas
38
n38
78
Tuntas
39
n39
76
Tuntas
40
n40
74
Tuntas
41
n41
84
Tuntas
42
n42
86
Tuntas
43
n43
63
Tidak Tuntas
44
n44
78
Tuntas
45
n45
87
Tuntas
46
n46
76
Tuntas
47
n47
88
Tuntas
48
n48
85
Tuntas

Jumlah
3850


Rata-rata
80.2


Rekapitulasi hasil tes siklus II

Capaian
jumlah
%
Tuntas
45
93.75%
Tak tuntas
3
6.25%

Setelah melihat hasil evaluasi kelas IX A dengan jumlah siswa 48, pada putaran II memperoleh peningkatan dengan nilai rata-rata yang diperoleh di kelas adalah 80.2
            Berdasarkan tabel II tersebut, nampak bahwa kelompok siswa yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 45 siswa (93,75%). Berdasarkan pada kriteria keberhasilan penelitian yang ditetapkan diatas, apabila 85% dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat nilai ≥70 maka secara kelompoktelah tercapai ketuntasan belajar.Oleh karena itu, dikaitkan dengan kriteria ketuntasan belajar tersebut, maka hasil penelitian ini ternyata telah memenuhi kriteria tersebut.Dengan demikian maka dapat disimpulkan dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teachingdapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS berdasarkan kriteria ketuntasan belajar.Sedangkan siswa yang tidak tuntas nilainya, yang berjumlah 3 orang atau 6.25% dilakukan perbaikan-pengayaan.
4.    Monitoring Penelitian.
Dalam kegiatan penelitian ini, maka peneliti bersama seorang guru IPS telah bersama-sama berupaya untuk memantau pelaksanaannya mulai dari persiapan sampai pelaksanaan di kelas bahkan dalam melakukan refleksi untuk mengevaluasi dan menganalisis keseluruhan tindakan yang telah dilakukan dan hasil yang di peroleh serta pertimbangan dan usulan perbaikan dan peningkatan.
Dengan demikian tujuan utama pelaksanaan kegiatan pemantauan ini yaitu ditujukan untuk mengawasi objektivitas pelaksanaan seluruh kegiatan penelitian sebagaimana yang telah dirancang.Selanjutnya hasil pengamatan terhadap seluruh pelaksanaan penelitian ini sekaligus juga dijadikan sebagai bahan refleksi untuk menganalisis tindakan guru dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPS.

5.    Refleksi Hasil Penelitian.
Penelitian ini dilakukan selama 2 putaran untuk mengetahui efektifitas penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dalam meningkatkan hasil belajar pelajaran IPS pada siswa.Sehingga pada langkah-langkah dengan penerapan Quantum Teaching yang telah direncanakan dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran hasilnya dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS.
Penelitian tindakan dalam penerapan model Quantum Teaching (sebagai tindakan) pada siswa kelas IX A SMP Advent 2 Sario Manado menghasilkan bahwa kelompok siswa yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 45 siswa (93.75%), sedangkan sebanyak 3 orang siswa (6.25%) mendapat nilai ˂ 70. Berdasarkan pada kriteria keberhasilan penelitian ini bahwa 85% dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat ≥7,0 maka secara kelompok telah tercapai ketuntasan belajar. Oleh karena itu, dikaitkan dengan ketuntasan belajar tersebut maka hasil penelitian ini telah memenuhi kriteria.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaranQuantum Teaching pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan kriteria ketuntasan belajar.
BAB V
P E N U T U P
A.  KESIMPULAN.
Berdasarkan atas hasil penelitian tindakan kelas di kelas IX SMP  Advent 2 Sario Manado, maka dikemukakan beberapa kesimpulan:
1.      Penerapan model Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX pada mata pelajaran IPS dengan materi “Lembaga Keuangan”.
2.      Model Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembalajaran IPS.
3.      Model Pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan kerjasama diantara kelompok maupun individu, sekaligus dapat meningkatkan wawasan pengetahuan siswa pada materi yang diajarkan guru di dalam kelas.

B.  Saran
1.      Diharapkan dalam proses belajar mengajar menerapkan model Quantum Teaching karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Guru dalam penerapan Quantum Teaching memperhatikan setiap langkah-langkahnya agar supaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3.      Guru yang menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching harus mendorong siswa agar aktif dalam berdiskusi.








DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman, M.Pd. Dr. 2010.Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Arikunto.W.S.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
------------------2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
------------------2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Depdikbud, 2001.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdikbud.
DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie. 2001. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Gulo, W.2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Hamalik Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar, Prof. Dr. 2011.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara (cetakan kedua belas)
Hidayah Nur, 2013. Panduan Praktis Penyusunan dan Pelaporan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Kasbolah, Kasihani. (1998/1999).Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Depdikbud.
Muktamar, dan Rusmini.2003. Pengajaran Remidial Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta: Fifa Mulia Sejahtera.
Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sagala, Syaiful. (2009). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sardiman, A. M. 2003. Interaksi dan Motivasi yang mempengaruhinya. Jakarta: Grafindo Persada
Sardiman.2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Sudjana Nana, Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Sukarno, 2009.Penelitian Tindakan Kelas. Surakarta: Media Perkasa.
Taufiq, Agus, Puji Lestari Prianto, dan Hera Lestari Mikarsa. 2011. Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif : Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Tursan Hakim, 2002. Belajar Secara Efektif. Jakarta: Puspa Swara.
Winkel, W.S.2004. Psikologi Pengajaran. Jogjakarta: Media Abadi.


              ABSTRAK
           
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING
DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN IPS DI SMP ADVENT 2 SARIO MANADO

Nama               : Siske Silvana Laloan
Email               : siskelaloan@gmail.com

Sem S. Dehoop
                Sjeddie R. Watung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
          FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MANADO

Penelitian ini di adakan dengan tujuan, untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran quantum teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX di SMP Advent 2 Sario Manado atau tidak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengambil rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilakukan melalui 5 tahapan, yaitu : tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, tahap refleksi dan terakhir yaitu tahap revisi rencana. Subjek penelitian adalah siswa kelas IXa SMP Advent 2 Sario Manado, dengan jumlah siswa 48 orang.
Untuk menguji hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan teknik tes.Teknik tes diberikan pada akhir pembelajaran. Untuk hasil belajar siswa pada putaran pertama nilai rata – rata siswa 39.6 %, sedangkan nilai rata –rata siswa pada putaran kedua adalah 93.75  %. Dari hasil tersebut maka nilai yang diperoleh siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).Berdasarkan pada hasil analisis data penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran quantum teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IXa di SMP Advent 2 Sario Manado.


Kata Kunci : Model Pembelajaran Quantum Teaching, Hasil Belajar Siswa

                                                                             


PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting dan berlangsung sepanjang masa.Pendidikan pada dasarnya dapat membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas baik bagi diri sendiri, bangsa, dan negara sehingga mampu bersaing dan berkompetisi dengan negara lain. Dengan demikian, pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing disamping memiliki budi pekerti luhur dan moral yang baik.
Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia tidak terlepas dari pembelajaran yang berkualitas.Seorang guru harus jeli menentukan model pembelajaran yang tepat yang dapat menumbuhkan minat dan dapat meningkatkan motifasi belajar dan membuat siswa merasa belajar itu penting  dan bermanfaat bagi dirinya.
Sekolah lanjutan pertama (SMP) merupakan salah satu lembaga pendidikan dasar, karena itu diharapkan output SMP benar – benar berkualitas sehingga siswa dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu, diharapkan guru yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan, dituntut kesadaran serta kemampuan untuk melaksanakan tugas pendidikan dengan sebaik – baiknya agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Saat ini dunia pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta yang harus dihafal.Kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama dalam strategi pembelajaran.
Itulah kenyataan yang dihadapi oleh sebagian besar guru IPS di Sekolah Lanjutan Pertama (SMP). Materi pelajaran yang kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang mudah tapi susah, bersifat hafalan dan membosankan, sehingga menyebabkan rendahnya perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, ditambah dengan strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.
Dalam kegiatan belajar mengajar, sering guru tidak sadar apakah cara mengajarnya dapat menciptakan minat belajar siswa atau tidak.  Sering guru tidak melihat pentingnya hubungan dinamis dalam lingkungan kelas dan tidak dapat membuat siswa merasa bahwa belajar itu penting dan bermanfaat bagi mereka.  Sebagai dampak dari ketidaktepatan cara mengajar, maka akan menimbulkan siswa merasa bosan dan kurang bergairah dan akhirnya tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai dengan baik.  Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut guru seharusnya jeli ketika menetapkan metode mengajar yang tepat dengan situasi kelas
Kondisi yang demikian terjadi pula di  SMP Advent 2 Sario Manado. Hasil belajar siswa kelas IX A terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih rendah karena nilai  ulangan semester mereka tidak sampai  60%.  Hal itu menandakan bahwa pembelajaran IPS kurang menarik, karena guru masih  menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang siswa untuk belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih menekankan pada aspek pengetahuan saja, belum menyentuh pada sikap dan kreatifitas siswa, karena guru kurang melibatkan siswa agar aktif dalam proses pembelajaran.
Penyebab mengapa hasil belajar siswa rendah, diduga antara lain karena siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas rumah ( PR ), minat baca siswa rendah, dan tidak mau bertanya pada saat proses kegiatan belajar mengajar walaupun  belum mengerti karena guru masih menggunakan metode ceramah yang kurang melibatkan siswa untuk aktif dalam pelajaran, sehingga materi pelajaran menjadi kurang menarik yang mengakibatkan  rendahnya hasil belajar siswa  khususnya untuk mata pelajaran IPS kelas IX A yang berjumlah 48 siswa, dimana rata-rata siswa yang mempunyai hasil belajar rendah yaitu nilai 6,0 sebanyak 6 orang atau 12,5%, yang mempunyai hasil belajar 6,4 sebanyak 25 orang atau 52,08% sedangkan nilai 7,2 sebanyak 17 orang atau 35,42%. Dari nilai tersebut dapat dilihat bahwa hasil belajar belum maksimal. Sementara standarisasi capaian nilai yang diharapkan menurut Muktamar dan Rusmini adalah 7,5 sampai dengan 9 atau 75% - 90% telah menguasai materi pelajaran yang diajarkan (Muktamar dan Rusmini, 2003 : 13).
Berdasarkan hal tersebut diatas,terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas IXa SMP Advent 2 Sario Manado belum optimal,maka perlu diadakan pembaharuan dalam model pembelajaran yang digunakan guru saat proses pembelajaran agar tercipta suasana belajar yang kondusif dan interaktif serta memberikan ruang kepada siswa untuk ikut berperan aktif membangun pengetahuannya. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dipikirkan bagaimana merancang suatu pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan-permasalah yang ada di kelas tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dipandang dapat mengatasi permasalahan tersebut di atas adalah model Quantum Teaching.Quantum Teaching mengupayakan belajar yang meriah dan menyenangkan dengan segala nuansanya dengan menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar.Quantum Teaching bersandar pada konsep “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka” (DePorter, 2001 : 7). Hal ini menunjukan, betapa pembelajaran dengan Quantum Teaching bukan hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa, tetapi lebih jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik antara guru dan siswa.
Masalah yang menjadi perhatian yaitu masih kurangnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Faktor – faktor yang menyebabkan kurangnya hasil belajar dididentifikasi sebagai berikut : 1. Rendahnya hasil belajar siswa, 2. Kurangnya minat belajar siswa, 3. Kemampuan guru dalam memilih metode yang efektif masih kurang maksimal dan 4. Kreativitas belajar siswa masih kurang.






METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengambil rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang lazim dikenal dengan classroom ActionResearch. Arikunto (2006 : 58) mengemukakan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Sedangkan menurut Sukarno (2009) penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inquiri reflektif yang dilakukan untuk meneliti masalah sosial termasuk pembelajaran. Nur Hidayah (2013 : 7) menambahkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu kegiatan reflektif bagi guru yang dapat dipergunakan untuk peningkatan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Tindakan ini merupakan representasi terhadap perbaikan proses pembelajaran dalam guru melaksanakan tugas yang merupakan salah satu tanggung jawab terhadap peserta didiknya untuk kemajuan pendidikan. Menurut Kemmis dan Tagart (Depdikbud: 1999) PTK dilakukan melalui proses : 1.tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan perilaku dan sikap sebagai solusi. 2. Tindakan : apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan. 3. Observasi : mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. 4. Refleksi : melihat dan mempertimbangkan atas hasil dampak dari tindakan dari berbagai kriteria. 5. Revisi Rencana : berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dan guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal.














Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas


Siklus I
 
Pelaksanaan
 
Pengamatan
 
Perencanaan
 
Siklus 2
 
Pengamatan
 
 









(Arikunto, 2007 :16)
Gambar 1 : Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Tempat dan Waktu Penelitian.Penelitian ini dilaksanakan di SMP Advent 2 Sario Manado, yang menjadi sasaran penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX.Waktu penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan dimulai dari bulan September sampai bulan November 2014.
Teknik Pengumpulan Data, untuk mendapatkan data yang akurat di dalam penelitian ini, maka data dikumpulkan melalui Teknik Observasi Langsung dan Teknik Dokumentasi. Teknik Observasi Langsung yaitu memperoleh data dengan cara mengamati hasil belajar siswa melalui evaluasi yang dilakukan sebelum tahap pertama dan akhir tahap kedua, dengan membandingksn daya serap sebelum dan sesudah tindakan. Sedangkan Teknik Dokumentasi, dengan cara menghimpun semua hasil belajar siswa yang terdokumentasi oleh guru.
Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan rumus persentase dengan rumus sebagai berikut :


P =   X 100%



Keterangan :
P = Persentase (%)
F = Frekwensi yang dicari persentasenya
N = Jumlah siswa
( W. Surachmad, 1999)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Advent 2 Sario Manado, Kelas IX A dengan jumlah siswa 48 orang.Adapun tindakan yang dilakukan yaitu kegiatan pembelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga Keuangan” dengan menerapkan Pembelajaran Quantum Teaching.
Tahap persiapan I dilaksanakan sebagai titik tolak pembelajaran untuk mengkonsolidasikan dan membuat komitmen atas peraturan dan konsekuensi yang akan dilaksanakan pada pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
            Adapun langkah-langkah pada perencanaan persiapan guru adalah sebagai berikut:
a.    Mengadakan pertemuan kelas untuk mendiskusikan peraturan saat pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
b.    Membagikan kertas dan meminta kepada siswa menuliskan 5 peraturan yang harus diikuti semua siswa agar pembelajaran tertib dan menyenangkan, baik saat belajar individu maupun belajar kelompok. (dibimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham, supaya waktu lebih efektif)
c.    Membuat daftar peraturan dari semua kertas yang telah ditulis siswa pada papan tulis. Meminta siswa untuk membuang yang tidak perlu, menyusun prioritas peraturan, dan mengkonsolidasikannya dengan seluruh siswa.
d.   Membuat kesepakatan dengan siswa untuk menetapkan peraturan yang telah dipilih dan dipriortaskan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran IPS tentang “Uang dan Lembaga Keuangan”.
e.    Mendiskusikan konsekuensi pelanggaran peraturan.  Mendiskusikan alasan-alasan, konsekuensi dan perasaan siswa mengenai konsekuensi tersebut. (di bimbing dan diarahkan guru jika siswa belum paham)
f.     Menuliskan konsekuensi-konsekuensi hasil diskusi tersebut pada papan tulis, dan mengkonsolidasikan dengan seluruh siswa, kemudian membuat kesepakatan.
g.    Membacakan semua peraturan dan konsekuensi pelanggarannya,kemudian meminta seluruh siswa untuk menyepakatinya. Jika ada siswa yang tidak menyepakati, maka diberikan pengertian manfaat displin pada peraturan. Misalnya jika kita melanggar rambu-rambu lalu lintas di jalan raya maka kita bisa celaka.
h.    Mengatur meja dan kursi.
i.      Menghiasi ruangan dengan poster icon yang telah dipersiapkan oleh guru untuk menarik perhatian, motivasi, dan menguatkan keyakinan siswa untuk belajar.
j.      Membentuk kelompok.
k.    Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan apa yang telah dipelajari.
l.      Evaluasi
m.  Guru menutup pelajaran.

Tahap Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Putaran Pertama. Sesuai rencana yang telah disusun serta langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang harus ditempuh, maka dalam penelitian putaran pertama dilakukan kegiatan sebagai berikut: Langkah pertama : dimulai dengan mengkondisikan siswa dan kelas menuju pembelajaran   yang kondusif yaitu sebagai berikut: peneliti : mengucapkan salam dan menanyakan kabar kepada siswa, kemudian peneliti meminta siswa merapikan posisi bangku dan posisi duduk setiap kelompok. Apa kabar hari ini? Anak-anakku bolehkah ibu meminta tolong?Agar belajar kita lebih menyenangkan, tolong rapihkan bangku dan posisi duduk tiap kelompok.Pengecekan kehadiran siswa. Langkah kedua       : peneliti menjelaskan bagaimana siswa belajar dengan baik secara individual/kelompok sesuai dengan peraturan dan konsekuensi yang telah disepakati bersama. Langkah ketiga : peneliti melakukan apersepsi: Tanya jawab mengenai uang, bank, tabungan dan manfaat dari menabung. Pada saat apersepsi siswa sudah mulai fokus pada apa yang akan dipelajari. Untuk menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri siswa. Langkah keempat      : peneliti menyampaikan tujuan dan manfaat mempelajari materi Uang dan Lembaga Keuangan. Dimana siswa mampu mendefinisikan serta menjelaskan tentang uang dan lembaga keuangan. Langkah kelima     : peneliti menyampaikan informasi singkat tentang materi pelajaran dengan pokok bahasan “Uang dan Lembaga Keuangan” (alami dan namai) Langkah keenam        : peneliti membimbing siswa untuk menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide/gagasan. Langkah ketujuh      : Peneliti mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari melalui pertanyaan.Langkah kedelapan  :diberikan evaluasi melalui pemberian soal. Langkah kesembilan : peneliti menutup pelajaran.
Tahap pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap tindakan yang telah dilakukan guru dalam penerapan model pembelajaran Quantum Teaching ternyata guru telah mengadakan tindakan di kelas sesuai dengan rencana yang telah disusun, namun demikian masih terdapat kekurangan pada pelaksanaan pembelajaran dari enam rancangan Quantum Teaching yang telah diterapkan, tiga rancangan pembelajaran Quantum teaching (demonstrasikan, ulangi, rayakan) belum diterapkan sesuai dengan target yang ditentukan. Hal  ini secara jelas tampak pada hasil tes yang dicapai siswa.



Tabel 1. Rekapitulasi hasil tes siklus I

Capaian
Rentang Nilai
Jumlah
%
Tuntas
70 – 90
19
39.6%
Tak Tuntas
40 -  69
29
60.4%


Setelah melihat hasil evaluasi dari 48 siswa, dimana rentang nilai yang diperoleh setiap siswa berada pada rentangan nilai 40 sampai 69 dari rentang nilai yang diperoleh itu ada 29 orang yang tidak tuntas belajar, sebab kriteria tuntas belajar adalah 70 dan tuntas belajar hanya 19 orang, yaitu siswa yang mendapatkan nilai antara 70 sampai 90. Selanjutnya secara klasikal karena yang tuntas belajar hanya 19 orang atau 39.6% dari jumlah siswa di kelas maka itu berarti belum mencapai ketuntasan belajar, sehingga perlu dilakukan kajian dan dilakukan pengajaran ulang, yakni untuk menghilangkan kelemahan yang dilakukan pada putaran pertama, dan pada pelaksanaan pembelajaran. Peneliti perlu melaksanakan penilaian sesuai dengan kemampuan siswa, dan memperhatikan tahapan model yang digunakan.Dengan demikian maka penelitian perlu dilanjutkan pada putaran berikutnya, yaitu putaran kedua.
Penelitian putaran kedua ini dilakukan dengan memperhatikan hal – hal yang harus diperbaiki sebagai kekurangan pada pelaksanaan putaran pertama.Dan dilakukan sesuai dengan Satuan Pembelajaran. Guru mengupayakan penerapan enam rancangan pembelajaran Quantum Teaching sesuai dengan yang ditargetkan dalam kegiatan pembelajaran IPS dengan materi “ Uang dan Lembaga Keuangan” dan guru melaksanakan penilaian sesuai kemampuan siswa, dan memberikan penghargaan (berupa kata-kata afirmasi) pada setiap lembar evaluasi siswa. Pada akhir kegiatan pembelajaran diadakan tes, dan hasilnya adalah sebagai berikut :


Tabel 2. Rekapitulasi hasil tes siklus II

Capaian
Rentang Nilai
Jumlah
%
Tuntas
70 – 90
45
93.75%
Tak Tuntas
60 -  65
3
6.25%

Berdasarkan pada kriteria keberhasilan penelitian yang ditetapkan diatas, apabila 85% dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat nilai ≥70 maka secara kelompok telah tercapai ketuntasan belajar.Oleh karena itu, dikaitkan dengan kriteria ketuntasan belajar tersebut, maka hasil penelitian ini ternyata telah memenuhi kriteria tersebut.Dengan demikian maka dapat disimpulkan dengan penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS berdasarkan kriteria ketuntasan belajar.Sedangkan siswa yang tidak tuntas nilainya, yang berjumlah 3 orang atau 6.25% dilakukan perbaikan-pengayaan.
Dalam kegiatan penelitian ini, maka peneliti bersama seorang guru IPS telah bersama-sama berupaya untuk memantau pelaksanaannya mulai dari persiapan sampai pelaksanaan di kelas bahkan dalam melakukan refleksi untuk mengevaluasi dan menganalisis keseluruhan tindakan yang telah dilakukan dan hasil yang di peroleh serta pertimbangan dan usulan perbaikan dan peningkatan.
Pelaksanaan kegiatan pemantauan ini yaitu ditujukan untuk mengawasi objektivitas pelaksanaan seluruh kegiatan penelitian sebagaimana yang telah dirancang.Selanjutnya hasil pengamatan terhadap seluruh pelaksanaan penelitian ini sekaligus juga dijadikan sebagai bahan refleksi untuk menganalisis tindakan guru dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPS.
Ternyata pada langkah – langkah dengan penerapan quantum teaching yang telah direncanakan dan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran hasilnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
Berdasarkan pada kriteria ketuntasan yang ditetapkan dalam penelitian ini bahwa apabila 85% dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran telah mendapat ≥7,0 maka secara kelompok telah tercapai ketuntasan belajar. Oleh karena itu, dikaitkan dengan ketuntasan belajar tersebut maka hasil penelitian ini telah memenuhi kriteria, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Quantum Teaching pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan kriteria ketuntasan belajar.









KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan atas hasil penelitian tindakan kelas di kelas IX SMP  Advent 2 Sario Manado, maka dikemukakan beberapa kesimpulan: 1. Penerapan model Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX pada mata pelajaran IPS dengan materi “Uang dan Lembaga Keuangan”. 2. Model Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembalajaran IPS. 3. Model Pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan kerjasama diantara kelompok maupun individu, sekaligus dapat meningkatkan wawasan pengetahuan siswa pada materi yang diajarkan guru di dalam kelas.

Adapun saran – saran yang dikemukakan adalah : 1. Diharapkan dalam proses belajar mengajar menerapkan model Quantum Teaching karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Guru dalam penerapan Quantum Teaching memperhatikan setiap langkah-langkahnya agar supaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Guru yang menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching harus mendorong siswa agar aktif dalam berdiskusi.


















DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 2007, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto Suharsimi, 2006, Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdikbud, 2001, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdikbud
DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie. 2001. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
Hidayah Nur, 2013, Panduan Praktis Penyusunan dan Pelaporan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Muktamar, dan Rusmini.2003.Pengajaran Remidial Teori dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta: Fifa Mulia Sejahtera.
Sukarno, 2009, Penelitian Tindakan Kelas.Surakarta: Media Perkasa.